Mohon tunggu...
Carla Listiarini
Carla Listiarini Mohon Tunggu... Indonesia

Content Editor, Ordinary

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dibalik Layanan Pembuatan SIM Bekasi

13 April 2016   20:42 Diperbarui: 20 April 2016   10:24 89 0 0 Mohon Tunggu...

Semua warga Bekasi -yang pernah membuat SIM, baik SIM A atau SIM C- tentunya sudah sangat tahu betapa 'transparan', 'cepat tanggap', dan 'mudah'nya institusi terkait dalam memberikan SIM. Ini bukan hal baru lagi, SIM yang seharusnya menjadi bukti kelayakan keterampilan mengemudi telah menjadi komoditi. Komoditi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Kantor lembaga terkait memang terlihat berusaha memperbaiki layanan pembuatan SIM agar lebih jujur dan berkualitas. Pemasangan spanduk yang menyatakan larangan calo masuk, ujian teori dengan sistem online/komputer, dan petunjuk prosedur yang jelas. Bahkan institusi ini memiliki perpustakaan kecil, dimana buku-buku untuk latihan ujian teori dan buku lainnya tersedia dan dapat dipinjam warganya. Entah sejak kapan proses ujian SIM berubah, setelah ujian praktek kini untuk membuat SIM A ada 2 macam ujian praktek. Hal ini dilakukan dengan niat memastikan kualitas keterampilan pemegang SIM. Aturan baru juga menyebutkan bahwa perpanjangan SIM yang lebih dari 3 bulan harus mengajukan SIM baru. Perubahan yang cukup baik bukan?

Pada umumnya dalam membuat SIM, biaya yang diperlukan tidak lebih dari 200 ribu rupiah dan mengikuti ujian teori serta praktek. Namun hidup memang penuh cobaan, ujian teori tidak semudah yang dibayangkan (seperti yang dibagikan oleh saudara Agus di http://asze25.blogspot.co.id/). Saya sendiri 2x mengulang ujian teori untuk SIM A. Bapak-bapak yang dibelakang saya juga komplain: kenapa susah banget ya sekarang? Saat saya mengambil ujian teori tersebut, adapula siswa SMA mengeluh karena gagal ujian teori. Dan saya masih ingat tanggapan staff terkait, katanya: "Mau cepet? Makanya tadi kasih biaya administrasi saja 350.000 didepan". Ia pun mengingatkan sang siswa agar tidak bolos sekolah untuk ujian SIM. 

Lulus ujian teori, ujian praktek SIM A maupun SIM C sungguh cobaan. Untuk ujian mobil, anda harus bisa melaju 5 meter dan belok 90 derajat, kemudian-seakan praktik parkir mundur- anda harus mundur kembali ke posisi awal (betul??) tanpa mengenai patok yang tersedia (mungkin hanya sekitar 30 cm dari sisi mobil). Untuk ujian SIM C, anda harus mengitari cone-cone yang tersedia tanpa berhenti dan mengenai cone tersebut. Karena saya mengambil ujian praktek SIM A, yang perlu dipertanyakan adalah Apakah jalanan di Indonesia se-sempit itu?? Apakah dalam praktiknya parkir mobil harus selalu belok 90 derajat seperti itu?

Transparan, cepat tanggap, dan mudah memang benar adanya. Para staff institusi terkait di Bekasi ini sungguh transparan mengenai kemudahan pembuatan SIM. Tampaknya setiap staff sudah menggangap penyediaan jalan pintas membuat SIM adalah hal lumrah. Sedikit kode didokumen pengajuan SIM, mereka pun sudah tahu harus kemana pengajuan SIM itu diberikan. Para calo juga dengan mudahnya keluar masuk kantor institusi tersebut, menjadi pemandu bagi mereka yang perlu layanan ini(padahal spanduk tertulis berkata lain). Para calo menawarkan jasa pembuatan SIM sebesar 550rb-600rb, tarif ini terlihat masuk akal jika menambahkan 175rb (biaya resmi SIM) + 350rb (biaya admin yang disebutkan lembaga terkait). Para staff lembaga terkait pun dengan cepat tanggap memberikan solusi untuk melewati hambatan mendapatkan SIM ini. Pada akhirnya pembuatan SIM bisa dibilang sangat mudah, kenapa? Karena dalam waktu kurang dari 30 menit SIM A ataupun SIM C anda sudah jadi milik anda. Dengan catatan siapkan 'biaya administrasi'. 

Ini pengalaman nyata saya membuat SIM A di Bekasi. Saya prihatin, namun ironisnya saya pun turut menjadi oknum. Oknum yang ikut berkontribusi menjadikan praktik semacam ini terus terjadi. Karena tidak mau ambil pusing, saya ambil layanan kilat ini. SIM A pun 'berhasil' saya dapatkan. 

VIDEO PILIHAN