oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Enam Gelar "The Minions" dan Harapan Baru Ganda Putri Indonesia

26 November 2017   23:57 Diperbarui: 27 November 2017   01:51 4286 4 0
Enam Gelar "The Minions" dan Harapan Baru Ganda Putri Indonesia
Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya berjaya di Hong Kong Open 2017/@INABadminton

"Quite frankly, they are doing a demonstration at the moment. A masterclass."

Pernyataan tersebut meluncur dari mulut Gillian Clarck ketika memandu pertandingan final ganda putra Hong Kong Super Series 2017, Minggu (26/11/2017). Komentator resmi BWF bernama lengkap Gillian Margaret Clark melayangkan pernyataan itu kepada Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Ganda putra nomor satu dunia itu mampu mempertahankan tren positif sepanjang turnamen yang dihelat di di Hong Kong Coliseum, Kowloon hingga laga pamungkas ketika menghadapi Mads Conrad Petersen dan Mads Pieler Kolding.

Ganda Denmark itu dibuat tak berkutik dan akhirnya menyerah straight set 21-12 dan 21-18. Sepanjang pertandingan berdurasi 37 menit, Marcus dan Kevin mampu mengendalikan jalannya pertandingan. Di set pertama kecepatan, tipuan dan bobot pukulan "the Minions" hampir tak bisa diimbangi duo Mads. Pasangan terbaik dunia itu sempat memimpin jauh 15-5 dan 19-8 sebelum mengakhiri game pertama dengan skor 21-12.

Duo Mads yang cukup mengenal karakter permainan Marcus dan Kevin coba memberi perlawanan di game kedua. Kedua pasangan sudah empat kali berhadap-hadapan. Saling berbagi dua kemenangan menunjukkan bahwa duo Mads bukan lawan mudah. Hal ini mereka tunjukkan dengan memaksa pertandingan sedikit ketat. Skor sempat berbeda tipis 2-4 dan 8-9.

Dua pertemuan terakhir yang terjadi pada tahun ini masing-masing di All England dan India Open menjadi milik duo Minions. Tidak sampai di situ keduanya pun mampu meraih dua gelar dalam dua pekan secara beruntun. Catatan apik ini kembali dipertontonkan di game kedua. Sempat kendor di awal game kedua, Marcus dan Kevin perlahan-lahan mendapatkan kembali ritme permainan. Berani adu kecepatan, sesekali melakukan tipuan dan melayangkan smash kencang membuat lawan kerepotan. Pasangan liliput itu pun berhasil mengunci game kedua atas pasangan raksasa dengan skor 21-18.

Kemenangan tersebut tidak hanya mengunggulkan Marcus dan Kevin dalam catatan head to head denagn duo Mads. Lebih penting dari itu menjadi gelar keenam yang diraih sepanjang tahun ini. Selain menjuarai China Super Series Premier pekan lalu, Marcus dan Kevin lebih dulu menjenjakan kaki di podium tertinggi Japan Super Series, Malaysia Super Series Premier, India Super Series dan All England.

Tidak banyak pasangan yang mampu merebut gelar super series sebanyak itu dalam satu kalender turnamen. Catatan mentereng itu hanya bisa diukir pasangan sekelas Lee Yong Dae dan Yoo Yeon Seong pada 2015 lalu. Saat itu jagoan Korea Selatan itu meraih gelar juara sejak Australia Super Series, Japan Super Series, Korea Super Series, Denmark Super Series Premier, France Super Series dan Hong Kong Super Series.

Semua penggemar bulu tangkis di dunia tentu sepakat tahun ini menjadi tahun emas "the Minions." Keduanya memiliki segalanya untuk menjadi juara. Sekalipun berpostur pendek, mereka mengantongi senjata yang tidak dimiliki pasangan lain. Kecepatan, lompatan yang tinggi, serta skill individu yang membuat lawan kelabakan. Kevin misalnya memiliki kelenturan tangan yang menyata dalam pukulan-pukulan tak terduga. Pria kelahiran Banyuwangi, 22 tahun silam pun dijuluki si "tangan petir."

Kelebihan Kevin itu berpadu dengan Marcus yang dikenal memiliki "servise" mematikan. Keduanya saling mengisi saat menyerang maupun diserang. Bersama mereka membentuk pertahanan yang sulit ditembus, melakukan rotasi secara apik, dan silih berganti melancarkan pukulan dan tipuan. Smash, lob, drive hingga dropshot mampu mereka peragakan.

Sepanjang turnamen Hong Kong Open kita mendengar beberapa kali Gillian Clarck mengeluarkan kata-kata andalannya seperti "oh my goodness", "magnificent" , "unbelievable" hingga "a masterclass" kepada "The Minions." Rasa-rasanya kata-kata yang dilontarkan mantan pebulutangkis Inggris yang gantung raket pada 1994 itu tidaklah berlebihan. Marcus dan Kevin memang pantas mendapatkannya.

Harapan baru

Selain Marcus dan Kevin, Greysia Polii dan Apriani Rahayu juga mencuri perhatian. Pasangan ganda putri itu mampu menginjak partai final. Meski akhirnya harus puas sebagai runner-up, pasangan berbeda generasi itu sudah membuat pasangan nomor satu dunia, Chen Qingchen dan Jia Yifan harus bermain rubber-set.

Pertandingan antarkedua pasangan menjadi yang terpanjang dibanding empat partai lainnya. Laga berlangsung selama lebih dari satu jam sebelum unggulan pertama itu meraih kemenangan dengan skor akhir 21-14, 16-21 dan 15-21.

Kekalahan ini cukup disayangkan. Kurang dari sebulan Greysia/Apriyani membuat Qingchen dan Yifan tak berkutik saat bertemu di semi final France Super Series. Saat itu Greysia/Apriyani menang mudah dua game langsung 21-5 dan 21-10.

Greysia dan Apriani menjadi finalis Hong Kong SS 2017/@Antoagustian
Greysia dan Apriani menjadi finalis Hong Kong SS 2017/@Antoagustian
Namun situasi berbeda terjadi di partai final ini. Di satu sisi Qingchen dan Yifan sedang berada di trek positif setelah pekan sebelumnya berjaya di tanah air sendiri di ajang China Super Siries Premier. Di sisi lain seperti dikatakan pelatih ganda putri Eng Hian, daya tahan dan fokus anak asuhnya menurun. Kualitas pukulan Greysia dan Apriani tidak sebagus babak-babak sebelumnya yang berpuncak di semi final. Sempat meraih kemenangan di game pertama, Greysia dan Apriani gagal menjaga ritme permainan dan sigap menghadapi perubahan strategi lawan di dua game berikutnya. Mereka pun harus menyerah 21-14, 16-21 dan 15-21.

Meski begitu apresiasi tetap patut diberikan kepada Greysia dan Apriani. Keduanya mencatatkan perkembangan pesat sejak dipasangkan enam bulan lalu. Satu gelar Grand Prix Gold dan Super Series masing-masing di Thailand dan Prancis menjadi bukti. Greysia Polii tidak butuh waktu lama untuk meraih gelar super series setelah "berpisah" dengan Nitya Krishinda Maheswari.

Sebelum Greysia dan Apriani muncul, ganda putri Indonesia sepenuhnya bergantung pada Greysia dan Nitya. Greysia dan Nitya yang dipasangkan kembali pada 2013 baru bisa memanen prestasi pada 2015. Artinya mereka butuh waktu dua tahun untuk menjejaki final super series hingga meraih titel super series pertama.

Greysia dan Apriani pun menjadi harapan baru ganda putri Indonesia. Pasangan yang  mulai berduet pada Juni tahun lalu akan mengisi top 10 BWF dalam rilis resmi pada Kamis pekan depan.

Pertanyaan, mengapa Greysia dan Apriani begitu cepat melesat? Greysia yang telah berusia kepala tiga memiliki segudang pengalaman yang memungkinkannya dengan mudah menuntun dan mengeluarkan kemampuan terbaik Apriani. Selain jam terbang, Greysia cukup piawai dalam memainkan dropshot. Sementara Apriani walau baru berusia 18 tahun memiliki smash yang keras dan lincah di depan net.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2