Mohon tunggu...
Christie Damayanti
Christie Damayanti Mohon Tunggu... Just a survivor

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', author, traveller, motivator, philatelist, also as Jesus's belonging. http://christiesuharto.com http://www.youtube.com/christievalentino http://charity.christiesuharto.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sebenarnya, Bagaimana Standardisasi [Minimal] untuk "Toilet Disabled?"

19 September 2017   13:44 Diperbarui: 19 September 2017   13:58 0 1 0 Mohon Tunggu...
Sebenarnya, Bagaimana Standardisasi [Minimal] untuk "Toilet Disabled?"
www.disabilityhorizons.com

Sepertinya, tolet adalah "hal remeh temeh", apalagi untuk penyandang disabilitas. Seringkali, justru toilet umum, sangat tidak mendapat perhatian, dianggapnya toilet adalah tempat yang 'kotor', menjijikan dan tidak memiliki 'nilai jual'. Tetapi toilet sangat dibutuhkan oleh manusia.

Lama kelamaan, toilet berubah fungsinya. Dari sekedar buang hajat, di beberapa negara maju, toilet merupakan 'tempat keluarga', dengan kursi2 yang nyaman, kaca besar serta tempat berdandan. Itu ada di Amerika dan Eropa, seperti juga di ruamh adikku di Irving, Dallas.

Juga di ruang public, terutama di mall2 baru. Toilet semakin cantik, dengan kaca2nya serta jenis sanitary, sesuai dengan perkembangan jaman. Bahkan toilet2 di mall besar, menjadi icon cantik, dengan desain2 khas nya.

Lalu, bagaimana dengan toilet khusus untuk penyandang disabilitas?

Yang dimaksudkan toilet penyandang disabilitas, memang hanya pemakai kursi roda, karea penyandang disabilitas bukan pemakan kursi roda, bisa bercampur dengan masyarakat umum, kecuali memang mereka ingin memakai toilet disabled.

Seperti yang aku tuliskan tentang 'toilet disabled', di link dibawah ini - Tolong Pedulikan Kami: Adakah yang Tahu dan Peduli dengan 'Toilet Disabled?' -, toilet disabled khususnya di Indonesia masih sangat terabaikan. Bahkan di mall2 besar yang sudah ada toilet disabled nya pun, tidak sesuai dengan standradisasi.

Misalnya,

  • Dimensi atau ukuran ruangnya, hanya sekedar lebih besar daritoilet umum masyarakat umum. Sehingga, kursi roda hanya sekedar bisa masuk, ituoun dengan susah payah, dan pintu akhirnya tidak bisa ditutup, karena bukaan pintu ke dalam.
  • Railing yang ada hanya 1 atau 2 saja, itupun tidak sesuai kebutuhan. Kecil dan pendek. Ditambah lagi, railing tanam yang ada BIASANYA tidak tertanam dengagn baik, sehingga raiing bergoyang. Dimana pasti membahayakan bagi yang memegangnya!
  • Karena warga Indonesia memang belum peduli tentang banyak hal, termasuk toilet disabled, pintu toilet disabled itu biasanya dikunci oleh petugas, tetapi mereka tidak stand-by yang mengakibatkan kita susah untuk mendapatkan kunci tersebut!
  • Fasilitas toilet disabled pun tidak sering diperhatikan. Tissue habis, sabun tidak ada bahkan kadang kala di toilet disabled tidak ada air!
  • Jika posisi dan lokasi toilet disabled dekat dengagn toilet umum, SEHARUSNYA ada space untuk maneuver kursi roda. Realitasnya adalah, kursi roda sangat susah masuk kesana. Akibatnya, sang penyandang disabilitas justru harus beranjak dari kursi rodanya, dipapah oleh keluarganya, dengan susah payah!Ketika beberapa developer sudah mulai peduli tentang posisi, lokasi atau kebutuhan toilet disabled, tetapi petugas yang memeliharanya tidak 'care', ya ... sama saja bohong, bukan? Perbaikan2 yang perlu, jystru tidak dianggap perlu. "Ah ... gampang! Nanti saja!"Sebenarnya, bagaimana standardisasi untuk toilet disabled?Peraturan Kepmen PU No.486 tahun 1998, dijelaskan tentang detail toilet untuk penyandang disabilitas, salah satunya,Esensi dan persyaratanBahwa kebutuhan sanitasi adalah untuk semua orang, baik yang sehat juga penyandang disabilitas. Sedangkan penyandang disabilitas itu bisa memang seseorng yang 'cacat', lanjut usia, ibu2 hamil, anak2 dan bayi. Dimana semuanya benar2 merupakan dasar dari esensi sebuah toilet.
    http://resco.co.nz
    http://resco.co.nz
    Contoh denah standar untuk toilet disabled. Pintu terbuka keluaar. Handrail standar yang harus ada, posisi tata letak barang2 sanitary dan ukuran2nya yang sangat standard. Jika sudah dilengkapi dengan standisasi yang seperti ini, setidaknya kita sudah mempunyai ruang public toilet disabled yang 'ramah'.***Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang, harus dilengkapi dengagn  tampilan symbol dan rambu2, dengan sistim cetak timbul, termasuk toilet untuk penyandang disabilitas. Untuk disabilitas netra, di ruang public harus ditambahkan dengagn huruf Braille, yang pemasangannya didampingi oleh penterjemah huruf Braille.

  • Di suatu ruang public, pernah terjadi pemasangan huruf Braille yang terbalik, sehingga disabilitas netra tidak bisa membacanya, akibatnya dia tidak bis mendapatkan haknya sebagai salah satu warga negara. Jadi, hati2 dengan pemasangan huruf Braille, karena dengagn pemasangan yang salah, akhirnya huruf itu tidak ada artinya.Lalu, untuk pemakai kursi roda, ada standardnya, minimal 2 meter x 2 meter, dan pintu harus membuka keluar, atau pintu dorong,supaya tidak menghabiskan ruang dalam. Dan posisi alat2 sanitasi seperti closet, wastafel, railing, jet spray, tempat tissue dan sabun dan sebagainya, harus di desain sedemikian supaya pergerakan dan maneuver kursi roda bisa dengan leluasa.
    www.wapenang.blogspot.co.id
    www.wapenang.blogspot.co.id
    Konsep handrailing yang bisa dibuka keatas, sehingga si penyandang disabilitas pemakai kursi roda, bisa perlahan menggeser tubuhnya untuk duduk di atas closet. Jadi, sangat salah, jika raling di sisi closet justru tidak bisa terbuka keatas, karena akan sangat menyulitkan penyandang disabilitas.***Ketinggian closet duduk pun mempunyai standard, sesuai dengan ketinggian kursi roda (sekitar 45-50 cm), sehingga jika penyandang disabilitas pemakai kursi roda ingin menggeser tubuhnya ke atas closet, akan lebih mudah, jika disbanding dengan ada perbedaan antara ketinggian kursi roda dan ketinggian closet. Mungkin tidak membantu banyak, tetapi setidaknya, ada sedikit kemudahan bagi penyadang disabilitas pemakai kursi roda.
    http://crstorage.co.uk
    http://crstorage.co.uk
    Sebaiknya, untuk handrailing tanam dinding atau tanam lantai, material atau warnanya berbeda, agak mata mudah mengenalinya, apalagi di saat2 emergency.***Di dekat closet, harus ada handrailing, yang tertanam di dinding. Posisinya harus disesuaikan dengan pemakai. Untuk itu, harus ada sedikit risat, percobaan, 'trial and error', oleh designer. Mencoba2, berada di atas kuri roda, bagaimana harus bergeser bahkan bagaimana si pemakai harus berpegangan ke handrailng. 

  • Apakah cukup besar, kuat dan cukup panjang untuk berpegaangan? Begitu juga dengan railing yang ditanam di lantai. Di posisi yang bagaimana dan berapa panjang railing yang tertanam? Apakah kekuatan penanamannya mamp untuk si pemakai berpegangan dan bergayut dengan nya? Itu adalah pemilihan material, pemasangan serta kepedulian si designer.
    http://disabilityhorizons.com
    http://disabilityhorizons.com
     

    Ini adalah toilet disability yang sangat nyaman, bersama dengan orang2 berkebutuhan khusus, anak2 dan bayi. Ada tempat berbaring untuk bayi yang harus digantikan popoknya, atau juga mampu untuk disabled dewasa jika ada emergency.

    ***

    Posisi wastafet, kran air, jet spray, tissue, sabun dan sebagainya, sudah tentu harus sedikit di riset oleh designer. Karena ketika designer hanya sekedar mendesain posisi dan lokasi2nya saja, tanpa ada "sense og belonging", sebagai pemakai, akibatnya si pemakai akan kesulitan.Dan itu yang sering terjadi padaku, sebagai penyandang disabilitas pemakai kursi roda.

    www.pinterest.com
    www.pinterest.com

    Contoh toilet disabled yang lebih 'advance'. Dengan sandaran untuk tangan di kanan dan kiri, untuk menekan tubuhnya untuk duduk di atas closet. Toilet seperti ini di ruang public, sangat jarang ada, tetapi selalu ada di rumah-sakit2 di negara maju atau ruamh2 panti jompo.

    HALAMAN :
    1. 1
    2. 2
    3. 3
    4. 4
    5. 5
    6. 6