Mohon tunggu...
Rofatul Atfah
Rofatul Atfah Mohon Tunggu... Guru Tidak Tetap

Seorang guru biasa dan Ibu dari anak-anaknya yang istimewa.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Indonesia Harus Tetap NKRI, Bukan yang Lain

3 Januari 2017   14:26 Diperbarui: 3 Januari 2017   14:36 199 0 0 Mohon Tunggu...

Membaca fenomena umat Islam Indonesia bisa dimulai dari sebuah pengajian. Bukan pengajian ibu-ibu, kalau ini relatif tenang dan lebih pada bahasan domestik. Juga tidak pada pengajian bapak-bapak yang sudah memasuki usia sepuh, karena biasanya lebih pada penyadaran dan renungan tentang hidup. Pengajian yang dimaksud tentunya yang bersifat dinamis, teologis, dan partisan suatu paham atau kelompok tertentu. Pengajian semacam ini biasanya diikuti oleh kaum lelaki dengan rentang usia 20 - 50 tahun, bisa kurang bisa lebih. 

Pengajian yang diikuti kelompok usia seperti ini tidak berkutat pada melantunkan zikir dan sholawat. Melainkan membahas suatu dalil dengan segala aspeknya. Tentu saja tidak semua isi kepala yang mengikuti pengajian sependapat, oleh karena itu perdebatan lebih banyak dilakukan disertai dalil-dalil yang berlawanan. Bila pun pada akhirnya sepakat, bisa saja terjadi karena pengaruh guru yang menjadi pembimbing, yang tentunya ilmunya dianggap lebih tinggi dari yang lain. 

Adanya pengajian atau sering disebut juga majelis ta'lim, mengacu pada metode Rasulullah saw ketika menyiarkan Islam pertama kali di kota Makkah. Saat itu pengajian bersifat rahasia, tersembunyi, dan hanya dilakukan dalam kelompok kecil, yang kemudian berkembang menjadi beberapa kelompok kecil. Pengucapan dua kalimah syahadat merupakan wujud dari bai'at kepada Rasulullah. Bai'at atau juga sumpah setia dimaksudkan untuk mengikat sekaligus menguatkan orang-orang yang masih dalam taraf permulaan beriman. 

Agar tidak mudah diombang-ambingkan, dipecah-belah, bahkan mungkin saja dihancurkan oleh kaum Quraisy. Periode awal sejarah permulaan Islam di Makkah dikatakan sebagai periode sangat penting dan bahkan menjadi doktrin dasar kelompok-kelompok pengajian di abad-abad selanjutnya. Yaitu berupa pemahaman bahwa untuk mencapai tujuan dakwah perlu dibentuk kelompok-kelompok kecil pengajian.

Berikutnya, setelah kekhalifahan Turki Utsmaniyah digantikan oleh sistem republik sekuler modernnya Mustafa Kemal Attaturk. Dan dimana-mana bekas wilayah kekuasaan Islam menjadi jajahan bangsa Eropa, doktrin keimanan aqidah Tauhid menjadi semacam bai'at baru yang lebih lanjut menjadi alat untuk mengukuhkan sekaligus memutuskan apakah seseorang muslim masih berhak disebut beriman atau tidak. Tentunya setiap orang Islam ingin disebut beriman, sanksi sosial akan diterima bila menyatakan diri tidak beriman. Oleh karena itu pengukuhan tanda keimanan menjadi semacam "ritual" dalam wujud yang bermacam-macam.   

Selanjutnya perjalanan sejarah memperlihatkan umat Islam terseret oleh konflik Palestina-Israel. Kemudian perang Afghanistan, Bosnia, konflik Irak dengan negara-negara tetangganya, hingga sekarang ini konflik di Nigeria, Suriah dan juga ISIS  hingga Rohingya. Aroma konflik timur-tengah pun akhirnya dibawa kedalam materi pengajian. 

Semangat ukhuwah Islamiyah dikobarkan sebagai bentuk solidaritas dan unjuk persatuan umat Islam Indonesia. Sejenak umat dilupakan oleh perbedaan mazhab, organisasi rujukan, dan perbedaan-perbedaan yang lain. Sebab bila sudah mendengar kata ukhuwah Islamiyah, secara sukarela setiap orang Islam akan terketuk hatinya. Meski ukuran ukhuwah disini bukan berarti kesulitan yang dihadapi tetangga sebelah rumah, atau sesama umat Islam yang tinggal dalam jarak 40 rumah. 

Kini dalam kasus Ahok, semua itu dipertajam atas satu kata yaitu, kafir. Meski sebenarnya seringkali dalam perdebatan di saat pengajian kata "kafir" bisa saja ditujukan kepada siapapun yang dianggap menyimpang atau tidak sesuai dengan dalil yang dijadikan rujukan utama. Namun dalam kasus Ahok, kata "kafir" lebih menegaskan identitas kelompok Islam dan bukan Islam. 

Maka tampaklah kemudian sikap ataupun perilaku dari mereka yang menganggap dirinya sebagai Islam dengan segala atributnya. Termasuk menggambarkan diri sebagai orang Islam yang siap tempur berjihad. Dan di zaman digital ini, pertempuran yang sebenarnya adalah di media sosial, perang kata untuk membela kata, perang gambar untuk membela gambar, bahkan sampai perang adegan demi adegan untuk membela serangkaian adegan. 

Terakhir, Indonesia kemudian diibaratkan sebagai sebuah pengajian besar yang penuh dengan  hiruk-pikuk dari para pengajian kecil. Penuh perdebatan, saling menghujat, saling membenci, saling merasa paling benar, mengklaim surga, hingga mempertaruhkan kebesaran sebuah negara. Pengajian telah berpindah ke media sosial, tidak hanya di dunia nyata. Tidak masalah ketika sebuah berita dimasukkan ke dalam media sosial benar atau bohong, yang penting bisa menjadi isi materi bahasan hari itu. Sayangnya, bila pengajian di dunia nyata jelas kategori usia anggotanya, namun di dunia maya siapapun bisa jadi peserta, berikut dengan segala tipe kepribadiannya. 

Indonesia sebenarnya tidaklah sekedar sebuah pengajian besar. Indonesia lebih dari itu. Indonesia adalah nyata dan ada dalam waktu dunia, bukan utopia yang berada dialam antah- berantah. Indonesia harusnya diisi oleh keberanian untuk belajar dari kekurangan dan kesalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang kemudian diisi dengan semangat untuk mau berubah, merubah diri menjadi lebih baik, berubah dari ketertinggalan menjadi kemajuan, yaitu salah-satunya dengan belajar dari bangsa dan negara lain, termasuk dari Tiongkok. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN