Hamdani
Hamdani Cangkoi Burong | Penulis Independen

Ekspresikan Pikiran Melalui Tulisan

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Meskipun Kecewa, Tapi Tidak Golput

11 Agustus 2018   09:08 Diperbarui: 11 Agustus 2018   11:10 302 3 2
Meskipun Kecewa, Tapi Tidak Golput
republika.com

Kejutan Jokowi kali ini benar-benar tidak membuat saya "surprise", bahkan cara Jokowi memilih Cawapresnya saya anggap sama dengan kejutan saat menaikkan BBM. Hadiah yang justru mengecewakan hati saya. 

Namun apa daya, ibarat pribahasa "bagaikan pungguk merindukan bulan". Maknanya, saya hanyalah sosok pungguk yang tidak mungkin bisa mencapai istana, mustahil suara hati saya terdengar sampai ke petinggi koalisi Indonesia Kerja. 

Bagi saya, kali ini Jokowi benar-benar sangat mengecewakan. Dengan memilih Ma'aruf Amin yang sudah seharusnya pensiun dari hiruk pikuk politik. Justru diiming-iming dengan kekuasaan yang strategis, dan untuk jabatan setinggi Wapres membutuhkan orang bukan seperti Ma'aruf Amin. 

Rasionalitas politik Jokowi dan partai koalisi hanya tertuju pada meraih kekuasaan. Bagaimana tidak? Dari banyak analisis politik yang saya dengar dari para pakar dan pengamat,  Jokowi memilih Ketua MUI tersebut agar dapat dijadikan sebagai tameng istana, mengingat selama ini Jokowi kerap dituduh anti Islam, komunis, dan lebih membela kepentingan asing. 

Dengan menggandeng Ma'aruf Amin, maka secara kasat mata akan tampak di mata publik sebaliknya, Jokowi pro Islam, dekat dengan ulama, menghalau kritikan berbau Islam. Dan jelas anti komunis. Jika keputusan yang diambil hanya berdasarkan itu, maka disitulah saya kecewa berat sama Jokowi. Ternyata Jokowi masih sangat trauma dengan Pilkada DKI Jakarta. 

Apalagi kalau kita melihat usia Ma'aruf Amin yang sudah 70 tahun lebih. Bagi orang Indonesia, seusia itu bukan lagi saat yang tepat untuk bekerja penuh waktu, apalagi menduduki jabatan strategis selevel wakil presiden. Itu sama saja menambah beban hidup bagi orang tua, dan sikap demikian bukan sikap yang terpuji. 

Apakah Jokowi takut dengan ummat Islam? Hingga perlu mencari tonggak kuat seperti Ma'aruf Amin? Kenapa tidak Muhaimin Iskandar? Atau Said Aqil Siroj? Atau sekalian saja Habib Rizieq? Yang secara usia masih produktif, fisik masih kuat. Atau jangan-jangan bahwa yang dikatakan para pengamat politik itu benar, bahwa Ma'aruf Amin bukan ancama bagi partai koalisi pada Pilpres 2024. Sebab itulah dipilih ulama gaek tersebut. 

Sedih, miris dan berbagai perasaan penyesalan bercampur menjadi satu, itulah yang saya rasakan saat ini. Walaupun teman saya sudah mengingatkan agar jangan "baper"  jika membaca urusan politik kekuasaan di negeri ini. Tapi bagaimana saya bisa serta merta menghilangkan rasa tersebut kalau setiap saat terlihat foto Jokowi dengan Ma'aruf Amin terpampang di media-media. Haruskah saya menutup mata, tutup telinga? Oh tidak. 

Terkadang saat ini saya malah lebih memuji Prabowo Subianto, ternyata lebih cerdas dalam menentukan Cawapresnya. Dengan memilih Sandiaga Uno, mengindikasikan bahwa kemampuan Prabowo Subianto melihat sosok seperti apa yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia saat ini dan proses kaderisasi pemimpin nasional masa depan lebih jelas dan terarah. 

Bahkan saya jadi bersimpati pada Sandiaga Uno ketika saat deklarasi dan waktu pendaftaran ke KPU, dengan pidato singkatnya mampu melihat persoalan bangsa saat ini, menawarkan solusi, dan visi membangun pemerintahan yang bersih jelas terlihat. Itu pemimpin visoner. Namun saya tidak mendengar apapun dari Ma'aruf Amin. 

Tapi sudahlah, keputusan sudah dibuat. Penetapan pun sudah dilakukan oleh KPU. Semua itu tidak mungkin diubah lagi. Waktu yang sudah berlalu tidak mungkin ditarik mundur kembali. 

Yang bisa saya lakukan adalah bagaimana saya menata hati kembali, berpikir positif dan membesarkan harapan. Semoga apapun pilihan yang telah diambil menjadi yang terbaik. Dan dapat membawa kemashalatan bangsa ini kedepan.

Jadi sekarang saya hanya menunggu hari H untuk pencoblosan nanti di April 2019. Yang jelas tidak perlu golput.  Pilih pasangan calon yang mampu membawa bangsa Indonesia jadi lebih sejahtera, damai dan bermartabat diantara bangsa-bangsa lain di dunia. 

Salam.[]