Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Saat Sekolah Negeri Wajibkan Pakaian Agama Tertentu, Ada yang Keliru

22 Januari 2021   18:29 Diperbarui: 25 Januari 2021   17:39 1640 74 22 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saat Sekolah Negeri Wajibkan Pakaian Agama Tertentu, Ada yang Keliru
Presiden Joko Widodo bersama puluhan siswa siswi OSIS SMA berprestasi se-Indonesia di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/5/2018). (KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Sebuah kabar mengejutkan tiba dari Padang, Sumatera Barat. Seorang siswi dipaksa mengenakan pakaian agama menurut aturan agama tertentu. Orang tua siswi tersebut merasa keberatan.

Ketika menemui pihak sekolah, jawaban yang diberikan adalah bahwa pakaian tertutup wajib dikenakan para siswi SMK Negeri 2 Padang. Padahal jelas bahwa sekolah tersebut sekolah negeri yang seharusnya berlandaskan Pancasila dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Praktik busana siswa pada sekolah swasta

Sejatinya di Indonesia sudah jamak diberlakukan aturan busana siswa sesuai ciri khas yayasan pengelola sekolah swasta. Bukan hanya busana, pelajaran agama sesuai ciri khas sekolah swasta juga sudah jamak berlaku. 

Umpama, sekolah yang dikelola yayasan Katolik pada umumnya memang dijalankan sesuai ciri khas kekatolikan. Doa-doa yang dipergunakan sebelum belajar adalah doa Katolik. 

Orang tua yang mendaftarkan anak-anak ke sekolah Katolik pada umumnya sudah mengetahui praktik yang umum ini. Pihak sekolah juga sudah memberitahukan aturan khas sekolah pada saat pendaftaran siswa. Ada surat pernyataan yang lantas ditandatangani orang tua atau wali siswa.

Inti surat itu kurang lebih bahwa orang tua atau wali menyetujui bahwa selama masa pendidikan, putra-putri mereka akan mendapatkan pendidikan berciri Katolik. Bukan berarti harus menjadi Katolik. Tidak ada pemaksaan untuk dibaptis atau semacamnya.

Saya dulu bersekolah di SD berciri Katolik. Beberapa teman sekelas saya nonkatolik. Setahu saya, sampai kini pun sahabat-sahabat SD saya yang nonkatolik masih menganut agama masing-masing. 

Artinya, tidak ada pemaksaan apa pun untuk menganut agama Katolik ketika siswa-siswi menjalani pendidikan di sekolah yayasan Katolik. Doa-doa dan aneka hal tentang kekatolikan lebih dimaksudkan sebagai wawasan informatif saja bagi para siswa-siswi aneka agama. 

Praktik serupa diterapkan juga oleh sekolah yayasan Islam. Setahu saya, ada juga mahasiswi kristiani yang mengenakan pakaian tertutup sesuai aturan yayasan Islam ketika mengikuti perkuliahan.

Salah satunya adalah Rani, mahasiswi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Rani mengenakan jilbab sesuai aturan busana di universitas swasta tersebut. Rani masuk ke kampus itu karena mendapatkan jurusan yang sesuai dengan harapannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x