Hamdani
Hamdani Cangkoi Burong | Penulis Independen

Ekspresikan Pikiran Melalui Tulisan

Selanjutnya

Tutup

Makro

Bulog Impor Beras, Kementan No Comment

19 Mei 2018   15:05 Diperbarui: 21 Mei 2018   08:36 818 1 0
Bulog Impor Beras, Kementan No Comment
Foto: Kompas.com

Ditengah masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar US pada level terburuk sepanjang tahun 2015-2017 yang mencapai Rp14.000 lebih. Pemerintah justru merencanakan untuk melakukan impor beras memperkuat stok pangan dalam negeri. 

Tidak ada yang salah dengan impor, karena ekpor dan impor adalag kegiatan perdagangan antar negara dalam ekonomi terbuka. 

Namun yang menjadi pertanyaan rakyat mengapa beras yang diimpor? Atau kenapa bukan justru diekspor? Apakah Indonesia defisit produksi padi? 

Menurut Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Juni 2018 nanti akan terjadi panen bahkan luas panen padi periode ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 1,2-1,3 juta ha menjadi 1,7 juta hektare. 

Bahkan stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PICB) sudah mencapai 40.000 ton, sementara beberapa tahun lalu hanya berkisar 18.000-20.000 ton. Berarti naik dua kali lipat. Begitu kata Menteri Pertanian RI,(Serambi Indonesia, 19 Mei 2018).

Dari pernyataan Kementan di atas secara implisit tersirat bahwa pihaknya saat ini berhasil meningkatkan produksi padi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri walaupun Amran Sulaiman tidak menyatakan secara tegas soal itu. 

Tapi benarkah Indonesia telah mandiri dalam produksi padi atau mungkin benar bahwa Indonesia sudah swasembada beras, sehingga tidak perlu impor lagi? Biarlah pemerintah yang menjawabnya.

Namun Bulog sendiri yang ditugasi mengurus tata niaga beras dan mengelola pangan nasional, mendapatkan perintah dari Kementerian Perdagangan RI untuk melakukan impor beras sebanyak 500.000 ton yang sebelumnya juga sudah mendapatkan izin impor dengan jumlah yang sama. Jadi praktis tahun ini Bulog sudah memperoleh izin impor beras sebanyak 1 juta ton. 

Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan tujuan penugasan impor beras kepada Bulog dengan tujuan penguatan stok pemerintah dan stabilisasi harga. 

Fluktuasi harga beras dipasaran yang sampai saat ini belum berada pada harga yang diinginkan pemerintah itulah yang mendorong Kemendag untuk memberikan izin impor tambahan bagi Bulog. 

Namun Direktur Utama Bulog, Budi Waweso belum menjajaki impor beras tersebut. Bulog akan mempelajari izin impor tersebut. Jika pun perlu diimpor tentu tidak harus sekarang, perlu ada hitungan produksi seperti apa kebutuhannya. (kompas.com)

Kecanduan Impor?

Bila kita melihat data perkembangan impor menurut golongan barang periode 2011-2017, peningkatan impor terjadi pada barang konsumsi pada 2015 pertumbuhannya mencapai 40%, (Yusniar, 2018). Peningkatan tersebut cukup signifikan mengingat Indonesia adalah negara yang bisa memproduksikan komoditas pangan dan barang konsumsi sendiri. 

Bahkan kita mencatat, pemerintah juga melakukan impor jagung, kedelai dan ubi. Pada tahun 2017 Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 589 ribu ton, meningkatkan 11% bila dibandingkan dengan tahun 2016 yang hanya sekitar 527 ribu ton. 

Yang paling ironis adalah impor singkong. Konon dalam sebuah lagu sering Indonesia ini digambarkan sebagai tanah surga  di mana tongkat kayu dan batu juga bisa jadi tanaman. Begitu hebatnya kesuburan tanah negeri ini. Namun faktanya ubi kayu (singkong) juga perlu diimpor. Berdasarkan data, rata-rata impor singkong pada tahun 2017 mencapai 32 ribu ton. 

Belum lagi impor komoditas lain, yang sebetulnya bisa kita tanami sendiri. Seperti bawang putih, gula dan padi tadi. 

Sepertinya para menteri terkait perlu memperkuat lagi koordinasi antar K/L, Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan harus saling berbagi data dan informasi yang akurat dalam menentukan volume produksi dan kebutuhan konsumsi masyarakat. 

Hal ini penting dilakukan oleh pemerintah, apalagi dalam kondisi ekonomi dalam negeri masih sulit bergerak, ditambah lagi dengan anjloknya nilai tukar rupiah. Maka semakin tertekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa impor akan berpengaruh kepada transaksi berjalan dan neraca perdagangan, apalagi jika posisinya defisit. Kondisi tersebut semakin membuat nilai rupiah sulit menguat.