Mohon tunggu...
Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Mohon Tunggu... Penulis, Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog

Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog, Penulis, Peneliti Sejarah Kepanduan, Kolektor Prangko dan Benda Memorabilia Kepanduan, Cosplayer, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Cerita Kemarin (3): Semakin Menghargai Pramuniaga

21 November 2015   15:51 Diperbarui: 21 November 2015   16:01 236 1 0 Mohon Tunggu...

[caption caption="Berkostum Kapten Haddock, selalu diajak foto bersama saat berlangsungnya Indonesia Comic Con, 14-15 November 2015. (Foto: Novandy Primawanda)"][/caption]

Kalau kita berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan, entah itu namanya mal (mall), plaza, town square, trade centre, department store atau apa pun nama yang dpilih – pasti selalu berjumpa dengan para pramuniaga di sana. Mereka adalah para pegawai yang bekerja di toko-toko dalam pusat perbelanjaan itu, menjaga, menawarkan dagangan, dan membantu calon pembeli atau siapa pun yang masuk ke dalam toko tempat mereka bekerja.

Di kota-kota besar, para pramuniaga wanita umumnya menggunakan sepatu dengan hak cukup tinggi antara 5 sampai 7 sentimeter. Hebatnya, mereka selalu berdiri sepanjang waktu dan harus menampakkan wajah cerah dengan senyum, agar calon pembeli mau datang ke toko tempat mereka bekerja. Para pramuniaga itu harus berdiri 3-4 jam sebelum beristirahat, dan kemudian melanjutkan berdiri lagi sampai jam kerja di hari itu usai. Bila diperkirakan mereka bekerja 8 jam, berarti ada sekitar sedikitnya 6 jam yang mereka lakukan sambil berdiri.

Bayangkan, betapa melelahkannya berdiri selama itu. Dan itu, dalam jangka waktu yang lebih sedikit, juga telah saya alami dalam dua hari kemarin, 14-15 November 2015. Saat itu berlangsung Indonesia Comic Con, suatu perhelatan pameran dan aktivitas bagi para penggemar toys, games, dan comics,yang diadakan di Jakarta Convention Centre.

Saya hadir untuk menyemarakkan aktivitas Komunitas Tintin Indonesia, yang mendapat booth dalam pameran tersebut. Seperti biasa, saya tampil dengan kostum Kapten Haddock, sementara Yoga Wisaksono tampil sebagai Tintin. Pada 14 November, saya menunggu Yoga yang datang sekitar pukul 14.15 WIB, baru kami berganti kostum.

Baru saja kami selesai mengenakan kostum dan berdandan agar sesuai dengan karakter tokoh yang kami perankan, para pengunjung sudah mendekat dan meminta foto bersama. Silih berganti, kami melayani foto bersama di booth Komunitas Tintin Indonesia. Setelah sekitar 40 menit melayani foto bersama, kami beristirahat dan kemudian mencoba berkeliling melihat-lihat aktivitas lainnya yang ada di sana. Tetap saja, berkali-kali para pengunjung meminta kami foto bersama. Di samping kami pun melayani wawancara dari sejumlah media yang datang ke booth Komunitas Tintin Indonesia.

Mengingat ada urusan lain, Yoga meninggalkan acara pada sekitar pukul 17.30 WIB, dan saya tak lama kemudian. Seingat saya, sekitar pukul 19.00 WIB saya telah ada di Stasiun KA Palmerah untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan commuter line. Walaupun agak lelah, hari itu saya merasa tetap bersemangat.

Esoknya, 15 November 2015, saya datang kembali. Kali ini Yoga tidak bisa datang. Sekitar pukul 14.00 WIB, saya telah siap dengan kostum Kapten Haddock. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini pengunjung sangat membludak. Tak heran permintaan foto bersama datang bertubi-tubi. Sampai terjadi antrean cukup panjang di depan booth Komunitas Tintin Indonesia. Dalam hitungan saya, sekitar satu jam lebih saya harus berdiri melayani permintaan pengunjung untuk foto bersama, sampai karena kaki sudah terasa pegal, saya meminta teman yang juga menjaga di booth tersebut untuk menghentikan sesi foto bersama.

Saya pun beristirahat sejenak. Sekitar setengah jam kemudian, saya kembali melayani foto bersama dengan para pengunjung yang seperti tak habis-habisnya datang. Berdiri terus selama satu jam lebih menyebabkan kaki terasa pegal dan punggung mulai sakit. Apalagi saya harus selalu menyambut dengan wajah cerah para pengunjung yang mau berfoto bersama.

Saya pun kini semakin menghargai para pramuniaga. Mereka berdiri berjam-jam untuk mencari nafkah. Sementara saya yang hanya beberapa jam berdiri, dan bisa meminta istirahat bila sudah lelah, terasa sekali betapa kaki pegal-pegal. Jangan anggap enteng pekerjaan seorang pramuniaga.

(Catatan: Tulisan ini sebenarnya telah selesai saya tulis Senin (16 November 2015), tetapi karena kesibukan dan melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa membawa laptop - padahal semua bahan tulisan saya ada di laptop itu - jadi baru bisa termuat sekarang. Walaupun demikian, semoga isinya masih berguna bagi pembaca).

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x