Mohon tunggu...
candra pungkiwibowo
candra pungkiwibowo Mohon Tunggu... HoroVan

Ragnarok prontera~

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Ide Pola Angkut Komoditas Ternak Tahun 2014

23 Mei 2019   02:33 Diperbarui: 23 Mei 2019   03:03 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ide Kementrian Perhubungan dalam mengatasi pemerataan distribusi hewan ternak dari daerah produsen menuju daerah konsumen dengan cara menyediakan kapal angkutan khusus ternak memang harus diapresiasi tinggi, karena dengan disediakannya kapal khusus ternak tersebut maka distribusi hewan ternak dari daerah produsen menuju konsumen akan mengalami peningkatan. 

Tetapi apabila fungsi kapal hanya digunakan untuk mengangkut ternak saja, maka penulis berpikir hanya akan menambah beban transportasi di darat. Hal tersebut dilandasi dari belum adanya alat transportasi darat khusus ternak dengan kapasitas besar, kapasitas ternak yang dapat mampu diangkut pada jalur darat dalam sekali jalan hanya berkisar antara dua hingga tujuh ekor untuk satu kendaraan. 

Dapat dibayangkan apabila pasokan sapi meningkat maka pastinya akan terjadi peningkatan volume transportasi di jalur darat. Maka untuk mengurangi resiko tersebut, diperlukan sebuah pola angkut ternak yang baru. 

Dari sebelumnya mengangkut ternak dalam kondisi hidup maka beralih menjadi mengangkut ternak dalam keadaan sudah melalui proses pemotongan, artinya hewan ternak yaitu sapi atau kerbau sudah dalam bentuk karkas yang siap konsumsi. 

Memang tidak harus semua ternak dilakukan proses pemotongan dan pengemasan, mengingat daerah tujuan pengiriman tidak sebatas di daerah sekitar pelabuhan. Hal ini berhubungan dengan kebiasaan konsumen yang lebih memilih daging segar dari pada daging beku. 

Dengan asumsi karkas sapi berkisar antara 45 persen hingga 55 persen dari berat tubuh maka apabila sebuah truk dapat mengangkut sapi hidup dengan berat tubuh 300 kg sejumlah tujuh ekor hanya dapat mendapat total karkas sapi sebesar 945 kg, jauh berbeda dengan pengangkutan dalam keadaan karkas yang mencapai 2100 kg. 

Hal ini sangat efisien mengingat pada umumnya masyarakat cenderung mengkonsumsi daging karkas dibanding bagian lainya. Selain itu apabila dilakukan proses pemotongan terlebih dahulu maka akan mengurangi bahkan menghilangkan resiko penyusutan berat badan. Dengan asumsi berat sapi 300 kg dengan penyusutan 12 persen maka akan terjadi penyusutan sebesar 36 kg, apabila harga berat hidup sapi sebesar Rp. 15.000 per kilogram maka akan terjadi kerugian sebesar Rp. 540.000 per ekor. 

Dengan adanya proses pemotongan terlebih dahulu dan pengawetan sekaligus pengemasan di dalam kapal maka resiko penyusutan berat badan dapat di kurangi. Dalam hal pemberian pakan dan minum akan menjadi semakin hemat, sehingga biaya pemeliharaan sapi saat berada dalam perjalan dapat ditekan. 

Untuk menunjang hal di atas maka diperlukan sebuah desain kapal yang fungsinya tidak hanya mengangkut sapi saja tetapi juga berfungsi sebagai tempat pengolahan daging sapi. Sehingga saat sapi diturunkan pada daerah tujuan maka tidak akan menjadi masalah baru lagi. Penulis mempunyai dua gagasan, yang pertama adalah perlu dibangunya fasilitas rumah potong hewan di area pelabuhan dengan kapasitas dan kualitas yang tinggi. 

Pembangunan rumah potong hewan diperlukan karena di tempat tersebut sapi akan mengalami proses pemotongan sebelum diangkut menuju kapal sehingga akan lebih ringkas dalam proses pendistribusiannya, selain itu di tempat tersebut dapat dilakukan penggolongan kualitas jenis daging sesuai dengan permintaan konsumen. 

Kemudian gagasan kedua adalah disediakanya fasilitas pengawetan di dalam kapal. Hal ini bertujuan untuk mengawetkan karkas daging agar saat pendistribusian tidak terjadi kerusakan, teknik pengawetan daging dengan cara penyimpanan pada suhu dingin ada dua cara yaitu disimpan pada ruangan dengan suhu mendekati 32o F dan dengan cara dibekukan lalu disimpan pada ruangan bersuhu dibawah 0o F. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2