Mohon tunggu...
M Chozin Amirullah
M Chozin Amirullah Mohon Tunggu... Blogger partikelir

Antusias pada perubahan sosial, aktif dalam gerakan mewujudkannya. Menghargai budaya sebagai bunga terindah peradaban. Memandang politik bukan sebagai tujuan namun jalan mewujudkan keadilan sosial. Tak rutin menulis namun menjadikannya sebagai olah spiritual dan katarsis. Selalu terpesona dengan keindahan yang berasal dari dalam. Ketua Gerakan Turuntangan, Mengajak anak muda jangan hanya urun angan tetapi lebih bauk turun tangan. Kenal lebih lanjut di instagram: chozin.id | facebook: fb.com/chozin.id | twitter: chozin_id | Web: www.chozin.id

Selanjutnya

Tutup

Sehat dan Gaya Pilihan

Kebaikan Tak Cukup dengan Kata, Perlu Perbuatan Nyata

8 Mei 2021   21:07 Diperbarui: 8 Mei 2021   21:25 373 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kebaikan Tak Cukup dengan Kata, Perlu Perbuatan Nyata
Dokumentasi pribadi

Ajaklah anak Anda untuk ikut dalam aktivitas sosial, niscaya mereka akan belajar bagaimana menjadi manusia sosial. Pengalaman ini saya dapata saat saya mendapatkan kesempatan mengisi sebuah acara pesantren kilat virtual #RamadhanBahagia yang diselenggarakan oleh komunitas Jakarta Bahagia.

Awalnya saya tidak berencana mengajak anakku yang umuran Sekolah Dasar untuk bergabung. Saya memang terbiasa mengisi acara-acara webinar sendiri. Tetapi kali ini, mendadak menjelang acara, terbersit ide untuk mengajak anakku bergabung.

Saya memutuskan mengajak Kakak Dhila untuk mengisi materi, sekaligus menjadi peserta. Toh, memang acaranya untuk anak-anak. Pesertanya sektar 500 orang, via zoom. Sengaja saya ajak Dhila supaya mendapatkan pengalaman berbicara di depan publik. Dia sebenarnya sering melihat saya berbicara di depan publik saat mengisi acara, tetapi biasanya hanya pasif sebagai penonton. Kali ini, dia bahkan dituntut menceritakan pengalaman langsung mempraktikan sendiri materi yang saya sampaikan.

Kebetulan saya kebagian mengisi materi tentang "kebersihan". Saya paparkan materi dalam tiga segmen: segmen kebersihan terhadap diri sendiri, segmen kebersihan saat di rumah, dan segmen kebersihan terhadap lingkungan.

Segmen keberisihan terhadap diri sendiri memaparkan soal bagaimana anak-anak musti terbiasa untuk mendi secara teratur, menggosok gigi, berwudhu, dan menjalankan 3M di masa pandemi Covid19 ini. Semua yang terkait dengan kebersihan diri adalah bagaimana membiasakan pada diri sendiri. Awalnya diajarkan, lalu dibiasakan, didisiplinkan, dan akhirnya menjadi kebiasaan. Setelah menjadi kebiasaan, jika dilakukan secara kontinyu dalam komunal maka menjadi budaya: budaya hidup bersih.

Tentang kebersihan di rumah, hal-hal yang saya bahas misalnya pembiasaan dalam membersihkan rumah seperti menyapu, memberishkan kaca, mencuci piring, membuang sampah dan sebagainya. Jikapun di rumah ada pembantu, anak-anak musti tetap dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan kebersihan di rumah. Tujuannya agar mereka terbiasa menjalankan sejak kecil sehingga setelah dewasa sudah menjadi habitnya.

Namun, di luar itu semua, saya saya menekankan soal membiasakan untuk memilah sampah organik dan sampah non-organik. Kenapa? Karena kebetulan kami mempraktikkan itu di rumah. Saya minta Dhila untuk menceritakan bagaimana diri dan adik-adiknya sudah terbiasa memisahkan sampah organi dan non-organik sejak dari dapur rumah. Yang organik diproses menjadi kompos, yang non-organik kami masih memasukkannya ke tempat sampah umum.

Karena mempraktikan secara langsung dalam keseharian di rumah, Dhila bisa menceritakan pengalamannya tersebut dengan mudah. Cerita pengalaman Dhila ini menarik perhatian audiens yang semuanya anak-anak seumurannya. Mereka ingin meniru apa yang dilakukan oleh Dhila untuk dipraktikkan di rumahnya masing-masing. Ini lebih efektif dibandingkan saya menceritakan sendiri soal pilah sampah itu.

Berikutnya, soal kebersihan terhadap lingkungan. Saya menekankan soal ikhtiar mengurangi sampah plastik. Saya tahu, kesadaran di anak-anak soal ini masih rendah. Tapi kebetulan kami juga terbiasa mempraktikkan ini di rumah. Kami serumah sebisa mungking mengurangi plastik, bahkan jika ada kantong plastik bekas, kami tidak labgsung membuangnnya melaikan memanfaatkannya dulu untuk kantong sampah. Kami tak rela membuang sampah plastic begitu saja, karena kami sadar betapa plastik memerlukan waktu 500 tahun untuk terdegradasi.  

Dhila memang belum bisa menyampaikan pengalamannya secara terstruktur, sebab dia memang hanya menjadi pembicara cilik-pendamping saya. Namun, setidaknya kesempatan Dhila untuk sharing pengalaman hidup bersih dan ramah lingkungan di hadapn sekitar 500 peserta zoomeeting memberikan afirmasi pada dirinya, bahwa apa yang dia jalankan dalam kehidupan keseharian untuk hidup bersih dan ramah lingkungan mendapatkan pengakuan. Ini akan semakin menegaskan komitmen dia dalam jangka panjang, agar konsisten menjaga hidup bersih dan ramah lingkungan. Bahwa yang diajarkan dan dipraktikkan oleh orang tuanya patut dijalankan dan dijaga sampai dewasa nanti.

Jikalah saya belum bisa optimal mempengaruhi ke-500 anak peserta pesantren kilat virtual tersebut,, setidaknya saya telah mempengaruhi anak saya sendiri untuk semakin mantap memilih jalan hidup bersih dan menjaga lingkungan hidup. Kebaikan tak cukup dengan kata-kata, kebaikan membutuhkan perbuatan nyata. [mca]

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x