Mohon tunggu...
Alexander Timbul Sibarani
Alexander Timbul Sibarani Mohon Tunggu... Guru Pengabdi

Ilmu pengetahuan berkembang sedemikian berkembangnya teknologi.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Benarkah Guru atau Dosen Akan Diimpor Pemerintah?

12 Mei 2019   13:02 Diperbarui: 13 Mei 2019   10:45 0 4 2 Mohon Tunggu...
Benarkah Guru atau Dosen Akan Diimpor Pemerintah?
img-20190512-wa0014-5cd8e89695760e04aa47ff82.jpg

Dalam beberapa hari terakhir sedang viral pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Ibu Puan Maharani yang menyatakan akan mengimpor Guru/dosen.

Adakah yang salah dengan pernyataan beliau? Kalau kita lihat sekilas mungkin pernyataan mengejutkan hati dan sanubari kita sebagai insan pendidik(Guru). Guru sebagai pendidik sok mendengar kalimat tersebut walaupun masih hanya sebatas wacana. Bagaimana tidak? Pada tahun 70 an sampai 80 an justru kita yang mengekspor guru-guru ke negara tetangga ASEAN seperti Malaysia, Singapore ataupun negara lain. Kita seakan terbangun dari mimpi panjang kenapa pada era tersebut kita menjadi pengekspor guru justru terbalik di tahun 2019 wacana justru kita yang akan mengimpor guru.

Apa yang salah dengan profesi guru? Keterkejutan kita dengan wacana tersebut  menghentak kita dimana kita yang berlebihan guru terutama guru honor yang belum diberdayakan secara maksimal dan minimnya tingkat kesejahteraan guru di Indonesia membuat sisi pendidikan belum optimal. Tingkat kesejahteraan guru honor dan yang ASN berbanding terbalik karena guru ASN sudah memiliki penghasilan tetap yang diterima mereka perbulan. Sedangkan guru honor menerima dibawah 1 jt perbulan. Polemik ini belum terpecahkan sampai sekarang terlebih janji pemerintah akan pengangkatan guru honor menjadi guru ASN belum terpenuhi.

Ditambah lagi beban administrasi yang di tanggung oleh guru dengan banyaknya aplikasi online yang harus dikerjakan guru menjadikan guru terkadang meninggalkan fungsi utamanya sebagai pendidik.

Bagi guru yang sudah berstatus bersertifikasi mungkin tingkat kesejahteraan guru di Indonesia sudah memadai untuk tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Dan tak jarang banyak guru melupakan bahwa dana sertifikasi yang didapatkannya seharusnya sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan diri dengan menambah pengetahuan baru seperti mengupgrade ilmu pengetahuan ke tingkat strata 2 atau pasca sarjana bahkan lebih.

Ini adalah harapan pemerintah Indonesia kenapa sertifikasi diberikan. Tapi terkadang kalau kita bandingkan dengan instansi lain yang sudah mendapatkan remunerasi justru guru berada di posisi tengah dalam penghasilan. Instansi seperti Departemen keuangan, Pertahanan, Polisi, Jaksa maupun hakim justru remunerasi lebih tinggi dari guru. Sebaliknya pemberian tunjangan sertifikasi selalu membuat yang melihat iri dengan guru. Padahal guru adalah ujung tombak pendidikan di Indonesia, tanpa guru tidak akan menghasilkan profesi yang lain.

Kembali lagi ke topik masalah Benarkan Guru akan di Impor oleh Sekolah? Menilik penghasilan guru di Indonesia termasuk salah satu terkecil di banding negara lain. Dan apakah transfer knowlegde yang akan dibawakan oleh mereka dapat kita terapkan di Indonesia? Tentu saja tidak. Mungkin kita mendengar istilah kearifan lokal yang membedakan budaya pendidikan Indonesia dibanding dengan negara lain. Trus apakah Guru impor dapat bertahan lama di Indonesia dengan penghasilan guru di Indonesia yang notabene masih dianggap kecil dengan Guru-guru di negara ASEAN.

Dan berdasarkan klarifikasi pemberitaan Apakah Guru di Impor? Bisa ya bisa tidak. Karena memang pada beberapa kegiatan guru memang tanpa kita pungkiri memang ada guru tamh ataupun instruktur tamu yang asalnya dari luar negeri. Dan ini juga sudah lama terjadi di Indonesia. Guru tamu ataupun dosen tamu yang berasal dari negara lain tidak serta merta Indonesia impor guru. Karena memang ada kerja sama Kementrian Pendidikan dengan negara lain yang untuk kasus tertentu harus mengundang guru dari negara lain untuk menambah pengetahuan guru di Indonesia yang istilahnya sering Trainer of Train atau ToT.

Jadi persepsi impor guru dari negara lain itu tidak sepenuhnya benar. Program kerjasama ini memang sudah lama dilakukan. Mungkin hanya bahasanya saja yang bias dalam penyampaian yang dilakukan oleh Ibu Puan Maharani, sehingga membuat gejolak di kalangan guru yang masih belum diberdayakan secara optimal.

Tapi apapun itu wacananya guru di Indonesia memang harus mengembangkan potensi profesionalitasnya agar pendidikan bisa maju di Indonesia. Pemerintah Indonesia juga harus memfasilitasi program profesi berkelanjutan bagi guru. Perbanyak beasiswa pasca sarjana agar guru bisa mengupgrade ilmu pengetahuan di Indonesia.

Salam Pendidikan Indonesia. Majulah pendidikan Indonesia. Guru profesional harus bisa menjadi pelopor majunya pendidikan di Indonesia.