Mohon tunggu...
Choiron
Choiron Mohon Tunggu... Hidup seperti pohon. Menyerap sari makanan dan air dari mana saja, dan pada saatnya harus berbuah.

Hanya sebuah botol kosong...

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Siapa Takut Konflik? (Bukan Nantang Loh Ya)

7 April 2011   00:26 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:03 0 5 5 Mohon Tunggu...

Pemilihan kata dan penyusunan kalimat, mencerminkan kepribadian kita

(Choiron, 2011)

Beberapa hari ini sejak saya menulis Masya Allah, Kompasiana Diserbu Dedemit, diskusi antara saya dan beberapa teman Kompasianer begitu seru. Pro dan kontra terkait opini saya terhadap perilaku Kompasianer yang berprilaku tidak etis di Kompasiana. Namun ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari mereka, baik yang pro maupun yang kontra, yaitu:

  1. Sebuah konflik dapat terjadi pada beberapa orang yang memiliki pendapat dan pola pikir yang berbeda. Kepala boleh sama hitam, namun pemikiran dan pendapat bisa berbeda. Toleransi adalah kata kunci bagi perbedaan pendapat, namun tidak ada toleransi (baca: pembiaran) tidak berlaku untuk perilaku jahat seperti cabul dan penyerangan agama.
  2. Sejarah konflik antara yang pro dan kontra, ternyata di Kompasiana ini punya sejarah yang cukup panjang. Beberapa teman Kompasianer yang baik hati mengingatkan saya bahwa 'mereka' (kelompok dedemit) ini sudah beroperasi cukup lama dan telah banyak juga yang berkonflik dengan mereka.
  3. Untuk membedakan apakah teman diskusi kita termasuk manusia atau dedemit bisa dilihat dari perilaku mereka dalam berdiskusi dan bertukar pikiran. Pemilihan kata dan penyusunan kalimat, mencerminkan kepribadian kita. Mereka yang bertutur kata dengan santun masih termasuk kelompok manusia. Namun mereka yang biasanya menggunakan kata-kata kasar dan menyerang pribadi, masuk dalam kelompok dedemit. Strategi saya jika ada orang yang menyebut tolol atau goblok, maka saya terima saja dan tidak perlu cenat-cenut bahkan marah. Karena pada hakikatnya seorang 'pembelajar' seperti saya tidak pernah merasa pintar. Sangat bagus jika ada orang pintar yang mau menunjukkan kebodohan kita (atau kebodohannya sendiri?).
  4. Pesan moral dari Pak Ladinata, perjuangan beramar ma'ruf nahi mungkar untuk mencontoh Rasulullah, yang penuh kesabaran. InsyaAllah Pak Dosen, saya mencoba meneladani Rasulullah dalam beramar ma'ruf nahi mungkar, dengan tidak memerangi kemungkaran dengan kemungkaran.
  5. Sebuah konflik pasti bisa diselesaikan, tergantung bagaimana pemahaman pihak yang berkonflik, karakter dasar, dan pastinya itikad baik dari mereka yang terlibat konflik di dalamnya. Dalam teknik negosiasi, kedua belah pihak tidak boleh bersifat 'defensif' menjaga jarak, tetapi harus justru saling mendekat untuk mencapai titik temu yang 'win-win solution'.

[caption id="attachment_99185" align="alignright" width="300" caption="Analogi Tipe Manusia dalam Menghadapi Konflik"][/caption] Walau judul tulisan ini 'Siapa Takut Konflik?' bukan berarti saya ingin menantang mereka yang berbeda pendapat dengan saya. Namun saya ingin mendeskripsikan tipe-tipe dasar manusia dalam menghadapi konflik yang dianalogikan dengan beberapa jenis hewan sebagai berikut. A. TIPE KURA-KURA Orang dengan tipe kura-kura cenderung i) menarik diri dan bersembunyi ketika bertemu masalah. Sehingga kemudian ii) Dia akan menunggu masalah reda dengan sendirinya. Sebenarnya bukan hanya kura-kura saja yang bersembunyi di dalam cangkangnya saat bertemu masalah, hewan yang lebih kecil seperti keong juga memiliki strategi yang sama dalam menghadapi konflik. B. TIPE IKAN HIU Mereka yang bertipe ikan hiu biasanya i) menggunakan cara-cara kekerasan (represif) dalam menyelesaiakan masalah. Kemudian ii) senang menaklukkan lawan hingga mencapai kemenangan. Ini adalah tipe-tipe manusia yang memiliki cukup keberanian dan mental yang kuat, yah minimal sedikit pakai ilmu 'ngeyel'. Jenis ini akan terbiasa bersikap ofensif atau menyerang dan mengerahkan segala sumber daya baik waktu, tenaga (otot), uang, bahkan pasukan (kelompok). C. TIPE KANCIL Tipe kancil ini i) mengutamakan langgengnya hubungan daripada kepentingan pribadi, ii) dia ingin diterima dan disukai oleh orang lain, sehingga rela mengorbankan kepentingannya. Tipe kancil walaupun jarang berkonflik, tetapi cenderung suka memendam perasaan untuk tetap diterima dalam kelompoknya. Dia tidak suka secara frontal menetang pendapat orang lain. D. TIPE RUBAH Orang dengan tipe rubah i) senang mencari kompromi dalam menghadapi konflik. ii) mengutamakan keseimbangan antara pencapaian tujuan pribadi dan hubungan dengan orang lain. E. TIPE BURUNG HANTU Hampir sama dengan rubah namun  i) lebih mengutamakan keseimbangan kepentingan pribadi sekaligus hubungan baik dengan orangn lain, ii) lebih positif dalam memandang suatu konflik, sehingga konflik dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi melalui cara mengurangi ketegangan penyebab konflik. Tipe kancil dan Ikan hiu bukan tipe yang baik untuk diikuti. Sedangkan tipe kancil banyak dimiliki oleh para follower (pengikut) yang mengorbankan kepentingan dirinya untuk bisa tetap diterima oleh kelompoknya. Sehingga jika kelompoknya mendholimi dirinya atau berbuat yang tidak sesuai dengan hati nuraninya, dia akan cenderung untuk diam dan membiarkan saja. Dua tipe terakhir adalah pilihan manusia dewasa bagaimana menghadapi dan menyelesaikan konflik secara bertanggung jawab dengan pilihan penyelesaian yang cerdas. Mereka biasa menyelesaikan masalah dengan teknik negosiasi dan teknik pemecahan masalah yang terstruktur. Kemampuan untuk mengukur tingkat eskalasi konflik juga menjadi kemampuan utama dalam menyikapi setiap perubahan keadaan. Bagaimana dengan anda? ---------------------- sumber klasifikasi: dari modul kuliah Interpersonal Skills di kampus nih (piye nulisnya)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x