oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Kejuaraan Dunia, Titian Akhir Menuju Asian Games 2018

29 Juli 2018   14:42 Diperbarui: 29 Juli 2018   14:50 560 1 1
Kejuaraan Dunia, Titian Akhir Menuju Asian Games 2018
Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya saat menjuarai Indonesia Open Super1000. Ganda nomor satu dunia ini menjadi harapan Indonesia untuk memenuhi target minimal satu gelar juara di Kejuaraan Dunia/foto dari badmintonindonesia.org

 

Turnamen bulu tangkis level satu, Kejuaraan Dunia akan menjadi turnamen terakhir bagi para pebulutangkis terbaik Asia sebelum tampil di Asian Games 2018. Setelah turnamen yang bernama lengkap BWF World Championships di Nanjing, China, 30 Juli hingga 5 Agustus masih ada satu turnamen lagi sebelum bulu tangkis dipertandingkan di Asian Games.

Waktu penyelenggaraan turnamen Vietnam Open terlalu berdekatan dengan pertandingan Asian Games yang dimulai pada 19 Agustus hingga 2 September. Selain itu, turnamen level enam ini bukan kelasnya para pemain top Asia. Para jagoan tentu lebih memilih fokus ke Asian Games ketimbang bertarung di turnamen Super100 yang dimulai pada 7 hingga 12 Agustus mendatang.

Dengan demikian Kejuaraan Dunia ini adalah kesempatan terakhir bagi para pemain Asia untuk mengukur sejauh mana persiapan menuju Asian Games. Kecuali Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang absen di Kejuaraan Dunia, juga Lee Chong Wei yang mundur dari dua turnamen mayor itu, hampir semua jagoan Asia ambil bagian di turnamen selevel Piala Sudirman, Piala Thomas dan Uber serta Olimpiade itu. Keterlibatan para pemain terbaik menjadi momentum pemetaan menuju perebutan medali tingkat Asia di Istora, Senayan, Jakarta.

Minus Tontowi dan Liliyana, PBSI hanya menargetkan satu gelar juara di China. Tentu harapan terbesar diberikan kepada Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya. Selain ganda putra nomor satu dunia, PBSI mengharapkan pasangan ganda putri, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu bisa berbicara banyak. Begitu juga Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara Haris, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Anthony Ginting dan Jonatan Christie mampu membuat kejutan.

Di atas kertas, dari sekitar 29 pemain yang tampil di China, target satu gelar juara cukup realistis. Mengharapkan The Minions untuk menjaga nama Indonesia juga tak berlebihan. Di satu sisi, The Minions adalah pasangan yang paling siap dari segala sisi ketika dihadapkan dengan sesama wakil Indonesia.

Patut diakui undian Kejuaraan Dunia sama kurang menguntungkan bagi Indonesia seperti Indonesia Open Super1000 sebelumnya. Sebagian besar pasangan Indonesia berada di pul atas sehingga berpotensi saling "bunuh" di babak-babak awal. Berry Angriawan/Hardianto dan Wahyu Nayaka/Ade Yusuf misalnya, bakal saling jegal di babak kedua.

Begitu juga satu dari dua pasangan yang diharapkan bisa sama-sama berbicara banyak yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan The Minions harus pulang bila mampu melangkah hingga perempat final.

Di sisi lain, The Minions pun masih lebih menonjol bila dihadapkan dengan para jagoan dari negara lain. Dominasi yang ditunjukkan selama satu-dua tahun terakhir bakal ditegaskan di Nanjing. Ditambah lagi pasangan ini gagal menjadi juara dunia tahun lalu. Modal empat gelar dari lima turnamen tahun ini membakar semangat mereka untuk menjadi lebih baik dari Mohammad Ahsan dan Rian Agung Saputro yang hanya menjadi finalis edisi sebelumnya di Glasgow, Skotlandia.

Jalan The Minions menuju tangga prestasi bakal sulit. Mereka akan menghadapi sederet pasangan kuat seperti Han Chengkai/Zhou Haodong  asal China di babak kedua; pasangan Rusia, Vladimir Ivanov / Ivan Sozonov, hingga Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dari Jepang atau Fajar Alfian/Rian Ardianto di delapan besar.

Takeshi Kamura/Keigo Sonoda menjadi salah satu penantang terberat The Minions di Kejuaraan Dunia/foto dari bwfworldchampionships.com
Takeshi Kamura/Keigo Sonoda menjadi salah satu penantang terberat The Minions di Kejuaraan Dunia/foto dari bwfworldchampionships.com
Kamura dan Sonoda adalah pasangan berpengalaman dengan mental dan kualitas teruji Piala Thomas beberapa waktu lalu menjadi titik berangkat kembalinya pasangan ini ke bentuk terbaik. Sejak itu mereka mampu meraih dua gelar dalam tiga pekan yakni Malaysia Open dan Thailand Open.

Bila mampu melewati hadangan ini, The Minions akan dihadapkan dengan unggulan lain dari pul bawah. Ada Liu Chen dan Zhang Nan, pasangan China yang berstatus juara bertahan. Performa mereka memang kurang konsiten tahun ini. Namun Zhang memiliki catatan bagus ketika tampil di turnamen utama seperti Kejuaraan Dunia dan Olimpiade sejak 2011.

Tak kalah menakutkan adalah Mathias Boe/Carsten Mogensen dari Denmark, Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin dari Taiwan serta Takuto Inoue/Yuki Kaneko asal Jepang. Boe dan Mogensen mengawali tahun ini dengan baik namun nasib buruk dituai di Malaysia dan Indonesia Open yang mana mereka tersingkir di babak pertama. Tentu pengalaman buruk tersebut memacu mereka untuk menjadi lebih baik.

Nama-nama seperti Lee Jhe-Huei / Lee Yang dari Taiwan, Goh V Shem / Tan Wee Kiong dari Malaysia serta Li Junhui / Liu Yuchen asal China serta pasangan-pasangan yang bisa menjadi kuda hitam seperti Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty dari India; Chris Langridge/Marcus Ellis asal Inggris, dan Ong Yew Sin/Teo Ee Yi dari Malaysia akan semakin meramaikan persaingan menuju tangga juara dunia.

Secara keseluruhan, selain Jepang, China masih menjadi lawan terberat Indonesia. Li/Liu misalnya memiliki musim yang baik setelah menjadi juara Asia dan membantu China ke final Piala Thomas. Meski pasangan jangkung ini memiliki rekor yang buruk menghadapi The Minions, Negeri Tirai Bambu masih memiliki sejumlah peluru dalam diri Zhang/Liu, Han Chengkai/Zhou Haodong dan He Jiting/Tan Qiang. Yang memenangkan pertarungan ini, dialah yang berpeluang kembali merebut kejayaan di Istoran.

Kepungan Jepang

Jepang adalah negara yang perlahan tetapi pasti menggerus dominasi China di sektor ganda putri saat ini. Negara Samurai Biru memang gagal bersaing dengan China di Kejuaraan Dunia tahun lalu. Dan secara keseluruhan China adalah penguasa nomor ini dengan total 20 gelar dari 21 edisi sejak 1983.

Namun cerita berbeda di turnamen-turnamen lain. Kemunculan ganda putri seperti jamur di musim hujan membuat Jepang mampu mendominasi sebagian besar HSBC BWF World Tour tahun ini. Lebih dari separuh gelar juara menjadi milik Jepang. Tepatnya, delapan dari total 14 turnamen sejauh ini diboyong para pemain Jepang.

Chen dan Jia, juara bertahan akan mempertahankan gelar di hadapan pendukung sendiri/gambar dari bwfworldchampionships.com
Chen dan Jia, juara bertahan akan mempertahankan gelar di hadapan pendukung sendiri/gambar dari bwfworldchampionships.com
Para pemain Jepang hanya kehilangan dua gelar utama yakni All England yang dimenangkan Christina Pedersen dan Kamilla Rytter Juhl dari Denmark serta Toyota Thailand Open yang menjadi milik Greysia dan Apriani. Dominasi di Kejuaraan Asia dan Piala Uber menegaskan superioritas Jepang di sektor ini.

Selain Misaki Matsutomo dan Ayaka Takahashi, Jepang memiliki Yuki Fukushima dan Sayaka Hirota, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, dan Shiho Tanaka dan Koharu Yonemoto. Meski tak lagi menjadi pasangan nomor satu, jawara Olimpiade ini masih menakutkan. Pasangan senior ini tampil cukup konsisten tahun ini dengan meraih podium utama Indonesia Masters dan Malaysia Open, serta dua kali menjadi runner-up yakni Kejuaraan Asia dan Thailand Open.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3