Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Penulis dan Pewarta

Pembina Pramuka, Penulis, Pewarta, Pengumpul Prangko, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Goenawan Mangoenkoesoemo, Sang Visioner: Usia 15 Tolak “Politik Dinasti”

25 Oktober 2016   15:34 Diperbarui: 25 Oktober 2016   15:44 215 0 2
Goenawan Mangoenkoesoemo, Sang Visioner: Usia 15 Tolak “Politik Dinasti”
Diskusi tokoh | Dokumen pribadi

Goenawan Mangoenkoesoemo, nama yang mungkin belum begitu dikenal di pentas sejarah Indonesia. Kalau kita menggunakan mesin pencari dan memasukkan nama “Mangoenkoesoemo”, maka yang akan muncul adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, yang tak lain adalah kakak kandung Goenawan. Sedangkan kalau kita masukkan nama “Goenawan”, maka yang muncul adalah Goenawan Mohammad, wartawan sekaligus sastrawan terkemuka Indonesia.

Lalu siapakah Goenawan yang merupakan adik Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo itu? Dilahirkan di Pecangakan, Jepara, Jawa Tengah, pada 1888, Goenawan adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara keluarga Mangoenkoesoemo. Salah satu kakak kandungnya adalah yang kita kenal sebagai Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, pahlawan nasional yang namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional di Jakarta.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Goenawan melanjutkan ke “Sekolah Dokter Jawa” atau nama sebenarnya adalah School Tot Opleiding Van Indische Arts (STOVIA) pada 10 Januari 1903 dan selesai 11 April 1911. Selama dua tahun antara 1915-1916 dia menjadi asisten pengajar di STOVIA, dan kemudian melanjutkan pendidikan kedokteran di Belanda sampai lulus pada 1920. Belakangan, setelah mengabdikan diri di Tanah Air, dia sempat sekali lagi ke Belanda untuk mengambil spesialisasi sebagai dokter ahli penyakit paru-paru.

Walaupun mungkin tak begitu dikenal, Goenawan sebenarnya merupakan salah satu pendiri Boedi Oetomo (BO), yang tanggal kelahirannya kini kita peringat sebagai Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei. Goenawan memang nyaris luput dari perhatian masyarakat, dan orang lebih mengenal nama Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Suwardi Soerjaningrat, yang terkait dengan sejarah nasional Indonesia, khususnya berkaitan dengan organisasi BO dan tanggal-tanggal peringatan Hari Kebangkitan Nasional.

Hal itu juga diakui oleh dua sejarawan Indonesia, Djoko Marihandono dan Wasmki Alhaziri, ketika keduanya tampil sebagai narasumber dalam Diskusi “Goenawan Mangoenkoesoemo” yang diselenggarakan oleh Museum Kebangkitan Nasional di gedung museum itu yang merupakan bekas gedung STOVIA di Jakarta, Selasa, 25 Oktober 2016. Padahal, keberadaan Goenawan terbilang penting dalam sejarah nasional Indonesia.

Dia merupakan orang di belakang layar perkembangan BO. Bahkan Tjipto Mangoenkoesoemo, kakak Goenawan menyebutkan, bahwa Soetomo yang merupakan tokoh sentral BO, kehilangan kekuatannya setelah Goenawan meninggal dunia. “Soetomo telah kehilangan dalangnya”, begitu tulis Tjipto Mangoenkoesoemo, mengibaratkan hubungan Goenawan sebagai dalang dan Soetomo sebagai wayangnya.

Menariknya, ada fakta yang membuktikan bahwa Goenawan sebenarnya seorang yang visioner juga. Di usianya terbilang sangat muda, masih 15 tahun, dia telah membuat tulisan di Harian Java Bode, suratkabar terkenal di Hindia-Belanda pada masanya. Dalam tulisannya, Goenawan mengritik pengangkatan regent (bupati) yang hanya dipilih berdasarkan garis keturunan bangsawan atau priyayi saja. Jadi hanya karena garis keturunan seorang dapat menjadi bupati, bukan berdasarkan kompetensi atau kualitasnya.

Jelas, Goenawan seorang yang visioner, bila dikaitkan dengan kondisi saat ini. Walaupun sekarang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), calon bupati, wali kota, atau gubernur, sudah dipilih langsung, tetapi masih terlihat kecenderungan “politik dinasti”. Ayahnya bupati, maka anaknya dicalonkan, dan masyarakat hanya melihat ke ayahnya, segera memilih anaknya. Ada juga yang sang suami tadinya bupati, sekarang berganti ke tangan istrinya. Jadi bisa dibilang, bahwa kritik Goenawan masih berlaku sampai saat ini. Tulisannya di Java Bode pada awal 1900-an, masih relevan sampai saat ini.

Memang bisa diberi alasan, menjadi pejabat seperti bupati, wali kota, atau gubernur, hak semua orang yang memenuhi syarat. Jadi anak atau istri bupati pun berhak mencalonkan diri untuk masa jabatan berikutnya. Persoalannya mungkin yang terjadi adalah sebagian masyarakat masih “terbuai’ dengan ayah atau suaminya yang pernah menjadi pejabat, tanpa memperhatikan apakah sang anak atau sang istri – atau sebaliknya sang suami, bila sebelumnya istri yang menjadi bupati – mempunyai kompetensi atau memenuhi kualifikasi.

Dalam kaitan ini, kritik Goenawan tampaknya masih relevan untuk dicermati saat ini. Kritik dari seorang tokoh yang kurang dikenal namanya dalam buku-buku sejarah Indonesia.