Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Sanksi Tinju Indonesia Berakhir, Putra NTT Menuju Juara Dunia

26 Januari 2017   17:22 Diperbarui: 26 Januari 2017   22:01 4150 10 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sanksi Tinju Indonesia Berakhir, Putra NTT Menuju Juara Dunia
Tibo Monabesa/Antara

Pertandingan antara Tibo Monabesa dan Rene Patilano dari Filipina pada Sabtu, (21/1) malam lalu mendai berakhirnya masa vakum pertandingan tinju internasional di tanah air. Nyaris empat tahun, sejak kematian Tubagus Setia Sakti pada akhir Januari 2013 lalu, Indonesia mendapat sanksi dari World Boxing Council (WBC) untuk tidak lagi menggelar pertandingan yang ada dalam agenda badan tinju profesional itu.

Tubagus yang baru berusia 17 tahun meregang nyawa diduga akibat pendarahan otak yang dialami dalam laga menghadapi petinju senior Ical Tobida di ajang Nasional Ad Interim vesi Komisi Tinju Profesional Indonesia KTPI di stasiun televisi nasional, TVRI. Wasit yang memimpin pertandingan harus menghentikan pertandingan di rende kedelapan dari12 ronde yang dijadwalkan setelah petinju asal Bandar Lampung itu beberapa kali mengangkat tangan, tanda tak dapat melanjutkan pertandingan. 

Usai peristiwa naas itu pihak promotor mengaku bahwa tidak ada prosedur yang dilanggar. Mulai dari timbang hingga cek kesehatan sebelum beradu di atas ring dijalani tanpa cela. Meski demikian WBC tetapi memberi nilai merah pada Indonesia. Tubagus bukan korban pertama yang oleh WBC dicap tidak siap menyelenggarakan tinju profesional sesuai standar yang mengutamakan keselamatan petinju. Sejauh ini WBC dikenal dengan aturannya yang ketat dan tidak pernah main-main dengan prosedur dan standar keselamatan.

Perwakilan WBC di Indonesia, Chandru G.Lalwani kepada Antara saat itu beralasan, "Kasus tahun 2013 adalah kejadian yang sudah kedua kalinya terjadi di mana ada petinju yang meninggal karena pertandingan, dan sejak itu Indonesia dapat sanksi.”

Lebih lanjut Lalwani, “Dari investigasi saya, penyebab kematian sebagian besar karena masalah kecil, seperti ambulans yang tidak bisa keluar karena terhalang mobil parkir atau kesiapan perangkat pertandingan."

Setelah tragedi itu, pertandingan antara Tibo versus Patilano di GOR Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat beberapa waktu lalu itu menjadi momen pembuktian bahwa Indonesia bisa lebih siap untuk menyelenggarakan pertandingan tinju profesional. Meski bertanding di arena yang jauh dari layak dan tidak memadai setidaknya pertandingan yang berlangsung dengan lancar itu menjadi titik awal untuk menggairahkan kembali tinju internasional di tanah air.

Bagaimanapun publik tanah air patut mendapatkan tontonan yang lebih rutin baik di tingkat nasional maupun internasional. Animo masyarakat terhadap cabang ini tentu belum juga surut meski selama ini hanya bisa dinikmati melalui layar kaca. Dukungan langsung maupun tidak langsung seperti ini benjadi bagian dari stimulus kepada para petinju tanah air untuk berprestasi.

Tatap Juara Dunia

Indonesia hampir tidak pernah kehabisan bibit petinju berbakat, meski bisa dibilang dengan jari juara dunia dari tanah air. Tak lebih dari tujuh petinju yang pernah mengharumkan Indonesia dengan gelar juara dunia di beberapa kelas. Diawali Ellyas Pical, asal Saparua, Maluku yang menguasai kelas bantam junior IBF sejak 1985 hingga 1987.

Setelah Ellyas, dua tahun kemudian lahir juara dunia lainnya dari Ambon. Meski singkat, Nico Thomas tercatat pernah memegang sabuk juara dunia kelas terbang mini IBF pada 1989, sebelum kehilangan gelar tersebut pada tahun yang sama.

Menanti cukup lama baru pada tahun 1995 juara dunia lainnya muncul. Adalah petinju asal Sumatera Utara, Suwito Lagola yang menguasai sabuk juara dunia kelas welter WBF selama dua tahun sejak 1995 sampai 1997.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN