Mohon tunggu...
Bobby Triadi
Bobby Triadi Mohon Tunggu...

Lahir di Medan, berkecimpung di dunia jurnalistik sejak tahun 1998 dan terakhir di TEMPO untuk wilayah Riau hingga Desember 2007. Aktivis Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI). Akun twitter @bobbytriadi\r\n\r\nhttp://bobbytriadi.tumblr.com

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Artikel Utama

Memprioritaskan Pembangunan Transportasi "Roda Besi"

9 November 2015   09:02 Diperbarui: 9 November 2015   10:05 0 8 8 Mohon Tunggu...

[caption caption="Sumber foto: SUPPLY CHAIN INDONESIA "][/caption]Sayup-sayup terdengar alunan sebuah lagu yang dimainkan dengan piano ketika Kereta Api Bangunkarta tiba di Stasiun Tawang, Semarang. Sebuah lagu lama Gambang Semarang, mengalun indah setiap kali kereta tiba di stasiun bersejarah itu. Itu pula yang membuat Stasiun Semarang Tawang menjadi unik.

Bicara tentang kereta api, kita tidak bisa untuk tidak membicarakan Semarang. Kota inilah yang menjadi pusat sejarah perkeretaapian Indonesia. Di salah satu sudut bagian Kota Semarang, 151 tahun yang lalu, Belanda mulai membangun rel dan stasiun kereta api pertama di Tanah Air. Dari kota ini pula industri kereta api Indonesia lahir dan berkembang. 

Dalam buku karangan Michiel van Ballegoijen, "Spoorwegstation op Java", diceritakan dengan apik soal pembangunan jalur kereta dan stasiun pertama di Indonesia. Meski ide perkeretaapian Indonesia diajukan dengan latar belakang untuk mengangkut hasil bumi dari Sistem Tanam Paksa, tapi kita tetap bisa belajar dari alasan mengapa harus ada kereta api. Salah satu alasan yang mendukung adalah tidak optimalnya lagi penggunaan jalan raya pada masa itu.

Meski sejarah perkeretaapian di Indonesia sudah ada sejak satu setengah abad yang lalu, tapi perkembangannya dapat dinilai sangat lambat. Apalagi pada perkembangannya, pengelolaan kereta api cenderung merugi dari tahun ke tahun. Tak sebanding dengan sejarahnya yang begitu banyak merampas nyawa.

Sebagai salah satu model transportasi massal yang dipakai oleh jutaan masyarakat, perkembangan perkeretaapian di Indonesia tak lepas dari sorotan dan kelemahan. Tapi Ignasius berhasil merubah citra kereta api Indonesia dari transportasi kelas rendahan menjadi transportasi yang juga layak untuk para eksekutif. Dari transportasi yang minim pelayanan dan perawatan, menjadi transportasi yang sangat layak dinikmati semua kalangan. Tak ada lagi toilet yang kotor dan bau pesing, tak ada lagi pedagang-pedagang yang berseliweran atau membuka lapak digerbong-gerbong. Yang ada malah pelayanan sekelas Pesawat Udara. 

Memprioritaskan Kereta Api

Di negara berkembang seperti Indonesia, sudah selayaknya mengembangkan moda transportasi massal yang murah dan mudah. Murah dan terjangkau bagi semua kalangan, cepat sampai ke tujuan tanpa antrian kemacetan lalu lintas jalan raya. Mudah dijangkau publik, terintegrasi dengan kawasan-kawasan perkantoran dan terintegrasi dengan moda transportasi pendukung. 

Selain itu, kereta api juga dapat lebih cepat dalam hal pendistribusian logistik antar wilayah dibandingkan dengan perjalanan melalui jalanan umum. Dengan demikian, pendistribusian logistik akan menjadi cepat, efisien dan murah. Hal tersebut tentu harus ditunjang dengan meningkatkan infrastruktur perkeretaapian yang lebih memadai, misalnya dengan penambahan jarak, jalur ganda dan mengaktifkan kembali jalur-jalur yang sudah mati.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla memang sudah berencana untuk meningkatkan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia dengan menambah jalur baru, reaktifasi jalur non aktif dan juga membuat jalur ganda, tidak hanya di koridor pulau Jawa, tapi juga di koridor-koridor lainnya seperti Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua melalui Program Strategis Perkeretaapian 2015-2019. Dan semoga benar-benar terealisasi.

Peningkatan layanan perkeretaapian tentu akan menjadi transportasi alternatif utama yang lebih murah untuk menjangkau wilayah-wilayah di Indonesia.

Di luar negeri, penggunaan Kereta Api sudah menjadi "Budaya'. Berbagai kalangan lebih memilih untuk menggunakan Kereta Api ketimbang mobil. Para eksekutif tak lagi malu-malu menggunakan Kereta Api sebagai moda transportasi menuju kantor. Selain untuk menghindari kemacetan, tapi juga untuk efektifitas waktu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x