Mohon tunggu...
buanergis muryono
buanergis muryono Mohon Tunggu...

buanergis muryono adalah seniman. guru besar sanggar mariska oka agency; konsultan seni & budaya; wali budaya nusantara Istana Wong Sintinx KUNJUNGI: www.sanggarmariska.webs.com, Sanggar Mariska, SANGGAR MARISKA GRUP, SANDIWARA RADIO COMMUNITY

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tembang Durma = Nandur Derma = Mundur Lima

21 Juni 2010   18:05 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:23 1403 0 7 Mohon Tunggu...

DURMA

Mundur Narima / Nandur Derma / MundurLima

Salah satu tembang Jawa ini merupakan harapan, impian, cita-cita, bagaimana sikap dan perilaku manusia, ketika sudah berkeluarga, sudah tua, ‘sampun sepuh’ harus bisa mengendalikan diri, maka akan mundur dari sikap hura-hura. Mengutamakan ‘derma’ atau memberi. Menomorsatukan dharma atau berkarya tanpa berpaling lagi. Mundur dari keramaian, ketidakjujuran, dan saling menguasai, untuk menuju persiapan lebih dalam menyiapkan generasi penerus. Istilah ‘lengser pinandhita’ sebetulnya kiblatnya dari sini. Setelah mengalami lahir (Mijil), jadi anak muda (Sinom), memiliki cita-cita mulia (Maskumambang), mendapatkan pendamping (Kinanthi), menikmati ‘dhandanggula’, menambah jumlah keluarga (Gambuh), mampu menghindari hal-hal buruk (Tembang Pangkur), lalu seorang manusia harus benar-benar berperilaku hidup ‘durma’. Berani mundur dari samubarang kang olo (segala hal jahat). Mundur dan mengendalikan makan, tidur, minum, maling, membunuh (molimo). Darma, darma, darma, dan darma sepanjang hidup. Memikirkan dan mengutamakan kewajiban sehingga tidak mendewakan hak-haknya. Sopo sing biso? Harus biso amargo manungso kuwi dudu opo-opo. Manungso kuwi ra duwe opo-opo. Manuso kuwi opo? Ada tantangan pasti ada cara. Ada keinginan dan harapan pasti tersedia solusi. Siapa berusaha akan mendapatkan buah pekerti.

Pesan dan kesan dalam hidup ini melalui Tembang Durma, semestinya diunduh dengan ikhlas hati. Sayangnya, jarang yang peduli. Dibandingkan teman dan sesamaku dari dalam negeri, justru saudara-saudara dari mancanagari yang getol mempelajari akar budaya Jawa. Dari Belanda, Perancis, Jepang, Canada, Amerika, NZ, dan lain-lain, berduyun-duyun menelusuri akar budaya Kejawen, yaitu asal-usul lahirnya, adanya sebelas tembang Jawa. Kenapa sebelas? Selalu sebelas? Sewelas? Karena manusia tanpa kasih ikhlas (piwelas) sebetulnya seseorang belum jadi manusia.

Mengapa manusia harus mengutamakan karya? Sebab tubuh jasmani manusia, raga manusia ini akan hancur, jadi dengan ilmu ini manusia akan meninggalkan sesuatu nan abadi seperti tubuh rohani yang tidak pernah disadari. Kau dan aku sering sibuk dengan makan dan minum semata, tanpa memberi kesempatan buat hnenging pikir, hninging swasono, hnunging roso, lan hnanging kahuripan. Untungnya cita-cita kedua orangtua Hanung terwujud, sehingga seorang Hanung (Hnung) diberkati dengan karya-karyanya. Sekarang jangan pikirkan apa saja karya Hanung tapi simaklah namanya tentang Hanung (Hnung), mengutamakan renungan hidup. Pasti bahagia kedua orangtua Hanung Bramantyo karena putra mereka menerima anugerah sebagai seorang sutradara muda terbaik. Kini dia memanggul yang namanya ‘Durma’, berkarya sambil menyingkirkan ‘molimoyen biso. Kalau tidak bisa ya jadi dununging angkoro (tempat bermukimnya kezoliman).

Mundur dari segala keburukan dan mengutamakan darma supaya bisa merenungkan hidup ini apakah sudah benar belum. Apakah lurus atau berbelok-belok? Sudah tepat atau luput?

Sumonggo, mari kita berkarya sambil mendengarkan lelangenan Tembang Durma, tapi paling penting, mengerti dan mengamalkan maknanya. Wilujeng lan rahayu!

Buanergis Muryono, Kebon Pala, Jumat 19 Maret 2010 3:28 AM

Akhir rangkaian tulisan ini… berarti butuh tindak lanjut untuk merangkumnya jadi buku ‘nguri-nguri kabudayan adiluhung Sebelas Tembang Jawa’ dan maknanya, yang dijauhi generasi muda, karena tidak pernah didendangkan kedua orangtua mereka.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x