Filsafat

Seneca, Sebuah Paradoks

7 Juni 2018   20:40 Diperbarui: 7 Juni 2018   21:01 99 0 0

Kata paradoks adalah satu kata yang muncul setelah saya membaca tulisan mengenai Lucius Annaeus Seneca atau yang lebih dikenal sebagai Seneca. Paradoks pertama, di satu sisi, Seneca adalah seorang filsuf, moralis, dan dramatis (penulis sandiwara). Namun di sisi lain, ia adalah penasihat Kaisar Roma yang tiran nan kejam, Nero. Paradoks kedua, secara karakter, di satu sisi, ia memuji kemiskinan. 

Tetapi di sisi lain, ia mengumpulkan banyak kekayaan dan melakukan pemborosan dengan membeli 5.000 meja yang terbuat dari kayu pohon jeruk dan kaki mejanya terbuat dari gading.Membaca kedua paradoks di atas tak ubahnya melihat kedua sisi mata uang logam Rp 1.000. Di sisi depan, uang logam Rp 1.000 bergambar burung garuda dan tercantum nilai mata uang Rp 1.000. Di sisi belakang, uang logam Rp 1.000 bergambar angklung. Kedua sisi tersebut merupakan deskripsi dari satu bentuk yang sama, yaitu uang logam Rp 1.000. 

Begitu juga dengan Seneca. Kedua paradoks Seneca, baik secara aktivitas maupun karakter, membantu saya dalam mendeskripsikan sekaligus memahami pemikiran Seneca. Dalam arti, Seneca secara individu, yakni filsuf Stoa maupun Seneca secara publik selaku penasehat Kaisar Roma Nero.Seneca: Filsuf StoaSeneca lahir di Corduba, Hispania yang saat itu merupakan provinsi terbesar di kerajaan Roma. Seneca adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari kedua orang tua yang merupakan imigran dari Itali. Lucius Annaeus Seneca the Elder, ayah Seneca, adalah orang kaya yang cukup memiliki penunggang kuda warga negara Roma dan bekerja sebagai penulis yang memberi nama dalam administrasi kerajaan.

Ia mempersiapkan kedua anak tertuanya, termasuk Seneca, dalam usia muda untuk berkarir di bidang politik dan melatih mereka dalam deklamasi dan berdebat. Seneca muda tumbuh dan berbicara dalam bahasa Latin. Seneca belajar filsafat, khususnya Stoicism dengan gurunya yang bernama Attalus (fl. A.D. 14 -- 37), filsuf Alexandria yang mengajarkan bahwa manusia bijak meskipun tidak memiliki kekuatan, baik secara politik maupun kekayaan, namun ia adalah raja dalam arti yang sebenarnya. Seneca mempelajari Stoicism karena saat itu filsafat Stoa sedang menjadi "tren". Stoicism pertama kali diperkenalkan oleh Zeno[1]. Ia memimpin kehidupan model bertapa seperti Socrates, Diogenes, dan Crates yang diakui sebagai guru Cynic dan Zeno. 

Stoicism adalah filsafat yang memfokuskan pada ajaran keras etika bertindak baik; bercita-cita sebuah hidup baik dengan ketenangan sebagai kebahagiaan sebenarnya; memahami dan mendamaikan diri sendiri ke ketuhanan; melatih diri melalui kegiatan spiritual sebagai kegiatan fisik, dan membiasakan diri dari sakit fisik dan keadaan emosi tidak tenang seperti marah, nafsu, kesedihan, cemburu, dan ketakutan kematian. 

Filsafat Stoa adalah sebuah ajaran hidup beretika keras yang mengharuskan setiap filsuf Stoa harus mempraktikkan sikap hidup sederhana yang tidak mementingkan kekayaan setiap hari, meskipun filsuf tersebut adalah orang kaya. Adapun dua ciri khas dari filsuf Stoa adalah berpakaian cloak (baju khas filsuf Stoa), mantel pendek yang terbuat dari baju kasar, dan tidur di kasur keras. 

Pada kepemimpinan Chrysippus of Soli (c. 280 -- 207 B.C.) dan Panaetius of Rhodes (185 -- 109 B.C.), Stoicism berkembang menjadi sebuah sistem filsafat. Misalnya, Stoicism mengajarkan bahwa persepsi individu dapat dipertimbangkan dan dipercaya jika memenuhi persyaratan kondisi, termasuk kejelasan, kemungkinan, dan persetujuan dari persepsi orang lain; kosmologi Stoicism melakukan sebuah ketetapan alam semesta yang berjalan melalui pengulangan tapi menetapkan siklus sebelumnya. Pada saat Seneca belajar filsafat, Yunani tidak lagi menjadi pusat belajar filsafat. Beberapa sekolah tradisional filsafat telah ditutup dan murid-murid yang belajar filsafat telah migrasi sepanjang kerajaan. 

Migrasi tersebut menyebabkan perubahan metode belajar filsafat di Athens dari awalnya adalah peripatetics, yaitu kelompok-kelompok kecil yang mengelilingi sang guru, dan mereka hidup berkontemplasi mengenai banyak hal, menjadi scholasticism, yaitu metode belajar filsafat yang memusatkan pada kajian teks dan menafsirkan teks-teks sebagai upaya latihan belajar filsafat. Scholasticism berkembang di Roma dan berhasil mengubah pandangan pragmatis budaya politik di Roma dengan mengkritik abstract idealism dan penekanan kewajiban warga. 

Akibatnya, Scholasticism mendapat perlawanan keras dari Cynics, banyak Epicurean, dan kaum Stoa. Hal ini dapat dilihat dari debat di antara filsuf Roma tentang relativitas res publica versus hidup waktu luang (life of leisure) yang secara tekun berfilsafat. Selain itu, pertentangan antara res publica dan life of leisure menyebabkan diperbaharuinya konsep idea Platon. 

Pada masa pertentangan antara Scholastism dan Stoicism, kondisi kekaisaran Roma berada dalam kondisi terburuk yang disebabkan oleh kepemimpinan raja-raja tiran, misalnya, Tiberius, Caligula, Cladius, dan Nero. Semua raja tiran tersebut telah membuat seluruh penduduk Roma hidup dalam kesengsaraan. Edward Gibbon menyatakan: Peculiar isery of the Romans under the tyrants. Seluruh penduduk Roma memuja raja-raja tiran tersebut sebagai: Caligula adalah orang gila, Nero adalah sadis yang kekanak-kanakan, tidak ada satu pun dari raja-raja tiran tersebut yang menyingkirkan lawan-lawan politiknya secara adil (fair). Seneca sebagai dramatis (penulis sandiwara) menulis Tragedi Thyestes untuk menggambarkan betapa kejamnya dinasti Raja tiran, Julio Claudius. "Power follows misery and misery power, and waves of disaster batter his kingdom." 

Seneca: Penasehat Nero Pada awalnya, Seneca hanya tertarik mempelajari filsafat Stoa dan mencari kebijaksanaan. Salah satu guru pertama dan terpentingnya, filsuf Stoa Attalus mengatakan bahwa manusia bijak meski tidak memiliki kekuatan, baik secara politik maupun kekayaan, ia adalah seorang raja dalam arti yang sebenarnya. Setelah beberapa tahun kemudian, Seneca menjawab ajaran guru filsuf Stoic-nya: "I often felt sorry for mankind and regarded Attalus as a noble and majestic being   above mortal heigh ... Whenever he castigated our pleasure -- seeking lives, and and extolled personal purity, moderation in diet, and a mind free from unnecessary, not to speak of unlawful, pleasures, the desire came upon me to limit my food and drink ... And later, when I returned to the duties of a citizen, I did indeed keep a few of these good resolutions."Pada saat yang bersamaan karya Quintus Sextius, filsuf hidup yang seabad lalu, yang pertama kali mendirikan sekolah filsafat. 


Menurut Seneca, Sextius berbeda dari filsuf lainnya karena ia mengajarkan introspective self-examination dengan mempertanyakan kepada jiwa: sifat buruk apa yang telah diperbaiki hari ini?, kesalahan apa yang telah kamu perbaiki?, dalam sikap menghargai seperti apa kamu menjadi lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah membuat Seneca jatuh cinta pada ajaran Sextius. Lalu ia belajar ajaran Sextius melalui pengikutnya yang bernama Papirius Fabianus, guru Roma yang mengajarkan ajaran Socratic dan Stoic tentang nilai-nilai ideal integritas. Melalui ajaran Sextius dan Fabianus, Seneca belajar filsafat pragmatis Roma hingga akhirnya terlatih menjadi orator ulung.

Reputasi Seneca sebagai orator menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Mulai dari Kaisar Caligula hingga penggantinya Kaisar Caligula, Kaisar Claudius yang mengekskusi Seneca ke Corsica dengan dalih bahwa sang orator ulung telah berzina dengan saudara perempuan Caligula, Julia Lavilla. Selama pengasingan, ia dengan belajar filsafat dan ilmu alam (kehidupan yang dianjurkan oleh pemikiran Stoik Romawi) dan menulisConsolations. Pada tahun 49, istri keempat Claudius, Agrippina, memanggil Seneca kembali ke Roma untuk menjadi tutor bagi putranya, Nero, yang saat itu berusia 12 tahun. Pada saat Claudius mati, Agrippina berhasil mengumpulkan dukungan bagi Nero untuk menjadi Kaisar, mengalahkan putra Claudius, Britannicus.

Selama delapan tahun (dari tahun 54 sampai 62), Seneca menjadi penasihat Nero, bersama dengan seorang prefekpraetorianSextus Afranius Burrus. Pengaruh Seneca sangat kuat pada tahun pertama Nero menjadi kaisar. Namun seiring bertambahnya sifat tamak Nero terhadap kekuasaan, pengaruh Seneca semakin memudar. Lalu pada tahun 59, Nero berniat membunuh Agrippina, ibu kandungnya sendiri. Meskipun Seneca tidak menyetujui pembunuhan tersebut, namun ia secara tidak jujur menulis laporan pembersihan kesalahan bagi Nero kepada Senat Romawi

Melalui kasus pembunuhan tersebut, saya melihat hubungan antara Kaisar Nero dan Seneca lebih bersifat hubungan hierarki antara atasan dan bawahan karena ia tunduk pada penguasa Nero. Seneca sebagai filsuf Stoa yang menjunjung tinggi kebijaksanaan tidak mempunyai kekuatan untuk mengubah keputusan Kaisar Nero untuk tidak membunuh Agrippina. Di sinilah letak paradoks Seneca seperti yang telah saya singgung di awal.

Kumpulan 124 Moral Letters: Sebuah Kontemplasi Seneca

Paradoks Seneca semakin terbaca jelas saat saya membaca kumpulan 124 Moral Letters yang ditulisnya sesaat sebelum ia meninggal akibat bunuh diri dengan mengiris kedua urat nadi tangan, kaki, dan belakang lututnya. Kumpulan 124 Moral Letters ditujukan kepada tiga pembacanya: dirinya sendiri, teman-teman sesama filsuf, dan kemakmuran. Kumpulan 124 Moral Letters merupakan hasil kontemplasi pergulatan batin Seneca selama hidupnya, khususnya pemikiran ia sebagai filsuf Stoa maupun ia sebagai penasihat Kaisar Roma, Nero. 

Seneca menyadari bahwa posisinya sebagai filsuf Stoa sekaligus penasehat Kaisar Roma yang tiran, Nero telah menimbulkan konflik, tidak hanya konflik pada batin dirinya sendiri, tetapi juga pada sesama filsuf, dan penduduk Roma. Filsafat telah menjadi alat legitimasi dan diperalat untuk fungsi penegakkan kekuasaan. Kaisar Nero memanjakan Seneca dengan memberikan kekayaan dan kemewahan sebagai upah dari loyalitas Seneca. Sebagai bentuk kesadaran dari kesalahan yang telah dibuatnya, akhirnya Seneca memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai penasehat Kaisar Nero. Namun sayangnya, keinginan tersebut ditolak Kaisar Nero.

[1] Seperti Plato, Zeno menulis buku-buku, termasuk tentang institusi politik; seperti Aristotle, ia memperkenalkan konsep Tuhan.