Mohon tunggu...
Mohammad Iqbal Fardian
Mohammad Iqbal Fardian Mohon Tunggu...

Pendidikan Terakhir saya Pasca sarjana Universitas Jember, Magister Ekonomi Pembangunan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Belajar dari Rivalitas Spain El Classico

3 November 2012   04:21 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:02 0 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh : M.Iqbal Fardian

Ketika kita mendengar Spain El Classico, kita pasti akan menunjuk rivalitas antara Barcelona dan Real Madrid. Selalu menyajikan tontonan yang super dahsyat. Persaingan Klasik antara dua tim yang mewakili kasta social yang berbeda, namun kita tidak sedang hendak mendiskusikusikan persoalan kasta social kedua tim tersebut. 2-3 Tahun terakhir ini El Classico memang semakin memaksa semua mata pencinta sepak bola di seluruh dunia harus menoleh pada rivalitas keduanya. Kalau kita amati bersama sesungguhnya rivalitas keduanya sesungguhnya merupakan rivalitas dua philosophy sepak bola yang berbeda. Personifikasi rivalitas keduanya seolah tampak dari dua sosok fonumenal yang berada dibalik kemudi kedua tim, yaitu Joseph Guardiola di pihak Barcelona dan Jose Maurinho dipihak Real Madrid.

Perbedaan football philosophy keduanya memang mengajarkan kepada kita bahwa sepak bola tidak saja permainan sebelas lawan sebelas, namun juga pertarungan atas cara pandang mereka kepada sepak bola.Lihat bagaimana mereka menterjemahkan football philosophy di lapangan dengan cara mereka sendiri-sendiri, mulai dari metode kepelatihan, pemilihan pemain hingga strategi yang digunakan. Semuanya mencerminkan bahwa mereka bukan saja melatih sekumpulan anak muda terbaik di jagat rayatapi mereka adalahseorang seniman, ilmuwan dan penterjemah atas football philosophy dari kedua tim yang telah memiliki rivalitas kesejarahan yang cukup panjang.

Pelajaran dari Rivalitas Spain El Classicomemberikan bukti nyata perbedaan Philosopy dalam permainan sepak bola ternyata menghasilkan variasi permainan yang berbeda. Para pelakunya sadar penuh atas pilihan pilihan yang menjadi pembeda atas perbedaan philosophy yang mereka anut. Strategi permainan, pemilihan pemain semuanya tunduk kepada statement abstrak yang menjadi ruh atas pandangan mereka atas sepak bola. Padahal kalau kita amati mereka pelaku sepak bola di masing masing klub berasal dari berbagai penjuru dunia yang memiliki latar belakang dan kultur yang berbeda beda pula.

Dari uraian diatas, sesungguhnya banyak yang bisa kita petik pelajaran khususnya dalam bidang pendidikan. Apa yang bisa kita ambil pelajaran buat para guru sebagai aktor sentral yang seringkali dituding dibalik rendahnya kualitas pendidikan di tanah air. Beberapa point yang bisa kita ambil, para guru sebelum melaksanakan tugasnya harusnya mencoba untuk berfikir mendasar dan mendalam,bagaimana mereka harus mempersepsikan belajar dan pembelajaran. Langkah ini sangat penting karena melalui langkah ini guru akan mendapatkan cara berpikir yang benar (philosophy) terhadap pendidikan, peserta didik, kecerdasan dan bagaimana manusia belajar (modalitas belajar). Dari seperangkat keyakinan ini guru dapat mengkonstruksi sebuah metode pembelajaran dan strategi belajar yang sesuai dengan apa yang dia yakini tentang belajar.

Bukankah teori teori tentang belajar telah melangkah dan bergerak maju dari teori yang bercorak behavioristik, cognitistik, social learning teori dan multiple intelligence, memberikan pilihan pijakan terhadap para guru dalam memahami medan tugasnya. Masing-masing memiliki dasar dan pijakan filosofis yang cukup kuat.

Kongkritnya penulis selama 10 tahun lebih menjadi guru mencoba memetakan medan tugas seorang guru dengan asumsi dasar bahwa peserta didikdengan segala latar belakang kehidupannya hadir kesekolah dengan membawa keunikan tersendiri. Bakat berbeda, latar belakang berbeda, gaya belajar berbeda, visi, motif, value juga berbeda. Pemaknaan terhadap kecerdasan pun saya memiliki perbedaandengan kebanyakan para praktisi pendidikan yang lain dimana mereka biasanya menggunakan alat ukur kuantitatif berupa test IQ sebagai rujukan utama. Asumsi dasar yang saya gunakan manusia dilahirkan dengan memiliki tipe kecerdasan dan bakat yang berbeda. Akan menjadi tidak adil ketika guru tersebut hanya menghargai peserta didik yang cerdas angka dan bahasa, sementara menganggap bodoh peserta didik yang memiliki tipe kecerdasan yang lain. Teori kecerdasan model IQ ternyata akan mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan siapa yang lebih cerdas antara Albert Einstein dan Diego Maradona. Mereka menjadi dirinya sendiri dan memiliki konstribusi yang berbeda bagi peradaban.

Pemahaman mendasar semacam ini menjadi kenyataan yang tidak terelakkan bahwa tidak akan pernah ada di dunia ini terdapat sekumpulan manusia yang semuanya serba homogen. Peserta didik adalah entitas yang unik yang memiliki potensi kecerdasan dominan yang berbeda beda. Meminjam istilah Howard Gardner, setidaknya manusia memiliki 8 potensi kecerdasan dalam dirinya, dan setiap anak pasti memiliki satu atau dua potensi kecerdasan dominan.

Dengan melihat keragaman dan potensi kecerdasan yang terdapat didalam diri peserta didik, saya tidak pernah mengajar di dalam kelas dengan hanya menggunakan strategi tunggal, misalkan hanya dengan metode ceramah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Implementasinya saya akan menggunakan pendekatan yang mengoptimalkan 8 potensi kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik untuk memberikan penguatan terhadap potensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Individualisasi dari heterogenitas menjadi pilihan yang paling realistis untuk dilakukan.

Philosopy of Teaching semacam ini akan menghasilkan implikasi yang berbeda dalam implementasi manakala harus berhadapan dengan guru yang memiliki Philosopy of Teaching yang berbeda. Silahkan aja guru memiliki cara pandang yang berbeda. Semua cara pandang tersebut akan berkilau seandainya filosofi tersebut terus diasah, dipraktekkan dan dievaluasi oleh masing masing yang sepakat terhadap abstraksipandangan yang diyakininya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x