Mohon tunggu...
Bobby Andhika
Bobby Andhika Mohon Tunggu...

Profesional bisnis perkapalan, pecinta sejarah dan pemerhati masalah sosial. Pernah menduduki jabatan CEO di beberapa perusahaan perkapalan nasional dan internasional. Sekarang tinggal di Singapura.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Menjual Indonesia dengan “Jowolish”

13 November 2014   18:00 Diperbarui: 17 Juni 2015   17:53 166 0 2 Mohon Tunggu...
Menjual Indonesia dengan “Jowolish”
1415851133833773096

Kehebohan Pak Presiden melakukan presentasi di depan para perwakilan CEO dari negara-negara anggota APEC dengan bahasa Jowolish (Jawa-English) yang saya yakin sebentar lagi akan melewati kepopuleran Singlish (logika sederhana karena populasi orang Jawa jauh lebih besar dari populasi orang Singapura) sudah dan masih menjadi berita hangat sampai hari ini.

Pro dan kontra, bangga dan malu, seperti biasa selalu mengiringi langkah Pak Presiden dalam setiap melakukan apapun, tanpa terkecuali presentasi Pak Presiden yang merasa very happy to be among with para CEO tersebut.

Secara pribadi saya berpendapat, presentasi Pak Presiden tersebut terlalu biasa, sangat sederhana dan cenderung “amatir” untuk tingkat seorang kepala negara. Dibandingkan dengan Obama misalnya, gaya bicara Pak Presiden terlihat membosankan; dan itu fakta.

Tetapi itulah kekuatan Pak Presiden kita, kesederhanaannyalah yang membuat sebagian rakyat Indonesia mencintainya.

Para CEO yang hadir di dalam presentasi tersebut pastilah sangat terbiasa melakukan dan melihat presentasi yang bahkan Mario Teguh-pun akan merasa Golden Ways nya ternyata masih 18 karat dan belum 24 karat.

Tetapi kenapa mereka terlihat antusias bertepuk tangan di akhir presentasi? Kenapa mereka bergegas mendekati sang Presiden yang untuk ukuran Indonesia-pun tidak masuk kategori ganteng untuk diminta berfoto bersama

Karena mereka orang-orang pintar yang berpengalaman. Mereka duduk di sana karena mereka memiliki kepentingan dengan negara yang berpenduduk no 4 terbesar di dunia, yang kata Pak Presiden dengan Jowolish-nya terbentang from London in UK to Istanbul in Turkey.

Kepentingan mereka pada saat ini selalu terbentur dengan betapa kompleks-nya melakukan investasi di Indonesia, betapa tercengangnya mereka dengan birokrasi Indonesia yang melakukan kampanye juta-an dollar untuk merayu mereka berinvestasi di Indonesia, tetapi bersikap “kalau bisa dibuat susah kenapa dibuat gampang” pada saat menghadapi para investor yang antusias menanamkan modalnya di Indonesia.

Mereka butuh “kesederhanaan”, dan Pak Presiden yang saya sendiri tidak yakin apakah memang beliau melakukan itu sesuai skenario atau memang seperti yang anak-anak saya bilang “casing”-nya sudah seperti itu; datang membawa kesederhanaan tersebut.

Dan suka atau tidak suka, itulah yang para CEO itu butuhkan.

Indonesia butuh investasi, dan mereka ingin berinvestasi.

Pak Presiden datang, dengan power point dan Jowolish khas-nya seolah-olah berkata sekarang berinvestasi di Indonesia sangat sederhana, sesederhana penampilan saya; sesederhana vocabulary saya.

Mari kita tunggu, apakah mereka akan benar-benar datang membawa modal mereka atau mereka hanya penasaran dengan Pak Presiden yang baru saja menjadi cover boy-nya majalah Time.

Dan apakah pada saat para CEO itu mengirimkan para VP dan manajer-manajernya ke Indonesia akan disambut dengan “kesederhanaan’ oleh para pembantu Pak Presiden beserta jajarannya, atau ternyata Indonesia masih akan tetap complex dan complicated?

Dari saya, well done Pak Presiden, minimal bisa bikin heboh, dan dalam ilmu marketing ada ungkapan “There is no such thing as bad publicity” ; your presentation is not great but you got all the attention that you need…..

[caption id="attachment_335051" align="aligncenter" width="468" caption="blogs.wsj.com"][/caption]

VIDEO PILIHAN