Mohon tunggu...
achmad soheh
achmad soheh Mohon Tunggu... Divisi Konten Barantum.com

Saya menyukai dunia tulis menulis, baik menulis di media cetak seperti Majalah atau tabloit, juga menulis di media online serta penulisan untuk buku atau laporan perusahaan. Dan termasuk diantaranya menulis untuk pembuatan konsep-konsep program.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Industri Kimia Jadi Andalan Pemerintah dalam Pengembangan Industri Berbasis 4.0

19 September 2019   15:56 Diperbarui: 19 September 2019   16:16 0 1 1 Mohon Tunggu...

Tidak bisa di pungkiri, saat ini industri berbasis 4.0 sudah menjadi target pengembangan industri yang ada di Indonesia. Bukan saja karena konteks industri ini sesuai dengan apa yang di kumandang-kan dalam United Nations Development Organization ( UNIDO). Namun kenyataan bahwa industri di Indonesia sudah mulai masuk dalam konsep industri tersebut bisa dilihat dari peningkatan nilai berdasarkan sisi manufacture value added. Dimana kondisinya dari tahun 2014 (USD202,82 miliar ) naik sekitar 16,7% menjadi  2018 ( USD236,69 miliar)

Dimana dari beberapa sektor tersebut adalah sektor kimia yang di arahkan Pemerintah Pusat Seperti yang di sampaikan oleh Airlangga Hartato, Menteri Perindustrian Republik Indonesia menjadi pioneer dalam pengembangan industri berkonsep4.0 di Indonesia. Ada beberapa hal yang menjadi dasar kenapa pada akhirnya sektor industri kimia di jadikan pioneer dibandingkan beberapa sektor lain seperti : Industri Tekstil, Otomotif, Elektronika, serta Makanan & Minuman.

Pernyataan Airlangga Hartato itu memang bukan tanpa sebab. Mengingat hingga memasuki tahun 2019 kondisi bisnis di sektor kimia semakin menunjukkan potensi bisnisnya. Pertama saat ini potensi bisnis untuk industri kimia sudah mencapai angka yang cukup signifikant yaitu USD5 Miliar dan mampu menguasai 70% pangsa pasar domestic. Kedua besarnya potensi pasar farmasi dalam negeri itu ternyata jika di bandingkan dengan potensi bisnis farmasi  yang ada di negara Asean hanya setara 27% total potensial pasar farmasi senilai USD4,7 Miliar.

Itulah beberapa hal yang membuat Pemerintah Pusat menyatakan bahwa industri kimia nasional di jadikan benchmark untuk pengembangan sektor  industri yang ada di Indonesia. Itulah kenapa, hingga pada akhirnya Pemerintah ingin memaksimalkan potensi yang di miliki industri farmasi yang ada di tanah air agar bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri serta mampu menjadi salah satu peluang ekspor yang sangat potensial untuk Indonesia.  Dimana salah satu cara yang saat ini  tengah di jalankan oleh Pemerintah Indonesia guna mendukung perkembangan bisnis farmasi yang ada di Indonesia adalah program peningkatan kualitas hidup masyarakat  Indonesia dalam program BPJS ( Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

Realisasi dari adanya program tersebut adalah, bahwa Pemerintah akan melibatkan industri farmasi dan bahan farmasi yang merupakan salah satu trigger  untuk menggerakan perekonomian Indonesia dalam penyediaan obat-obatan generic dalam program BPJS Kesehatan untuk sekitar 160 juta penduduk  Indonesia. Program ini bukan saja sekadar program nasional yang akan berjalan dalam perspektif program kerja jangka panjang. Tetapi program ini juga di arahkan agar menjadi multi flier efek bagi pergerakan ekonomi Indonesia.

Terbukti sekalipun belum di jalankan secara maksimal, namun program ini mampu meningkatkan potensi ekonomi secara nasional. Hal itu seperti terlihat dari satu kondisi nyata bahwa dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 Industri Farmasi dan Bahan Farmasi  menjadi salah satu sektor yang cukup bisa menjadi andalan bagi penggerak utama  perekonomian Indonesia, tidak saja di masa kini tetapi juga masa mendatang. Setidaknya hal itu terbukti dengan kontribusi positif yang telah diberikan oleh industri farmasi terhadap PDB Nasional yang berkontribusi sebesar RP54,4 Triliun.

PEMERINTAH MENEKANKAN PENTINGNYA PENGUASAAN TEKNOLOGI DALAM INDUSTRI KIMIA

Ketika pemerintah pusat fokus dalam men-sinergi-kan program BPJS Kesehatan dengan industri farmasi dalam negeri. Inilah sebenarnya momentum awal dari implementasi industri 4.0 yang  sedang terjadi di Indonesia. Dimana ada beberapa karakter atau ciri dari industri 4.0  yang memang berhubugan langsung dengan aplikasi teknologi digital di Indonesia.

Adalah aplikasi CRM (Customer Relationship Management) sebuah sistem  yang akan memaksimalkan potensi customer dalam mengembangkan bisnis dari sebuah perusahaan. Konsep ini akan menjadi sangat penting dan mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan bisnis di dalam industri  farmasi secara nasional.

Handri Kosada, CEO Barantum.com memberikan penjelasannya.  " CRM adalah satu sistem yang bersumber dari database customer. Dimana dengan mengoptimalkan fungsi dari CRM maka perusahaan bisa mendapatkan banyak masukan  yang akan di jadikan salah satu sumber  dalam membuat strategi bisnis bagi perusahaan.

Jika konsep ini di terapkan dalam program BPJS Kesehatan dan industri farmasi nasional. Maka ada satu kebutuhan yang cukup tinggi dari industri farmasi untuk mendapatkan masukan yang cukup penting dari customer terhadap keberadaan obat-obatan dan pasokan obat yang ada di Indonesia. Istilahnya, sistem CRM bisa menjadi sumber terpercaya bagi industri karena secara riil memberikan masukan penting guna perkembangan dan pengembangan industri farmasi di tanah air. Itulah salah satu manfaat pentingnya pemanfaatan teknologi dalam menunjang perkembangan sebuah industri secara nasional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2