Mohon tunggu...
Bisyri Ichwan
Bisyri Ichwan Mohon Tunggu... Simple Man with Big Dream and Action

Santri Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir. Seorang yang kagum dengan Mesir karena banyak kisah dalam Al Qur'an yang terjadi di negeri ini. Seorang yang mencoba mengais ilmu pengetahuan di ramainya kehidupan. Seorang yang ingin aktif kuliah di Universitas terbuka Kompasiana. Awardee LPDP PK 144. Program Doktor UIN Malang. Ketua Umum MATAN Banyuwangi. Dosen IAIDA Banyuwangi. Dan PP. Minhajut Thullab, Muncar, Banyuwangi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Berkah Maulid

2 November 2020   10:35 Diperbarui: 2 November 2020   10:39 76 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berkah Maulid
Ngaji Maulid bersama Masyarakat (Foto : Wildan)

"Prak...", seketika aku kaget. Botol tumbler dijatuhkan sama anakku, Khilni, mengenai tepat ke layar laptop macbook Apple ketika aku sedang khusyuk mengedit naskah buku "Ngofi -- Ngobrol Sufi". Aku menoleh ke belakang, istriku yang awalnya asyik bermain dengan hpnya, langsung beranjak dari tempat tidurnya. Dia terlihat ketakutan. Khilni berdiri diam.

"Minta maaf ke Baba", istriku meminta kepada Khilni untuk meminta maaf kepadaku. Aku masih menoleh kepadanya. Secara manusiawi, dalam kondisi seperti ini, aku bisa saja memarahinya. Namun, dia masih bocah umur 2 tahun, sedang aktif-aktifnya bermain. Sedang tumbuh kreatifitasnya. Untuk ukuran anak-anak seusianya, dia sangat aktif sekali.

Menoleh ekspresi wajahnya, aku tidak tega. Aku teringat dengan pesan Kanjeng Nabi yang pernah aku dengar dari seorang guru, bahwa anak umur 0 sampai 7 tahun adalah masanya dia untuk bermain. 

Biarkan dia bermain sekehendak dirinya, memuaskan untuk menghabiskan masa indah yang nantinya tidak akan pernah terulang. Jangan sampai ketika dewasa nanti, dia masih sibuk bermain, karena masa kecilnya kurang bahagia. 

Aku juga masih teringat dengan pesan Kanjeng Nabi bahwa orang yang kuat, bukanlah yang bisa mengalahkan orang lain dengan kekuatannya, tapi diantaranya adalah dia yang kuat menahan amarah padahal bisa melampiaskannya.

Tangan mungilnya disodorkannya padaku dengan berkata, "Baba...minta maaf", aku tidak bisa menolak permohonan maafnya. Tangan milikku juga kusodorkan padanya, dia mengecup tanganku lalu lari ke pelukan mamanya. 

Aku masih terdiam. Layar di laptopku sudah tidak terbentuk. Hanya guratan-guratan putih yang bisa aku lihat di depanku. Kalau laptop windows biasa, mudah saja mengganti layarnya, seperti waktu lalu ketika aku hendak mengganti layar laptop Sony, aku tanyakan di Sumberayu, habisnya sekitar 1,5juta.

Namun, ini laptop Macbook Apple. Aku pernah mendengar beberapa kali dari langgananku di Surabaya perihal laptop ini, "Layarnya jangan sampai rusak mas, kalau bisa. Kalau layarnya kena, hampir sama dengan membeli laptop baru", pesan dia waktu itu. 

Kata-kata ini muncul kembali dalam ingatanku. Yang awalnya Khilni yang meminta maaf kepadaku, gantian istriku yang meminta maaf, "Maaf Mas, aku teledor dalam mengurus anak", katanya dengan memohon.

Secara pribadi aku sudah memaafkan keduanya. Tidak ada yang salah dengan istriku, apalagi dengan anakku. Sudah beberapa minggu ini, waktu sering aku habiskan di depan laptop untuk menulis dan mengedit beberapa naskah yang harapannya akan menjadi sebuah buku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN