Mohon tunggu...
Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Mohon Tunggu... Penulis, Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog

Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog, Penulis, Peneliti Sejarah Kepanduan, Kolektor Prangko dan Benda Memorabilia Kepanduan, Cosplayer, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Harus Ada Verifikasi dalam Lelang

22 Mei 2020   15:01 Diperbarui: 22 Mei 2020   14:59 75 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Harus Ada Verifikasi dalam Lelang
Motor listrik Gesits dengan tanda tangan Presiden Ri yang dilelang. (Foto: Kompas)

Kasus "lelang kacau" sepeda motor listrik Gesits yang pernah dikemudikan Presiden Joko Widodo keliling Istana Bogor dan kemudian diberi tanda tangan Presiden, sempat menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Awalnya, lelang amal yang diadakan diadakan di sela-sela konser virtual Berbagi Kasih Bersama Bimbo, antara lain menampilkan motor listrik Gesits itu.

Ketika lelang dibuka, banyak yang berebut mengajukan penawaran. Akhinya lelang dimenangkan oleh M. Nuh dari Jambi yang menawar sebesar Rp 2,55 miliar. Lebih tinggi dari penawaran Gabriele Mowengkang sebesar Rp 2,5 miliar, Maruara Sirait Rp 2,2 miliar, dan Warren Tanoe Soedibyo Rp1,550 miliar.

Sesuai aturan lelang, penawar tertinggi di saat akhir batas waktu lelang menjadi pemenangnya. Apa mau dikata, ternyata M Nuh tidak mempunyai uang sebanyak itu. Dikira awalnya dia adalah pengusaha asal Jambi, ternyata M Nuh hanya buruh harian biasa.  Untunglah, lelang kembali bisa dilakukan dan hasil lelangnya tetap dapat dimanfaatkan untuk kepenringan amal di tengah-tengah kemuraman akibat pandemi Covid-19.

Kejadian seperti kasus M. Nuh itu mengingatkan saya pada lelang koleksi kartu telepon di Jakarta sekitar 1995 atau 1996. Kalau hobi mengoleksi prangko dan benda pos disebut filateli, lalu hobi mengoleksi mata uang disebut numismatik, maka hobi mengoleksi kartu telepon disebut telegeri. Orang yang hobi telegeri disebut telegeris.

Suatu ketika di pertengahan 1990-an, ketika koleksi kartu telepon sedang booming dan banyak yang berminat mengoleksinya, diadakan lelang di Jakarta. Tentu saja lelang itu menarik perhatian para telegeris, bukan hanya dari Jakarta tetapi dari kota lain yang sengaja datang ke tempat lelang itu. Sejumlah telegeris kawakan hadir pula.

Namun ketika lelang diadakan dan diadakan penawaran terhadap beberapa -- lebih dari satu -- koleksi kartu telepon, pemenangnya adalah seorang perempuan setengah baya yang duduk di bangku depan sebelah kiri. Berkali-kali dia memenangkan lelang dengan menawar harga tertinggi.

Maka para telegeris kawakan mulai melirik ke arahnya. Sebagian bertanya-tanya, siapakah ibu yang tak dikenal itu? Ada yang menduga dia orang suruhan seorang telegeris yang tak mau diketahui dan dibekali sejumlah uang, ada juga yang mengira dia adalah seorang istri pengusaha kaya, dan sebagainya.

Ketika lelang berakhir dan tiba kewajiban untuk membayar bagi para pemenang lelang, perempuan setengah baya itu tenang saja. Dia hanya duduk sambil menikmati kue dan minuman yang memang disiapkan panitia. Ketika diminta membayar, dia mengatakan tak membawa uang. Lalu, ada panitia lelang yang mengusulkan agar membayar dengan kartu debit atau kartu kredit saja, karena di situ ada pemilik toko yang menjual koleksi kartu telepon dan siap menerima pembayaran dengan kartu debit atau kartu kredit.

Perempuan tadi menolak dengan alasan tidak membawa kartu apa pun. Lalu akhirnya panitia meminta tanda pengenalnya, dan akan diantar ke rumahnya untuk mengambil uang. Si perempuan menolak dan malah pergi. Usut punya usut, ternyata perempuan itu kurang waras. Aduh, panitia lelang "kecolongan".

Uang Jaminan

Koleksi uang-uang lama yang sering dilelang. (Foto: BDHS)
Koleksi uang-uang lama yang sering dilelang. (Foto: BDHS)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x