charles dm
charles dm Freelancer

Untuk sesuatu yang tidak dapat dikatakan, aku harus mengatakannya!!

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Mengurai Soal Akut Sampah Plastik, Saatnya Kita Berpindah Paradigma

15 Maret 2019   16:47 Diperbarui: 27 Maret 2019   14:18 173 2 1
Mengurai Soal Akut Sampah Plastik, Saatnya Kita Berpindah Paradigma
Sampah yang menumpuk di pesisir Desa Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah/foto dari ANTARA FOTO/Aji Styawan

Sampah, terutama sampah plastik adalah satu dari sejumlah hal yang sedang aktual di tanah air. Meski tidak selalu ramai dibicarakan, apalagi dijadikan fokus perhatian bersama, ikhwal sampah plastik adalah soal yang selalu mengemuka dan belum juga terselesaikan.

Padahal, disadari atau tidak, sampah plastik adalah persoalan krusial yang tengah kita hadapai. Oleh sebagian kalangan, persoalan tersebut sesungguhnya telah mencapai level akut. Sambil berkaca diri dan merenungi laku hidup sehari-hari, kita bisa melihat sejumlah data dan fakta yang terekam dalam angka.

Dalam salah satu kesempatan lawatan ke Manado, Sulawesi Utara, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Panjaitan, mengatakan Indonesia menempati peringkat kedua dalam hal pembuangan sampah plastik ke laut.

Pernyataan tersebut berangkat dari data yang dibeberkan Jenna Jambeck, profesor lingkungan dari University of Georgia, Amerika Serikat. Luhut mengatakan kontribusi sampah kita ke laut mencapai 187,2 juta ton. Angka tersebut sedikit lebih kecil dari China yang berada di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. 

Bila diperinci, saban tahun sekitar 2,13 juta ton sampah plastik yang kita hasilkan dibuang begitu saja. Sebanyak 44 persen dari total sampah plastik itu kemudian mencemari lingkungan. Hal ini dikemukakan oleh Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Enri Damanhuri.

Sumber: KLHK/WWF/Grafis: Tim MI
Sumber: KLHK/WWF/Grafis: Tim MI
Situasi ini tidak lepas dari tingginya konsumsi plastik masyarakat Indonesia. Rerata dalam setahun setip penduduk Indonesia mengonsumsi 15 kilogram (kg) sampah. Bukan rahasia lagi, plastik masih menjadi primadona untuk menangkup setiap kebutuhan. Sifanya yang ringan, kuat, dan awet membuatnya selalu menjadi pilihan. Jamak ditemukan botol, sandal, tas, keranjang, ember, gelas, hingga kemasan makanan yang terbuat dari plastik. 

Sayangnya, tingginya penggunaan plastik tidak dibarengi dengan kesadaran penggunaan plastik dan sampah plastik. Sampah masih dilihat sebagai barang sisa yang tidak bernilai guna. Alih-alih dimanfaatkan, sampah kemudian dibuang begitu saja, lebih miris lagi, tidak pada tempatnya.

Masih mengutip Prof. Dr. Enri Damanhuri, dari total sampah plastik nasional, baru 36 persen yang dapat diambil dan dikumpulkan oleh Dinas Kebersihan dan Dinas Lingkungan Hidup dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selanjutnya, baru 20 persen yang masuk ke dalam sistem informal seperti bank-bank sampah untuk didaur ulang (recycle).

Andaisaja sampah-sampah plastik itu bisa dimanfaatkan dengan baik nilai ekonominya sangat tinggi. Bila ditotal angkanya bisa mencapai Rp 2,2 triliun. Angka tersebut disebut oleh Zainal Abidin dari Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITB.  

Angka fantastis itu sesungguhnya berangkat dari perhitungan sederhana. Mengandaikan harga sampah plastik seperti botol minuman Rp 600 per kilogram, lantas dikalikan jumlah penduduk sebanyak 250 juta dengan tingkat konsumsi masing-masing individu 15 Kg.

Kita tentu tidak ingin nama Indonesia terus berada di papan atas klasemen penyumbang sampah plastik terbanyak. Selain bukan sesuatu yang patut dibanggakan, mengurangi penggunaan dan pemanfaatan secara bijak sampah plastik adalah isu-isu penting yang dituntut pelaksanaannya.

Pemerintah telah menyatakan perang terhadap sampah plastik demi pembangunan ekonomi secara berkelanjutan. Status Indonesia sebagai negara maritim dituntut untuk mengambil peran terdepan dalam upaya-upaya konservasi, alih-alih pengrusakan ekosistem kelautan.

Bila tidak segera bertindak, maka impian pemerintah untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada 2025 tak ubahnya pungguk merindukan bulan. Sebuah cita-cita yang tinggal tetap sebagai impian, malah berubah menjadi bencana.

Sampah plastik memerlukan waktu puluhan tahun untuk terurai. Kantong plastik misalnya, baru bisa terurai dalam rentang 10-20 tahun. Bila perilaku membuang sampah sembarangan dan begitu saja masih dipelihara, maka jumlah sampah plastik yang bermuara ke lautan akan semakin terakumulasi.

Sejumlah kajian menunjukkan bila tidak ada perubahan mendasar, maka pada 2025 kawasan perairan atau lautan di Indonesia akan menjadi lautan sampah. Jumlahnya akan melampaui persediaan ikan yang ada dengan komposisi tiga berbanding satu. Sungguh mengerikan, bukan?

Semangat 3R

Soal sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Tidak cukup seruan perang terhadap sampah plastik bila tidak mendapat dukungan dari para pelaku industri dan masyarakat luas. Gagasan mengurangi penggunaan tas plastik dan mendorong penggunaan plastik dari bahan alternatif tidak akan berhasil bila tidak direalisasikan bersama.

Kita sebenarnya sudah diingatkan terus-menerus untuk menerapkan sistem 3 R yakni Reuse, Reduce, dan Recycle sebagai salah satu solusi terhadap persoalan sampah. Penerapannya bisa dilakukan siapa saja, kapan saja dan dimana saja.  

Sistem ini mengajak kita untuk menggunakan kembali sampah yang masih bisa digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya (Reuse). Sejauh dapat kita menghindari atau setidaknya mengurangi (Reduce) penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Bila tidak membutuhkan sesuatu yang baru kita bisa menggunakan barang yang ada. Barang-barang yang ada pun sejauh dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin agar tidak mubazir.

Ilustrasi dari http://74ufiq.blogspot.com
Ilustrasi dari http://74ufiq.blogspot.com
Selain itu sampah yang dihasilkan tidak lantas dibuang begitu saja. Sampah bisa dimanfaatkan dengan didaur ulang (Recycle). Entah sampah organik maupun nonorganik bisa dimanfaatkan kembali melalui berbagai cara pemanfaatan. Sebagai contoh, botol plastik air minum bisa dipakai sebagai pot tanaman. Kertas-kertas bekas pakai bisa dimanfaatkan kembali menjadi kertas atau karton. Sementara itu, sampah organik dari dedaunan dan rumput misalnya, bisa diolah menjadi kompos.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3