Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

9 Tahun di Kompasiana tapi Baru Menghasilkan 300 Artikel, kok Bisa?

22 Oktober 2020   11:35 Diperbarui: 22 Oktober 2020   11:43 252 63 24 Mohon Tunggu...
Lihat foto
9 Tahun di Kompasiana tapi Baru Menghasilkan 300 Artikel, kok Bisa?
Ilustrasi laman Kompasiana (diolah oleh Budi Susilo)

Lebih dari sembilan tahun lebih sejak bergabung dengan Kompasiana, saya telah menggelindingkan 300 artikel. Delapan tahun pertama menelorkan sekitar 30 karya tulis. Sisanya dibuat dalam setahun terakhir. Sementara itu, Kompasianer lain dalam rentang waktu sama mampu menghasilkan ribuan artikel.

Lha kok bisa begitu?

Untuk pertama kalinya saya mendapat informasi tentang Kompasiana dari seorang kawan sesama pemborong. Pria berpostur mirip Mike Tyson menerangkan, bahwa artikel di dalam blog keroyokan milik Kompas Gramedia itu bagus-bagus dan berkualitas. Tentu saja saya memercayai keterangan pria lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi sebuah Perguruan Tinggi di Bandung tersebut.

Tepat pada tanggal 01 Februari 2011 (menurut catatan di profil) saya mendaftarkan diri dan langsung memperoleh akun Kompasiana, yang baru divalidasi 8 tahun kemudian (2019).

Setahun awal saya masih rajin menulis di platform dimaksud, 27 artikel yang umumnya dimuat di kanal fiksi. Produktif kan? Eh... enggak yak! Sampai dengan tahun 2017 saya hanya menghasilkan 5 artikel tambahan sehingga total menjadi sebanyak  32 karya tulis.

Namun dalam masa itu saya sempat mengenal kompasianer dari berbagai wilayah se Indonesia, bahkan mereka yang bekerja di Hongkong, Macau, Taiwan dan sebagainya.

Ilustrasi Kompasianival 2011 (diolah oleh Budi Susilo)
Ilustrasi Kompasianival 2011 (diolah oleh Budi Susilo)
Kompasianival 2011 adalah kesempatan emas untuk bertemu langsung dengan petinggi-petinggi Kompasiana dan kompasianer idola. Tatap muka dengan Kompasianer berlanjut di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Ilustrasi pertemuan Kompasianer di TIM (diolah oleh Budi Susilo)
Ilustrasi pertemuan Kompasianer di TIM (diolah oleh Budi Susilo)
Saya beruntung bertemu dengan para penulis yang dikagumi, seperti --seingat saya-- Ibu Lily Wahid, "Engkong" Agil Abd Batati, Om Jay, Dian Kelana, Hazmi Srondol, Faizal Assegaf, Bang ASA (Andri Sukry Amal), DR. Ade Muhammad, Sandra Prasetyo, Aryani Leksonowati dan sebagainya. Selanjutnya ada beberapa kegiatan kecil yang sayangnya saya sudah lupa.

Celakanya, provokator yang mendorong saya untuk memasuki belantara Kompasiana telah minggat duluan. Kemudian saya menyusul menjadi tidak aktif menulis. Pekerjaan di lingkungan proyek konstruksi  demikian menyita waktu, sehingga untuk menulis pun tidak sempat. Waktu terasa mampat.

Bulan Agustus atau September 2019 kemarin, saya dilimpahkan waktu dan mulai mengamati untuk mulai menulis lagi di Kompasiana.

Kini Kompasiana berpenampilan lebih bagus dibanding sebelumnya. Lebih meriah dengan fitur-fitur kekinian. Kompasiana masih didominasi oleh artikel-artikel berkualitas karya penulis-penulis hebat yang membuat saya gamang untuk terjun ke dalamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x