Mohon tunggu...
Cak Bro Cak Bro
Cak Bro Cak Bro Mohon Tunggu... Bagian dari Butiran debu Di Bumi pertiwi

Menumpahkan barisan Kata yang muncul di Pikiran

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Dapatkah Pola Kepemimpinan Nabi Diterapkan dalam Organisasi?

11 Mei 2021   14:13 Diperbarui: 11 Mei 2021   14:27 240 1 0 Mohon Tunggu...


A. Pengantar

Menjelang akhir bulan suci ramadahan 1442 H ada baiknya kita bermuhasabah atau melakukan perenungan diri selaku hamba Allah yang menjadi khalifah dimuka bumi ini. Terutama untuk melakukan introspeksi diri apakah perilaku, semangat hidup serta jalan hidup yang kita lalui sudah mengikuti tuntunan dalam kitab suci Al-qur'an yang di ejawantahkan melalui sikap perilaku tauladan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah Muhammad SAW diturunkan ke bumi untuk dijadikan panutan sebagai manusia yang berakhlak mulia karena memiliki sikap empati, simpati dan kepedulian terhadap sesama, sesuai dengan Hadits Nabi : "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (HR Muslim).

Seperti kita ketahui, di era akhir jaman ini pesatnya perkembangan teknologi dan kemajuan jaman dalam kehidupan masyarakat telah terjadi pergeseran nilai dan perilaku yang luar biasa memprihatinkan. Pilar-pilar akhlak dan etika makin tergerus oleh serbuan budaya dan kultur asing yang tidak baik, baik melalui media cetak dan elektronik, maupun melalui dunia maya atau internet. Serbuan tersebut tidak dapat kita bendung, karena teknologi telah menembus dunia kasat mata tanpa batas jarak dan lokasi. Melalui situs-situs  dunia maya yang bisa diakses selama 24 jam, bahkan transaksi untuk memenuhi kehidupan bisa dilakukan sambil tiduran di rumah atau kita bebas menonton berbagai acara show atau berita apa saja.

Teknologi informasi dan komunikasi terkini memang banyak memiliki manfaat bagi kehidupan kita. Namun disisi lain juga banyak mudharat atau ekses negatif karena adanya budaya dan kultur yang tidak cocok yang bisa sebagai bencana sosial dan menimbulkan perilaku negatif, karena ternampak dari perilaku anak bangsa yang sudah melanggar tata istiadat dan norma yang berlaku. 

Oleh karena itu, sdh saatnya kita lakukan usaha untuk menanggulangi dan mengatasi keterpurukkan secara sistemik dan berkesinambungan untuk kembali kepada khittah menauladani seorang pemimpin umat agar terhindar dari kehancuran budaya bangsa melalui penetrasi merubah paradigma dan mindset pola pikir kita. Memang tidak ada salahnya jika kita mengadopsi teknologi dan budaya positif serta sistem dan manajemen bangsa asing, namun harus kita sesuaikan dengan budaya kearifan lokal terutama perilaku yang jauh dari nilai-nilai agama.

B. Rasulullah Sebagai Tauladan Umat dan Pemimpin Yang Berakhlak Mulia

Rasulullah saw dihadirkan oleh Allah ke muka bumi ini, sebagai figur yang memiliki empati, simpati, dan kepedulian yang sangat kuat dan tidak bisa bersikap acuh tak acuh ketika melihat, menghadapi situasi ketidakadilan dan kesengsaraan yang dirasakan oleh umatnya yang beriman. Beliau juga merupakan insan yang berintegritas karena dalam bertindak dan berperilaku selalu konsisten antara ucapan dan tindakan.

Ketika Nabi Muhammad SAW mengajak dan menyeru kepada umatnya untuk beribadah, beliau selalu memulai dengan memberi contoh sebagai teladan terlebih dahulu. Dalam hal shalat misalnya, beliau menegaskan: "shallu kama raaitumuni ushalli" artinya "shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat". Dalam ibadah haji pun, beliau menegaskan : "khudzu 'anni manasikakum" artinya "ambillah dari aku dalam tata cara berhaji kalian". Allah SWT berfirman: "Sungguh bagi kalian, Rasulullah saw adalah teladan yang baik, bagi orang-orang yang berharap mendapat ridha Allah, (kehidupan yang indah di) hari akhir, dan berdzikir kepada Allah dengan memperbanyak dzikir" (QS. Al-Ahzab: 21).

Dalam kehidupan keseharian, beliau adalah sosok yang sangat menghormati tamu, tetangga, dan tentu saja keluarganya. Tutur katanya bagus, sopan, lembut dan amanah, dan memposisikan orang lain sebagai sosok yang harus dihormati. Dalam bertutur kata, beliau menegaskan : "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik, atau lebih baik diam (kalau tidak biasa berkata baik)". Demikian juga, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormatilah tetangganya". 

Dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berpemerintahan senantiasa teguh dalam menjunjung tinggi akhlak yang mulia. Dalam berdagang dan meletakkan kehidupan ekonomi beliau mengharamkan cara-cara ribawi yang mana para kapitalis mengeksploitasi kepada para mereka yang kurang mampu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN