Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Penulis dan Pewarta

Pembina Pramuka, Penulis, Pewarta, Pengumpul Prangko, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Banjir Gara-gara Bangun Rumah Membelakangi Sungai?

17 Februari 2017   10:11 Diperbarui: 18 Februari 2017   09:40 579 2 0
Banjir Gara-gara Bangun Rumah Membelakangi Sungai?
Banjir di Kampung Arus, Jakarta Timur. (Foto: kompas.com)

Hujan deras siang malam selama beberapa hari yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya, akhirnya kembali membuat sejumlah kawasan tergenang pada Jumat malam, 15 Februari 2017, Kamis pagi, 16 Februari 2017. Seperti biasa, rumah-rumah penduduk yang berada di bantaran sungai menjadi “sasaran” air banjir. Itulah sebabnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selama beberapa tahun belakangan ini berusaha membebaskan area bantaran sungai dari rumah-rumah, dan mengembalikannya menjadi “jalur hijau”.

Selain mengeruk kali dan membersihkan sungai, tampaknya ada hal penting yang menjadi salah satu penyebab banjir di Jakarta. Hal itu telah diungkapkan sejumlah peneliti dan sejarawan, membandingkannyadengan Amsterdam di Belanda. Kenapa dengan Amsterdam? Karena Jakarta dulu pernah bernama Batavia, dan menjadi ibu kota negara jajahan yang diberi nama Hindia-Belanda. Pembangunan rumah-rumah di pinggir sungai, tepatnya pinggir Sungai atau Kali Ciliwung serta sungai-sungai lainnya yang mengalir di Batavia, banyak dilakukan pemerintah kolonial Hindia-Belanda dengan meniru pembangunan rumah di pinggir sungai di Amsterdam.

Hal itu antara lain terungkap dalam buku berjudul Ciliwung, Aliran Kehidupan Jakartayang diterbitkan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta beberapa waktu lalu, yang diberi sambutan Kepala BPAD DKI Jakarta, Dr. Tinia Budiati, tertanggal 2 Desember 2015. Buku itu sendiri dikerjakan bersama-sama oleh sejumlah arkeolog dan sejarawan di Jakarta.

Dalam Bab III buku tersebut antara lain tertulis, “Sejak ratusan tahun lalu masalah banjir dan masalah sosial di Batavia, berlanjut ke Jakarta, belum tertangani dengan baik.  Bisa jadi pemerintah Hindia-Belanda keliru membaca Batavia. Amsterdam terletak dekat pegunungan dan relatif monokultural sehingga warganya mudah diatur. Sebaliknya wilayah Batavia berupa dataran rendah dengan penduduk yang multietnis dan multikultural”.

Selain perbedaan antara pegunungan dan dataran rendah, keberadaan penduduk yang bisa dibilang satu budaya di Belanda, sangat berbeda dengan di Batavia yang terdiri dari beragam etnis dan beragam budaya. “Jadi lebih susah diatur,” canda seorang teman tentang penduduk Batavia atau Jakarta sekarang ini.

Buku
Buku

Bukan hanya itu. Di dalam buku terbitan BPAD DKI Jakarta itu juga dituliskan, “Bedanya lagi, kalau di Amsterdam rumah menghadap sungai, di Batavia rumah membelakangi sungai. Akibatnya sungai menjadi tempat pembuangan sampah dan kotoran, sehingga kanal-kanal sering tersumbat”.

Boleh jadi ini benar. Ada kecenderungan dari antara kita untuk yang penting rumah “depannya cantik, terlihat bagus”, jadi dari jalan orang bisa mengagumi rumah kita. Sedangkan soal bagian belakang, “kan gak dilihat orang lain”.

Bahkan bukan rahasia lagi, cukup banyak yang menyembunyikan hal-hal kotor, mulai dari baju dan cucian kotor, barang-barang bekas yang belum sempat dibuang, dan sejenisnya, di bagian belakang rumah. Pokoknya, kalau ada tamu masuk rumah yang terlihat kondisi ruang tamu adalah bersih dan cukup nyaman.

Ini juga terkait dengan perilaku sebagian dari antara kita dalam menjaga kesehatan. Beberapa kali saya menegur orang yang membuang sampah sembarangan. Beberapa di antara yang saya tegur berdalih mereka tak melihat ada tempat sampah di dekat situ. Langsung saya komentari, “Anda kan bawa tas, masukin dulu sampah bungkus permen dan plastik bekas makanan ke dalam tas. Nanti kalau ketemu tempat sampah baru dibuang”.

Kalau kita baca di media sosial, cukup banyak juga yang mengeluh melihat orang mengendarai mobil pribadi, tapi buang sampah seenaknya di jalan raya. Katakanlah di dalam kendaraannya tidak ada tempat sampah, namun rasanya tak sulit menyediakan plastik bekas sekadar menyimpan sampah sampai bisa dibuang di tempat sampah yang seharusnya.

Hal ini menunjukkan bahwa cukup banyak dari kita yang masih berperilaku, “yang penting saya bersih, kalau soal orang lain, soal tempat orang, ya masa bodoh”.

Jadi yang perlu memang bukan sekadar keruk-mengeruk dan membersihkan sungai. Sikap dan perilaku masyarakat juga perlu diperbaiki agar menghargai hidup sehat bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh warga. Dan soal ini memang bukan lagi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi siapa pun harus ikut bertanggung jawab dalam mendidik pola hidup sehat “anti banjir”. Mulai dari orang tua, tokoh agama, pendidik, tokoh komunitas, dan siapa saja.