Mohon tunggu...
Berthy B. Rahawarin
Berthy B. Rahawarin Mohon Tunggu... Dosen President University, Cikarang

Maluku (SD-SMA 1910-1983) - STF-SP Manado (1983-1992). Jakarta (1993 - sekarang)

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Ketika Romo Magnis Digurui Duo Hyper Jenius

21 Juli 2020   08:08 Diperbarui: 23 Juli 2020   18:05 102 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Romo Magnis Digurui Duo Hyper Jenius
dok.Gramedia

Saya ingin menyederhanakan (lagi)  masalah  yang  tidak terlampau sulit dalam filsafat yang sudah dijelaskan Frans Magnis Suseno atau Romo Magnis secara mudah-meriah, yakni hubungan antara Agama(wan) dan Komunis(-wati), namun telah mendapat cercaan-fitnah keji dari dua orang, yang saya harus sebut sebagai "duo hyper-jenius" dengan bebas interpretasi masing-masing pembaca, yang jika tidak demikian menyebutnya, mereka tidak akan sampai pada level menggurui seorang "pengecut" bernama Magnis, yang (dikatakan Harsa) memecah-belah anak bangsa.

Karena kedua hyper-jenius ini memiliki argumen masing-masing untuk menggurui Ahli Marksisme yang sekampung-halaman dengan Romo Magnis, saya dan tidak sedikit orang yang belajar filsafat dan  berreferensi pada Magnis, hanya ingin  menggunakan anekdot ini, yang atas cara sederhana, untuk menjelas-sederhanakan kan hubungan Agama dan Komunisme, Agama(-wati/-wan) dan komunis(-wan/-wati).

Anekdotnya dimulai dengan pertanyaan, "Apa persamaan Agama dan Komunisme? Jawabannya, "Ketika pergi  tidur, keduanya berharap bahwa, waktu bangun pagi satu  dari mereka telah tiada!"

Saya  tertegun dengan dua orang (yang jika tidak merasa lebih paham Marksisme-Leninisme dari Romo Magnis, tidak mungkin  akan "menggurui" Prof. Magnis, tepatnya, telah menghakimi, Magnis sedemikian jauh dan dangkalnya.

Dua orang yang saya sebut  sebagai "Hiper-Jenius" tersebut adalah Coen Husain Pontoh dan Harsa Permata yang tulisannya beredar-liar di media-sosial. Harsa Permata menulis dengan judul bombastis, "Memecah belah Bangsa ala Franz Magnis Suseno" dalam RMOL (KAMIS 16 JUL 2020, PUKUL 08:07 WIB) Harsa, yang Sarjana Filsafat jebolan Universitas Gajah Madah (2005), inti-ringkasnya mengatakan, Romo Magnis  dengan sengaja telah "membodohi pembaca  tentang Marxisme-Leninisme, agar "masyarakat tetap bodoh dan terjajah." Selanjutnya, Magnis distigmakan sebagai agen penjajah asing (imperialisme), yang memang menginginkan rakyat Indonesia terkungkung dalam ketidaktahuan dan kebodohan, supaya imperialisme bisa dengan leluasa melakukan eksploitasi manusia dan alam Indonesia.

Masih searah dengan  Harsa, muncul dalam IndoPROGRESS  (20 July 2020) "Surat Terbuka dari Coen Husain Pontoh beranggapan Romo Magnis telah jadi seorang penakut untuk membela korban Orde-Baru dan  terus ikut mempertahankan stigma negatif yang dibangkitkan Orde-Baru terhadap mereka yang dicap sebagai komunis, maka Magnis divonis "lalai-gagal" sebagai seorang rohaniwan pemimpin Katolik.

Di akhir tulisannya yang berupa surat terbuka kepada Magnis dari New York City, 12 Juli 2020, si jenius kedua CH Pontoh mengutip ungkapan Mas Pram, Pramoedya Ananta Toer, menulis "Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?"

C.H. Pontoh yang (lebih rajin buat catatan dari New York, mungkin ketinggalan banyak catatan lain dari Romo Magnis yang berjalan kaki bersama kaum minoritas yang tersingkir karena keyakinan, etnisitas,  semisal kelompok Ahmadiyah, dll; sehingga di banyak forum Magnis membela "hak-hak keperdataan dari korban stigmatisasi, bagi romo Magnis adalah kewajiban pemimpin, gembala (katolik) adalah hal utama, yang mengatakan, "(Presiden) Jokowi tidak boleh tampak memperbolehkan kekerasan apa pun atas nama agama. 

Segenap agama harus dilindungi," tegas  Franz Magnis-Suseno suatu saat di awal periode pertama rejim presiden Jokowi. Magnis mengakui, penerimaan terhadap enam agama yang diakui negara saat ini, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu sudah cukup baik. Namun, Magnis menegaskan bahwa, masih banyak kekerasan dan diskriminasi terhadap mereka yang mempunyai aliran keyakinan, seperti, Ahmadiyah dan Syiah. Magnis "masih tetap pembela-pemberani sejati kaum tertindas hingga hari ini, bila negara tampak (memang) tidak hadir.

Kesimpulan dan Pesan

Tetapi melakukan kritik epistemologis terhadap kenyataan, bahwa "Komunisme akhirnya secara kontradiktif menghendaki kematian "agama" adalah pembenaran orthodoxi, yang kelewat jenius dan beresiko bagi orang beragama,  bunuh diri ala agama. Contoh orang2 beragama yg jadi anggota partai komunis adalah "kejeniusan" hyper itu. Anda berdua masuk kategori ahistoris tingkat dewa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN