Mohon tunggu...
achmad soheh
achmad soheh Mohon Tunggu... Divisi Konten Barantum.com

Saya menyukai dunia tulis menulis, baik menulis di media cetak seperti Majalah atau tabloit, juga menulis di media online serta penulisan untuk buku atau laporan perusahaan. Dan termasuk diantaranya menulis untuk pembuatan konsep-konsep program.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Tren Peningkatan Potensi Bisnis Industri di Sektor Agro dan Minning Cukup Tinggi

12 September 2019   11:11 Diperbarui: 12 September 2019   11:13 0 0 0 Mohon Tunggu...

Bicara soal industri yang bersumber dari pengelolaan sumber daya alam Indonesia ( sektor agro industri dan mining). Rasanya tidak ada yang bisa menyangkal jika Indonesia adalah salah satu negara produsen produk sumber daya alam terbesar di dunia.  

Kondisi itu bukan  sekadar pernyataan semata. Tetapi melihat tren yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, secara jelas makin membuktikan eksistensi Indonesia sebagai negara dengan potensi sumber daya alam ( agro industri ) yang merajai dunia. Dimana ada 3 sektor agro industri yang saat ini menjadi andalan utama Indonesia. Produsen Karet ( Indonesia masuk menjadi produsen karet terbesar ke-2 di dunia dengan produksi 3.107.544 ton ), Kakao ( dengan potensi jumlag produksi 777.500 ton, Indonesia masuk menjadi negara produsen ke-3 terbesar di dunia ) . Dan yang paling bersinar tentu saja Kelapa Sawit ( Indonesia menjadi negara produsen terbesar ke-1 di dunia dengan total produksi tahun 2015 saja berjumlah 31,1 juta ton  ).

Tidak saja untuk sektor  agro industri. Begitu pula untuk sub sektor mining ( pertambangan ). Indonesia sebagai negara kepulauan sudah pasti potensi Sumber Daya Alam ( SDA ) Indonesia cukup berlimpah. Namun sangat di sayangkan, sekalipun potensi sumber daya alamnya cukup besar yaitu mencapai Rp200 ribu triliun ( terdiri dari minyak, gas, batubara, tembaga, emas, nikel, perak dan  lain), seperti yang disampaikan oleh Pengamat Energi Kurtubi. Namun sangat di sayangkan justru daya saing industrinya belum sebesar potensi SDA-nya.

Sekalipun masih jauh dari prestasi yang terjadi pada sektor agro industri. Tapi secara  berangsur Indonesia sudah mulai bisa menunjukkan tren  peningkatan kinerja di sektor industri mining di dunia. Jika di tahun 2018 berdasarkan kinerja daya saing industri Indonesia masih berada di ranking 43 di dunia. Tetapi di tahun 2019 Indonesia naik 11 point menjadi berada di peringkat 32 besar di dunia berdasarkan data dalam IMD World Competitiveness Ranking 2019. Menariknya peningkatan ranking itu di dasarkan pada satu kondisi yaitu berkat adanya peningkatan efisiensi di sektor pemerintahan dan perbaikan infrastruktur serta kemudahan berusaha yang semakin membaik di  Indonesia.

Terjadinya peningkatan daya saing baik dalam sektor agro industri dan juga sektor pertambangan jelas ini menunjukkan bahwa  ke depan Indonesia akan bisa menjadi salah satu negara besar dalam pengelolaan industri  pertambangan tidak saja di kawasan Asean tetapi juga dunia yang memiliki kompetensi salah satu terbaik untuk sektor yang berhubungan dengan sumber daya alam (SDA).

Itu potensi di sektor agro dan mining yang terkait dengan peluang bisnis di dunia. Di dalam negeri sendiri, memang masih terlihat bahwa sektor yang  terkait dengan SDA masih menjadi andalan Indonesia dalam memberikan PDB secara nasional. Untuk industri agro memberikan sumbangan 49,11% dari total PDB ( Produk Domestik Bruto) sementara untuk industri pertambangan memberikan sumbangan 8,03% dari total PDB di tahun 2018 lalu.

Dari sini kita bisa berharap, ke depan kedua sektor  ini akan mampu lebih besar perannya dalam meningkatkan  kesejahteraan masyarakat dengan konteks peningkatan daya saing industrinya baik di dalam negeri ataupun di dunia. Hanya memang untuk tujuan tersebut pelaku industri baik di sektor agro ataupun pertambangan tidak bisa bekerja sendiri. Kesemuanya mesti di dukung oleh kebijakan pemerintah sebagai penentu ke-berlangsung-gan industri  ini di masa kini dan mendatang.

STRATEGI BISNIS INDUSTRI AGRO DENGAN MENGOPTIMALKAN PERAN TEKNOLOGI DIGITAL

Bicara soal peluang ke depan, dalam pengembangan industri agro secara nasional. Memang pada akhirnya kita mesti melihat industri ini dalam skala yang lebih besar. Dimana dengan rencana adanya transformasi menuju industri 4.0, maka  industri agro pun mesti menyiapkan dirinya menjadi sebuah industri yang mampu mengikuti karakter dari industri 4.0 tersebut.

Ambil contoh, jika saat ini industri agro Indonesia seperti Kelapa Sawit sedikit terkendala dengan masalah isu lingkungan. Maka cara terbaik  yang berhasil dilakukan bisa dengan : Pertama meningkatkan konsumsi biodiesel domestik melalui mandatory Biodiesel B-20 (PSO dan Non-PSO). Mencari pasar ekspor biodiesel non konvensional seperti Jepang, Tiongkok, India, Malaysia, negara-negara di Timur Tengah serta Asia Tengah dan Utara . Kedua mencoba memaksimalkan pemanfaatan dana desa yang menurut Enny Sri Hartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) tahun ini berjumlah lebih dari Rp40 triliun. Sehingga Enny menyarankan agar dana tersebut diarahkan untuk peningkatan pembangunan infrastruktur daerah/desa yang disesuaikan dengan keunggulan komoditas agro dari masing-masing daerahnya.

Apa yang disampaikan oleh Enny Sri Hartati memang bisa menjadi salah satu solusi bagi perkembangan dan pengembangan industri agro saat  ini dan ke depan. Hal itu pun juga di kuatkan oleh statement yang disampaikan oleh Handri Kosada, CEO Barantum.com. Handri melihat bahwa ke depan semua industri mesti mengacu pada karakter industri 4.0. Dimana karena sektor agro industri juga masuk menjadi salah satu sektor unggulan dalam program Industri 4.0 Maka ada beberapa hal positif yang bisa di lakukan pelaku bisnis teknologi digital untuk mendung masalah diatas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x