Budiman Hakim
Budiman Hakim karyawan swasta

When haters attack you in social media, ignore them! ignorance is more hurt than response.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"My Best Friend, Shafiq Muljanto"

14 Juni 2018   00:53 Diperbarui: 14 Juni 2018   01:12 667 2 0
"My Best Friend, Shafiq Muljanto"
Shafiq bersama kedua anak saya, Leon dan Reo. Dok. Pribadi

Beberapa tahun terakhir ini, keluarga kami mempunyai tamu setia, dia selalu datang sehari atau dua hari sebelum lebaran. Biasanya dia juga membawakan kami buah tangan yang tentu saja kami terima dengan gembira. Tamu istimewa itu namanya Shafiq Muljanto. Seorang tokoh periklanan yang disegani di industri advertising. Kadang dia datang bersama anak isterinya dan kadang sendirian ketika anggota keluarga lainnya berhalangan.

Sebagai fresh graduate lulusan ITB, Shafiq mengawali karirya sebagai Junior Art Director di MACS909. Saya adalah salah satu orang yang mewawancarainya saat itu. Sesi interview berlangsung menyenangkan. Belum 10 menit ngobrol, saya langsung cocok sama dia. Amazing banget! Pasti semua orang pernah mengalami ketika kita langsung merasa cocok dengan seseorang di pertemuan pertama. Begitulah yang terjadi antara Shafiq dan saya.

Selesai wawancara, saya langsung ngasih rekomendasi ke Ariyanto Zainal, Presdir MACS909 untuk menerima Shafiq. Dan tanpa ada perdebatan sama sekali, Shafiq pun dibaptis menjadi bagian dari keluarga besar MACS909.

Dan alhamdulillahnya, intuisi saya terhadap anak ini melampaui harapan saya..Sebagai individu, dia sangat pintar dan mempunyai leadership yang tinggi. Semangat belajarnya luar biasa dan terakhir tapi tak kalah penting, dia mempunyai attitude yang sangat baik.

Misalnya, dia pernah melakukan kesalahan fatal ketika membuat sebuah billboard untuk klien kami. Klien tersebut adalah sebuah perusahaan raksasa nasional. Untuk kesalahannya itu, MACS909 harus mengganti biaya kerugian sebesar Rp 300 juta. Ck..ck..ck...Duit semua itu, loh!

Menyadari telah membuat kesalahan yang sangat fatal, Shafiq langsung masuk ke kamar saya membawa surat resign, "Om Bud, gue minta maaf atas kesalahan itu dan gue akan resign dari kantor ini."

"Melakukan kesalahan kok malah resign?" tanya saya.

"Abis gue harus gimana?" tanyanya.

"Lo harus tinggal di sini untuk belajar lebih giat supaya kesalahan itu gak terulang lagi. Anggap aja itu sebuah pelajaran berharga," kata saya.

"Gue udah bikin kantor ini rugi Rp 300 juta. Artinya gue gak capable untuk terus bekerja di perusahaan ini," bantahnya.

"Gak bisa! Lo udah melakukan kesalahan karena itu gue menuntut elo untuk mengganti kesalahan itu dengan cara memajaukan perusahaan ini. Kita harus bekerja lebih keras supaya Rp 300 juta itu tergantikan dengan profit yang kita peroleh."

"Gue merasa gak ada muka untuk bekerja di sini lagi," katanya lagi ngeyel.

"Kalo resign sekarang berarti lo lari dari masalah. Kenapa gak lo hadapi aja masalah itu. Dan gue janji Yanto, gue dan seluruh team akan mendukung elo mencari pengganti Rp 300 juta itu bersama sebagai team."

Sejenak dia terdiam mungkin omongan saya cukup menyentil logikanya. Dengan gerak perlahan dia mengambil rokoknya dari kantong dan menghisapnya dalam-dalam. Keliatannya dia begitu gelisah dan butuh pemikiran keras untuk memberi jawaban. Sampai akhirnya dia berkata lagi.

"Okay! Gue bersedia tetap kerja di sini dengan satu syarat."

"Apa syaratnya?" tanya saya tersenyum karena umpan telah dimakan ikan.

"Gue tetep kerja di sini tapi lo harus motong gaji gue setiap bulan sebesar 5 juta. Jadi dalam 60 bulan jumlahnya pas Rp 300 juta sesuai kerugian yang ditanggung MACS909."

"Sorry, Pik. Proposal lo gue tolak. Gini aja deh, kalo perusahaan kita dapet profit yang besar nanti baru kita omongin apakah jatah bonus lo nanti akan kita kurangi berdasarkan kerugian itu."

Shafiq makin pusing kepala mendengar omongan saya, "Okay! Lo bisa bilang begitu. Kalo Mas Yanto gak setuju sama omongan lo gimana?"

"Berhubung Mas Yanto adalah Boss, gue pastinya akan nurutin dia. Coba lo ngomong ke Yanto sekarang juga selesai dari sini." usul saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3