Mohon tunggu...
Hamdani
Hamdani Mohon Tunggu... Konsultan

Ekspresikan Pikiran Melalui Tulisan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Cina Batasi Publikasi Ilmiah Asing Masuki Negaranya

25 Desember 2018   21:23 Diperbarui: 25 Desember 2018   21:44 243 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cina Batasi Publikasi Ilmiah Asing Masuki Negaranya
Ilustrasi | pexels.com

CNN Indonesia melansir artikel yang dirilis oleh Reuters Internasional (20/12) terkait dengan upaya China membatasi dan bahkan melarang diterbitkannya jurnal-jurnal ilmiah asing yang tidak sesuai dengan pandangan pemerintah. 

Kebijakan China itu sudah terealisasi sejak tahun 2017 silam. Dengan melakukan upaya sensor terhadap penerbit jurnal asing yang dapat diakses oleh China. Akibatnya Penerbit asal Inggris, Taylor and Francis Group menarik 80 jurnal dari China atas permintaan otoritas setempat.

Jurnal yang berjudul Asian Studies Review, baru saja dilarang di China karena memiliki konten yang dianggap kurang pantas. Oleh pemerintah yang berkuasa saat ini menganggap jurnal tersebut dapat membahayakan ideologi, politik, dan paham komunis yang menjadi partai berkuasa. Sebab itulah maka jurnal tersebut telah dilarang. 

Menurut informasi yang tersiar bahwa ini jurnal ilmiah terbaru yang dilarang oleh China, sejak pemerintahan di bawah kendali Xi Jinping berkuasa. Namun sebelumnya sudah banyak juga publikasi ilmiah asing yang dilarang oleh Presiden China tersebut. Termasuk setiap publikasi yang masuk ke China harus mendapatkan verifikasi legal dari pemerintah. 

Sensor di bawah kendali Presiden Xi Jinping dianggap semakin ketat. Di samping itu, Partai Komunis China juga dianggap memaksakan prinsip dan sudut pandangnya di bidang kemasyarakatan, sejarah, dan politik ke dalam dunia pendidikan.

Sehingga penerbit terpaksa menghapus sebanyak 83 jurnal dari paket jurnal segmen seni, humaniora, dan ilmu sosial sejak September silam, yang sedianya akan dikirimkan ke perpustakaan seluruh China. Sebagai akibat dari tekanan yang dilakukan oleh pemerintah China. 

Padahal disisi lain, China merupakan negara yang sangat produktif mengasilkan publikasi ilmiah dunia. Sejak tahun 2016 publikasi China sudah melampaui USA. Publikasi ilmiah China di Scopus mencapai 426.000 artikel atau 18,6 persen. Sedangkan USA 409.000 dokumen. Jika melihat fakta ini mestinya China juga bersifat fair agar membuka diri terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dari berbagai sudut pandang. 

Ketatnya penyaringan publikasi internasional yang terbit di China dilakukan oleh otoritas setempat, mungkin reaksi atas penghapusan atas jurnal mereka sebelumnya oleh penerbit internasional lain. Sebagaimana diketahui penerbit jurnal internasional Springer Nature (2017) menemukan 107 laporan penelitian yang didaftarkan kepada mereka dari para peneliti Cina janggal. Oleh karena itu ratusan laporan penelitian harus dihapus dari database mereka.

Pemalsuan penelitian ilmiah oleh peneliti China bukanlah hal baru. Tahun lalu, ditemukan sebanyak 80 persen dari data yang digunakan dalam percobaan klinis untuk obat farmasi baru di China telah dipalsukan. Publikasi ilmiah yang banyak dipalsukan terutama dibidang farmasi dan biologi. 

Pun demikian tindakan otoritas China melarang berbagai tulisan ilmiah yang bersifat sensitif bagi rezim, mengingatkan kita pada aksi kaisar pertama Cina, Qin Shi Huang, yang konon mengubur hidup-hidup 460 cendekiawan plus buku-buku terlarang mereka.

Langkah-langkah represif yang dilakukan oleh Presiden Republik Rakyat Cina (RRC), sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis Cina (PKC) Xi Jinping dalam bidang kecendikiawan, sebagai upaya melindungi pengaruh otoritas China dan ideologi komunis bagi rakyatnya. Demi kepentingan nasional China berlakukan sensor ketat publikasi ilmiah asing yang mungkin dapat dibaca oleh akademis dan pelajar China. 

Bagaimana dengan Indonesia? (*)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x