Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Lainnya - Bukan Guru

Nulis yang ringan-ringan saja. Males mikir berat-berat.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Belajar "Mengakui Kesalahan" dari Pengalaman

8 Mei 2024   06:07 Diperbarui: 8 Mei 2024   07:13 238
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Grafis Mengakui Kesalahan diolah dengan Canva (dokumen pribadi)

Bukan berdasarkan teori seperti umumnya diajarkan di sekolah. Pemahaman didapat setelah mengikuti kelas experiential training kurang dari seperempat abad lalu.

Maka tahun 2000an menjadi titik tolak munculnya kesadaran pentingnya memiliki sikap mengakui kesalahan.

Program pelatihan menggunakan metode pembelajaran berdasarkan peristiwa-peristiwa yang langsung dialami oleh peserta.

Tidak ada diktat, bahan cetak training, dan kesempatan mencatat materi diajarkan. Buku kosong diberikan apabila ada tugas atau pe-er yang harus diselesaikan.

Peserta diminta agar mendengarkan paparan dan instruksi fasilitator yang langsung diterbangkan dari Amerika Serikat. Selama itu pula ia menyampaikan materi dalam bahasa Inggris. Tidak ada penerjemahan.


Sedangkan kemampuan bahasa Inggris peserta beragam, dari mulai yang cuma bisa mengucap "yes no, yes no," hingga yang fasih banget (ada partisipan dari Singapura dan negara luar lainnya).

Ajaibnya, kendati bahasa Inggris sebagian peserta amburadul, mereka lama-lama mengerti apa yang dimaksud oleh fasilitator.

Harga pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga dari Hongkong itu lumayan. Untuk mengikuti satu tingkatan kelas selama 5 hari, menghabiskan kira-kira satu bulan gaji pegawai swasta kelas menengah Jakarta.

Salah satu sesi adalah berinteraksi di luar ruangan dengan orang tidak dikenal, selama --kalau tidak salah-- dua jam.

Tugasnya sederhana. Mengenalkan diri kepada orang atau sekelompok orang belum dikenal, berbincang, cari tahu nama dan tinggal di mana, serta tujuan berada di satu tempat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun