Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Tebar kebaikan lewat tulisan.

Pastor dan biarawan. Suka berbagi ilmu dan berteman dengan siapa saja. MSF bukan gelar, itu tarekat saya: Missionariorum a Sacra Famiglia yang bergerak, antara lain, dalam pendampingan keluarga.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Si Hitam Berhati Mutu Manikam

11 Januari 2019   06:14 Diperbarui: 11 Januari 2019   06:35 126 3 1
Si Hitam Berhati Mutu Manikam
Sumber : pixabay.com

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sudah menyinggung bahwa Italia menghadapi permasalahan terkait kedatangan para imigran dari Afrika Utara. Di media massa, orang berdebat panas. Sebagian berpendapat, Eropa harus mengirim para imigran kembali ke asal mereka. Sebagian berkata, imigran berbahaya sebab mereka berpotensi berbuat kriminal. Harus diakui, sebagian imigran memang terlibat kejahatan.

Perjumpaan dengan Si Kulit Hitam

Pagi itu saya keluar dari stasiun bawah tanah Roma bersama kerumunan penumpang. Langkah saya "tertahan" oleh seorang pria yang berjalan lambat. Ternyata ia seorang tunanetra. Saya baru menyadari hal ini setelah saya lihat ia berjalan menggunakan tongkat.

Saya tetap berjalan di belakang pria tunanetra itu. Saya tidak ingin mendahuluinya. Dari penampilannya, ia mungkin seorang dari pria Italia. Dengan tongkatnya, ia memastikan tak ada kaleng atau hambatan lain di depannya.

Sampai di depan kantor pusat Food and Agricultural Organization, saya melihat seorang pemuda berkulit hitam. Ia seorang imigran. Untuk menyambung hidup, ia menyapu trotoar. Bukan pemerintah Roma yang membayarnya. Ia mengharapkan recehan dari pejalan kaki yang lewat. Untuk menampung recehan, ia memasang tiga toples kecil di atas keranjang plastik bekas wadah buah.

Kalah Sigap

Saya cemas, pria tunanetra di depan saya akan terjatuh saat melewati tiga keranjang yang dipasang si pemuda imigran tadi. Saat saya sedang berpikir untuk memperingatkan si tunanetra, si pemuda sudah lebih cekatan bereaksi. Si kulit hitam merangkul si tunanetra dan memastikan agar semua aman. Bukan hanya itu, si kulit hitam menemani si tunanetra menyeberang jalan.

Saat itu saya merasa malu. Saya kalah cekatan dan kalah segalanya dengan si kulit hitam. Ia tak hanya memperingatkan si tunanetra dengan kata-kata, tapi menggandeng dan mengantarnya sampai ke seberang jalan.

Melihat tapi Tak Menangkap

Saya pernah mendengar suatu perumpamaan: orang baik itu seperti pesawat-pesawat yang tiap hari berseliweran di udara. Saat pesawat-pesawat itu berbuat baik dengan mengantar para penumpang dengan selamat, tiada yang memuji. Namun, saat satu saja pesawat jatuh, seluruh dunia mengutuk.

Si kulit hitam tadi ibarat pesawat yang melayani penumpang dengan servis kelas eksekutif. Tak ada yang memujinya, selain si tunanetra. Ya, si tunanetra memang tak bisa melihat dengan mata, namun dengan mata batinnya mampu melihat kebaikan si kulit hitam.

Ah, saya jadi malu sendiri. Saya yang dianugerahi sepasang mata yang normal ini sering gagal melihat dan menyadari kebaikan orang lain, semata karena orang yang berbuat baik itu "berbeda warna" dari "warna saya". Terima kasih atas hikmah ini, wahai saudaraku, si hitam yang benar-benar berhati mutu manikam.

Kota Abadi, 11 Januari 2019

Simak juga: Resolusi 2019, Berhenti Merokok demi Diri dan Keluarga