Mohon tunggu...
Chrismelan Pesoa
Chrismelan Pesoa Mohon Tunggu... Mahasiswa Universitas Duta Wacana

-

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Analisis Kasus Penyakit Filariasis di Sulawesi Tengah

7 Juli 2020   16:22 Diperbarui: 7 Juli 2020   16:17 54 4 0 Mohon Tunggu...

Filariasis atau dikenal dengan penyakit kaki gajah merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Cacing filaria. Ketika masuk kedalam tubuh akan mulai merusak kelenjar getah bening (Limfe) dan dapat mengakibatkan peradangan, gejala akun yang dirasakan demam, sakit kepala dan rasa lemah, sementara jika dibiarkan terus menerus dapat menyebabkan gejala kronis yaitu terjadinya pembengkakan pada tangan dan kaki secara permanen. 

Cacing filaria ini ditularkan melalui gigitan nyamuk, jenis nyamuk sebagai vektor dari cacing filaria ini ada berbagai jenis, contohnya dari genus Mansonia, Culex, Aedes, Anopheles dan Armiqeres.

Menurut WHO Penyakit Filariasis ini merupakan penyakit yang menduduki peringkat kedua dari penyakit menular vektor yang ada di dunia dan peringkat pertama adalah Malaria. 

Di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 10.681 kasus filariasis, menurut data Kementerian Kesehatan RI, 2016 ada tiga spesies cacing filaria yang ada di Indonesia yaitu: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. 

Data dari Dinas Kesehatan Prov. Sulawesi Tengah pada tahun 2018 terdapat 196 kasus, ada 9 kabupaten yang sudah dinyatakan sebagai endemis Filariasis, ada Kab. Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Poso, Tojo unauna, Morowali, Banggai, Bangkep dan Buol dan saat ini sedang melakukan progam POPM (Pemberian Obat Pencegahan Massal). 

Kasus yang terjadi didaerah sulawesi Tengah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Faktor Lingkungan yang tidak terawat, seperti sanitasi lingkungan yang kurang baik, adanya barang-barang yang dibiarkan begitu saja, adanya genangan air yang tidak dikuras, kandang ternak yang dekat dengan rumah dan masih banyak lagi faktor lingkungan yang kurang baik. 

Kondisi-kondisi inilah yang sangat sesuai untuk sarang dan perkembangbiakan dari nyamuk penyebab penyakit filaria ini, tidak menutup kemungkinan hanya menularkan penyakit filaria, namun berpotensi juga untuk menyebabkan penyakit menular lainnya yang berasal dari vektor nyamuk seperti DBD dan Malaria. 

Selain itu tanpa adanya kawat kasa pada ventilasi rumah mengakibatkan nyamuk dari luar dapat masuk kedalam rumah. Faktor selanjutnya adalah gaya hidup atau perilaku masyarakat, tidur tanpa menggunakan kelambu atau menggunakan obat nyamuk, dapat beresiko tinggi digigit oleh nyamuk yang membawa penyakit, karena jenis-jenis nyamuk yang membawa penyakit filaria ini akan sangat aktif mengigit pada malah hari contohnya jenis nyamuk anopheles yang sangat aktif pada malam hari sampai pada pagi hari. 

Di Sulawesi Tengah hampir sebagian orang didaerah pedesaan memiliki profesi sebagai petani, nelayan, buruh kebun dan pencari kayu yang harus pergi kehutan, dan kadang tanpa menggunakan lengan dan celana panjang dan sering bermalam di kebun tanpa menggunakan kelambu atau obat nyamuk, hal-hal inilah yang memiliki potensi untuk terjadinya peningkatan kasus filariasis. 

Selain itu gaya hidup yang sering membuang sampah sembarangan atau sering menumpuk barang yang tidak terpakai dapat menyebabkan adanya genangan yang nantinya dapat dijadikan sebagai tempat berkembang biak oleh nyamuk, kebiasaan buruk lainnya, seperti kebiasaan jarang menguras atau membersihkan bak penampungan air baik di dalam maupun di luar rumah. 

Dan tentunya curah hujan didaerah Sulawesi Tengah sendiri cukup tinggi yang sangat menjadi tempat dan lingkungan favorit buat nyamuk untuk berkembang dan dapat meningkatkan populasi nyamuk tersebut, karena habitat dari nyamuk sendiri menyukai tempat-tempat yang lembab, curah hujan yang tinggi dan genang air untuk tempat mereka menaruh telur nyamuk dan berkembangbiak. dan faktor-faktor inilah yang akan dapat mendorong terus adanya penyakit-penyakit khususnya penyakit filaria.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x