Eko Nurhuda
Eko Nurhuda PNS (Pencari Nafkah Serabutan)

Seorang pemimpi. Menulis agar otak dan pikiran tetap bugar. Kunjungi blog pribadi saya di www.bungeko.com atau tonton video-video saya di www.youtube.com/EkoNurhuda. #YNWA

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Pengungsi Perang Bosnia yang Bermimpi Jadi Bek Terbaik Dunia

11 Juli 2018   22:25 Diperbarui: 12 Juli 2018   13:44 2732 6 4
Pengungsi Perang Bosnia yang Bermimpi Jadi Bek Terbaik Dunia
FOTO: FIFA.com/Getty Images

SELASA, 11 Juli 1995, tepat hari ini pada 23 tahun lalu, sebuah pembantaian etnis nan keji di Eropa dimulai. Bertempat di Srebrenica, sebuah kota kecil di ujung timur Bosnia-Herzegovina dekat perbatasan Serbia, tentara Republika Srpska dibantu pasukan paramiliter Scorpions secara brutal mengeksekusi laki-laki etnis Bosnia yang berhasil mereka tangkap.

Kekejian tersebut berlanjut hingga 10 hari berikutnya. Tak kurang dari 8.372 jiwa jadi korban pembantaian tersebut. Setidaknya itulah angka yang tertulis dalam batu prasasti di kompleks Srebrenica Genocide Memorial di Potocari. Menjadikan tragedi ini, seperti kata Sekjen PBB Kofi Annan, sebagai upaya pembersihan etnis terbesar di Eropa pasca-Perang Dunia II.

Pembantaian yang dikenang dunia internasional sebagai Srebrenica Massacre atau Srebrenica Genocide ini menjadi babak paling kelam dalam Perang Bosnia (1992-1995). Perang ini meletus usai pemerintah Republik Sosialis Bosnia-Herzegovina, satu dari enam entitas dalam Republik Sosialis Federal Yugoslavia, menggelar referendum keluar dari federasi.

Etnis Serbia yang tinggal di negara tersebut menolak keras ide ini dan memboikot referendum. Ketika hasil referendum dimenangkan kubu prokemerdekaan Bosnia-Herzegovina, etnis Serbia membentuk Republika Srpska yang secara harfiah berarti Republik Serbia. Radovan Karadzic jadi presiden, dengan Jenderal Ratko Mladic sebagai pimpinan militer.

Tragedi dimulai ketika Ratko Mladic melakukan operasi militer untuk "mengamankan" teritori yang dihuni etnis Serbia. Konflik antaretnis meletus. Tentara Republika Srpska bertindak di luar batas. Secara membabi buta mereka turut membantai penduduk sipil. Target utamanya warga etnis Bosnia yang merupakan mayoritas.

Etnis Kroasia juga ikut diburu tentara Srpska. Namun karena jumlahnya tidak sebanyak etnis Bosnia, angka korban di pihak etnis Kroasia terlihat tidak ada apa-apanya. Situasi bertambah parah karena di beberapa tempat etnis Kroasia juga berkonflik dengan etnis Bosnia. Jadilah negara Balkan tersebut dirundung perang segitiga antar tiga etnis penduduknya: Bosnia-Herzegovina (44%), Serbia (31%), dan Kroasia (17%).

Pengungsi Bosnia di Tuzla, berfoto di dekat tank pasukan perdamaian PBB. FOTO: Imperial War Museums
Pengungsi Bosnia di Tuzla, berfoto di dekat tank pasukan perdamaian PBB. FOTO: Imperial War Museums
Jadi Pengungsi

Di antara warga etnis Kroasia yang 17% itu adalah keluarga Sasa Lovren. Keluarga kecil dengan satu anak tersebut tinggal di Kraljeva Sutjeska, sebuah desa tak jauh dari Zenica.

Nama terakhir merupakan kota terbesar keempat di Bosnia. Karenanya Zelica menjadi salah satu kota paling sengsara sepanjang Perang Bosnia. Utamanya setelah aliansi etnis Bosnia dan Kroasia pecah, dan keduanya justru saling serang di tengah ganasnya gempuran tentara Republika Srpska.

19 April 1993, sebuah bom dilepas dari desa Puticevo yang berjarak 15 km dari Zenica. Bom meledak tepat di pusat kota, menewaskan 15 jiwa dan melukai setidaknya 50 orang. Belum hilang kaget penduduk setempat, serangan di siang bolong itu berlanjut dengan jatuhnya bom-bom susulan.

Sirine tanda bahaya berbunyi. Silva, istri Sasa, bergegas menggamit Dejan yang tengah bermain. Dibawanya anak berusia tiga tahun tersebut ke ruangan bawah tanah, berlindung.

"Suasananya sungguh mengerikan. Kami mendengar suara sirine tanda bahaya. Ibuku terus menangis dan yang dapat kami lakukan hanya bersembunyi," kenang Dejan, bocah berusia tiga tahun tadi, dalam sebuah video dokumenter yang dirilis puluhan tahun setelah peristiwa kelam tersebut.

"Aku tidak tahu berapa lama kami duduk di sana (ruangan bawah tanah), kurasa sampai suara sirine mati," lanjut Dejan seperti dikutip laman Independent. "Itu adalah pengalaman yang tidak mungkin aku lupakan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?"

Melihat situasi yang kian memburuk, Sasa meminta istrinya mengungsi bersama Dejan. Keluarga tersebut berdiskusi kemana mereka harus menuju. Akhirnya dicapai kesepakatan, mereka akan pergi ke Munich, Jerman. Di sana ada ayah Silva yang telah menetap lama.

Tanpa sempat mengemasi banyak barang, Silva mengajak Dejan pergi bersama seorang adik dan iparnya. Mereka berempat menumpang sebuah Zastava Koral, mobil mini yang lebih dikenal sebagai Yugo. Usai berkendara selama 17 jam dan melewati entah berapa pos pemeriksaan, mereka pun sampai di Munich.

Kehidupan baru pun dimulai. Silva dan Dejan, beserta adik dan iparnya, sejak saat itu berstatus pengungsi perang.

"Pergi ke Jerman merupakan sebuah keputusan besar yang diambil orang tuaku," kata Dejan lagi, seperti dikutip laman Joe.co.uk. "Kami pergi praktis tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang kami kenakan. Tidak ada tas-tas. Tidak ada apa-apa."

"Aku ingat saat kami datang ke rumah Kakek," lanjut Dejan. "Sebuah rumah kayu nan kecil. Sangat mungil tapi penuh dengan kehangatan cinta kasih. Kami bersebelas tinggal di sana selama tiga tahun."

Sasa tak ikut dalam rombongan kecil tersebut. Ia memilih tinggal di Bosnia selama beberapa pekan, sebelum kemudian menyusul ke Munich.

Dejan kecil nan imut-imut. FOTO: Tangkapan layar LFC TV
Dejan kecil nan imut-imut. FOTO: Tangkapan layar LFC TV
Tak Pernah Kembali

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3