Nanang Diyanto
Nanang Diyanto Perawat Kamar Operasi (PNS)

Perawat yang seneng berkeliling disela rutinitas kerjanya, seneng njepret, seneng kuliner, seneng budaya, seneng landscape, seneng candid, seneng ngampret, seneng dolan ke pesantren tapi bukan santri meski sering mengaku santri wakakakakaka

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Mencari Oase di Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo, Pamenang Kediri

10 Januari 2018   23:02 Diperbarui: 11 Januari 2018   04:00 4952 5 3
Mencari Oase di Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo, Pamenang Kediri
Anak tangga di petilasan menuju Loka Mukso, tempat Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo muksa

Halaman rumah penduduk di sekitar gapura masuk Pamuksan yang biasa disewakan untuk tempat parkir penuh. Tampak mobil-mobil mewah berplat nomor luar Kediri memenuhi tempat tersebut, bahkan kebanyakan kendaraan berplat nomor luar Jawa Timur. Sehingga harus memutar lewat belakang  ke arah Sendang Tirto Kamandanu, tempat biasanya pengunjung bersuci dan membersihkan diri. Dari arah sendang ini ada jalan kecil menuju ke lokasi Pamuksan, yang cukup untuk lewat satu mobil asal tidak berpapasan dan langsung ke arah pendopo.

Tampak pula di pendopo penuh dengan pengunjung, begitu juga di lokasi utama Loka Mukso. Tidak seperti biasanya hari Minggu seramai hari kemarin, biasanya tempat ini paling ramai Kamis malam Jumat. Sambil menunggu sepi, saya berjalan ke luar pagar menuju lokasi di seberang tanah lapang ke tempat yang diyakini petilasan Resi Mayangkoro. Mukso dalam konsep Hindu Buddha berarti bebasnya atma dari ikatan duniawi dan lepas dari siklus reinkarnasi.

Margono, hampir dua tahun mukim di Pamenang Kediri
Margono, hampir dua tahun mukim di Pamenang Kediri
Petilasan Resi Mayangkoro, tak jauh dari komplek pamuksan
Petilasan Resi Mayangkoro, tak jauh dari komplek pamuksan
"Rejo mas... pinten-pinten dinten niki..." kata lelaki paruh baya menyapa sambil menyapu. Dia menceritakan kalau bebera hari ini lokasi pamuksan Pamenang ini ramai. Menurutnya banyak bengunjung dari luar daerah Kediri bahkan banyak yang dari Jawa Tengah dan Jakarta. Menjelang pilkada begini menurutnya para pengunjung didominasi para kandidat. Mereka tidak mengaku tapi begitu jadi mereka akan kembali ke sini lagi, jelasnya lagi.

"Kalau ingin ngikuti laku Sang Prabu atau Sang Resi mereka betul ke sini."Katanya. Ngikuti laku menurutnya adalah mencontoh dan meneladani. Bila meminta sesuatu tentang jabatannya mereka salah datang ke sini, jelasnya lagi. Namun begitu niat saban orang tidaklah tahu, inilah uniknya tempat ini jelasnya. Saban orang dari kalangan apa saja biasa kesini, orang beragama apa saja, etnis bahkan suku apa saja datang ke sini. Rata-rata mereka peziarah, jelasnya lagi.

Dia adalah Margono yang saya kenal sejak beberapa bulan yang lalu. Kegiatannya saban hari membersihkan lokasi petilasan (makam) Resi Mayangkoro. Hampir 2 tahun mukim, sebutan buat peziarah yang menetap untuk bertirakat untuk waktu yang lama. Keberangkatannya dari Probolinggo diawali setelah dia diberhentikan dari perangkat desa karena sesuatu sebab yang menurutnya tidak masuk akal. Keluarga, tetangga, serta orang sekitarnya telah menyalahkan mengacuhkannya sampai dia terkena serangan stroke.

Dia pergi dari dari daerah asalnya berjalan kaki berhari-hari sampai langkahnya berhenti di komplek Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo di Pamenang Kediri ini.

Kedamaian didapatkan ditempat ini, dia menyadari nama besar, harta, dan persaudaraan tak kekal. Dia belajar pada kisah Prabu Sri Aji Joyoboyo yang rela meninggalkan puncak kekuasaan, popularitas, dan keduniawian untuk menghadap Sang Kuasa.

Dia belajar tentang kesetiaan, kesadaran, serta tanggung jawab pada Resi Mayangkoro yang setia pada rajanya, yang taat pada perintah rajanya apapun resikonya. Perintah yang sebagian orang dirasa tidak masuk akal.

Saban hari kesibukannya membersihkan petilasan Resi Mayangkoro yang berada tak jauh dari lokasi Pamuksan. Makan dan kebutuhan sehari-harinya mengandalkan belas kasihan para pengunjung, meski dia tak pernah minta.

gapura sendang Tirto Kamandanu
gapura sendang Tirto Kamandanu
Loka Makuto, tempat melepas mahkota Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo
Loka Makuto, tempat melepas mahkota Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo
Loka Mukso, tempat Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo muksa
Loka Mukso, tempat Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo muksa
Menurut Margono, rute peziarah di awali dari sendang Tirto Kamandanu, terus ke  Pamuksan Sri Aji Joyoboyo. Pamuksan terbagi terdiri dari tiga tempat, yaitu Loka Busana, Loka Makuta dan Loka Muksa.

Loka Busana adalah tempat Sang Prabu melepas busana, dan Loka Makuta tempat Sang Prabu melepas mahkota raja, dan Loka Muksa adalah tempat Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo muksa.

Menurutnya Sang Prabu adalah negarawan, orang pilihan, dan orang dengan kemampuan di atas rata-rata. Itu alasan mengapa para calon kepala daerah ataupun para politikus itu jauh-jauh sowan ke Pamenang Kediri ini. Seperti halnya menjelang pilkada sekarang, situs ini ramai dikunjungi.

Apapun tujuannya mereka yang datang berziarah berharap mendapatkan kedamaian, kesejukan, kelonggaran, wawasan, kesabaran, kejembaran (keluasan)hati. Seperti mendapatkan oase di gurun panas seperti yang pernah dialami pak Margono dan ribuan peziarah lainnya yang pernah datang ke Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo di Pamenang Kediri ini.