Berny Satria
Berny Satria wiraswasta

Bangsa yang Besar adalah yang berani berkorban bagi generasi berikutnya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Makna Shalawat

7 Desember 2018   17:40 Diperbarui: 7 Desember 2018   17:45 67 0 0

Seorang Mahasiswa non Muslim cerdas berdialog dengan Muqidi yang juga Mahasiswa rangking dari lulusan sebuah pesantren besar di Jawa. Si non muslim bertanya:

Non Muslim:
Di' (panggilan Muqidi singkat), kemarin aku pernah dengar khutbah sebuah pengajian yang penceramahnya bilang bahwa nabi Muhammad itu harus di-shalawati, karena ada perintahnya di dalam kitab suci Alqur'an. Apa bener itu Di'?
Muqidi sedari kecil akrab dengan ritual dan spiritual itu menjawab dengan sigapnya.

Muqidi:
Ya bener, ada ayatnya. Surat Al-Ahzab ayat 56, iki bunyine: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Non Muslim:
Prikitik nya pie Shalawat itu Di'?

Muqidi:
Lhaa, Shalawat itu prakteknya dengan mendoakan Nabi Muhammad. Karena Nabi Muhammad itu laksana gelas. Kalau gelas dicurahkan air terus, maka lama kelamaan akan luber. Naaah,,, luberannya itu jatuh kepada kita. Jadi dengan mendoakan Nabi kita juga kebagian berkahnya.

Non Muslim:
Sampeyan isi doane opo to?

Muqidi:
Ya kita minta agar nabi Muhammad dibukakan pintu Syurga dan diberikan tempat sedekat2nya dengan Gusti Allah. Dia kan nabi yang diangkat Gusti Allah, yo pantas tempatnya paling dekat.

Non Muslim:
Tapi Di', kalau di agamaku, nabi ku sing selamatkan aku dan manusia lain. Kan itu tugas utusan Tuhan, menyelamatkan umat manusia dari siksa di dunia dan setelah kematian. Kenapa nabi mu, jadi umatnya yang berharap agar selamat? Lagipula kalau Shalawat artinya mendoakan, pie Tuhan mendoakan nabi, lha Tuhan yang memberi keselamatan kok Tuhan juga yang berdoa? Ke siapa Tuhan berdoanya? Ora kewalek iku Di'? Maap ya Di' iki mboten ngenyek lho, kita kan insan akademisi yang harus berfikir kritis, ora tersungging yooo...

Muqidi:
Ais aiiiisss... pertanyaanmu nyerempet2 tiang listrik iki... Tapi aku akan tanyakan pada yang lebih tahu akan hal ini. Kalau aku yang jawab takut kamu kebingungan. Sesok yo tak jawab.

Sepanjang perjalanan pulang, fikiran Muqidi sempat berkecamuk atas pertanyaan temannya itu. Ia sedikit bingung juga untuk menjawabnya tadi, karena jika kata Shalawat diartikan dengan berdo'a, berarti Allah dan para Malaikat berdoa untuk nabi, seolah-olah nabi  yang lebih tinggi derajatnya dibanding Allah.

Setelah Shalat Maghrib, Muqidi menghampiri seorang pak Haji yang selesai bertasbih. Seorang pak Haji berjenggot lebat berusia 3x darinya yang sedang memejamkan mata. Ia bertanya setengah berbisik.

MUQIDI:
Assalamualaikum pak haji... (Sambil menjemput tangan pak Haji untuk cium tangan)

PAK HAJI:
Wa'Alaikumsalaaam warakhmatullahiwabarakatuh.

MUQIDI:
Maaf pak Haji, saya Muqidi. Kalau ada waktu, saya bisa bertanya2 tentang agama?

PAK HAJI:
AlhamdulillahiRabbil 'Alamiin... masih ada juga anak muda yang serius tentang agama. Insya Allah bapak akan jawab. Ada apa nak...

MUQIDI:
Begini pak Haji, saya mau tanya , apa arti Shalawat ya? Karena dalam surat Al-Ahzab ayat 56 isinya menjadi salah satu dasar kita semua mendoakan Nabi khususnya ketika perayaan hari2 besar seperti Maulid Nabi. Disitu termaktub bahwa Allah dan para Malaikat Bershalawat kepada Nabi. Dan kemudian ada perintah Allah kepada orang2 yang mengimani Nya untuk bershalawat kepada Nabi dan mengucapkan sebaik2nya salam kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Selama ini yang diajarkan pada saya bahwa Shalawat itu mendoakan. Jadi Kita mendoakan Nabi dan memberi salam kepadanya. Apakah benar Shalawat itu artinya mendoakan ya pak Haji..?

Pak Haji sedikit senyum simpul dan menjawabnya.

PAK HAJI:
Anakku yang sholeh, untuk memahami makna dari kata Shalawat, kita harus mengetahui apa arti kata dasarnya. Shalawat adalah bentuk jamak dari kata dari "Shallaa" atau "Shalat" . Sedangkan kata kerja dari Shalat badalah "Shollu", yang artinya berhubungan. Kata turunan Shollu misalnya: Silaturahim, yang artinya hubungan atau terus mengadakan kontak. Kata Shalawat juga mengandung makna berhubungan, konek, nyambung, seirama, searah, dll. Maka arti kata Shalawat dalam surat Al-Ahzab ayat 56 tadi; bahwa Allah dan para Malaikat memiliki misi yang sama dengan apa yang diamanahkan kepada para Nabi, bukan saja Nabi besar Muhammad SAW, tetapi seluruh utusan Nya memiliki visi dan misi yang sama dengan Allah dan para Malaikatnya.

Seorang Nabi adalah juru bicara Allah sang pencipta. Karena apa yang sampaikannya tidak lain adalah kehendak dan larangan Allah kepada umat manusia. Maka jika mentaati apa yang diucapkan oleh Nabi, berarti mentaati Allah. Begitupula sebaliknya, jika tidak mengikuti petuah para Nabi dan bahkan melakukan apa yang tidak dicontohkannya, berarti itu tidak mentaati Allah. Disitulah fungsi penting seorang Nabi, karena para Nabi adalah orang-orang pilihan yang menjadi "Mulut" Allah.

Benar apa yang termaktub dalam surat Al-Ahzab tadi, bahwa orang-orang yang beriman harus "nyambung" dan mengikuti konsep kehidupan, perilaku, etika, dan perjuangan para Nabi. Konsekuensinya jika tidak sama pola hidupnya dengan para Nabi, mereka akan diazab Allah baik di kehidupan dunia, maupun akhirat nanti.

MUQIDI:
Maaf pak Haji, tapi mereka kan adalah nabi, berbeda dengan Kita manusia biasa yang rentan untuk berbuat dosa dan maksiat. Apakah bisa kita mengikuti 100% pola kehidupan Nabi. Kalau bisa, berarti Kita bisa jadi Nabi? Dan akan banyak muncul Nabi-Nabi baru. Bagaimana itu pak Haji?

Kali ini pak Haji seyumnya tambah lebar, seraya menjawab,

PAK HAJI:
Seorang Nabi dipilih Allah karena tekad dan kebersihan fikir, kata dan perbuatannya dari hal-hal tercela. Mengapa ia yang dipilih menjadi Nabi, itu adalah hak preogeratif Allah, hak kekhususan Allah yang selalu tepat memilih juru bicara Nya. Karena Allah paling tahu manusia mana yang bisa dijadikan contoh bagi umat2 setelahnya. Bukankah kita hidup ini mencontoh.

Kata "Nabi" berasal dari kata Nabaa, Nubuwwah, yang artinya prediksi, ramalan, atau bacaan masa  depan. Seseorang disebut Nabi karena apa yang dikatakannya tentang masa depan selalu terbukti benar dan terjadi. Karena yang dikatakannya bukanlah atas dasar kecanggihannya berfikir atau banyaknya ia menuntaskan strata pendidikan. Tetapi ada pihak yang menggerakan lidah, perilaku, dan cara hidup nya. Ia adalah Allah SWT.

Hmmm... saya tahu kisanak akan bertanya beda Nabi dengan Rasul kan..?

MUQIDI:
Waduh... kok pak Haji tahu fikiran saya, jangan2 pak haji ini....

PAK HAJI:
Pssst... bukan, saya bukan Nabi, tapi saya adalah orang yang berusaha keras mengikuti Nabi. Saya terus belajar dan mengambil hikmahnya.

Saya jawab ya; arti kata Rasul adalah pembawa risalah, berita besar. Pemimpin umat dalam menegakkan hukum Allah. Ia dapat mengetahui arah kehidupan ke depan terhadap jalan hidup yang ditempuh oleh dia dan umatnya, karena Allah lah yang memberi tahu kepadanya.

Jadi seorang Rasul adalah Nabi yang memimpin umat untuk menegakkan hukum Allah sehingga peradaban menjadi maju dan kehidupan umat menjadi adil dan sejahtera. Rasul sudah pasti seorang nabi, tapi seorang Nabi belum tentu memimpin penegakkan hukum Tuhan hingga mencapai kemenangan sebagaimana para Rasul.

Para Nabi adalah manusia paripurna yang dijadikan standard teladan agar manusia mengikutinya demi memenuhi rencana Allah dalam membangun tatanan kehidupan yang beradab. Maka orang-orang yang mengimani Allah, wajib mengikuti pola kehidupan para Nabi. Karena Pilar-Pilar penegakan hukum Allah adalah orang-orang yang beriman. Mereka bergerak dalam Satu komando tanpa Ada kesepakatan dalam melaksanakannya. Jika Ada orang yang mengaku menegakkan hukum Allah tetapi didalam pelaksanaannya terjadi tawar-menawar, kesepakatan, bahkan persekongkolan, itu Artinya hukum yang ditegakkan bukan hukum Allah, tetapi hukum hasil fikiran manusia yang penuh akan aroma keburukan demi mencapai tujuan kehidupan materialistik semata.

Jika Nabi berkata lemah lembut, maka manusia harus berkata yang halus dan dapat diterima semua kalangan. Kalau berkata serampangan, kasar, menaci, bahkan menghina orang lain, itu tandanya tidak mengikuti Nabi. Sehebat apapun Ia. Setinggi apapun pangkat dan kedudukannya, keturunan siapapun dia, dan sealim apapun ia, jika menghina dan menjelekkan orang lain, berarti dia tidak mengikuti pola para Nabi, berarti ia menghina Allah. Kisanak tahu sendiri kan konsekuensi menghina Allah...


Maka adalah keharusan kita mengikuti pola hidup dan perjuangan manusia contoh yaitu para Nabi. Bukan berarti kita harus menjadi Nabi, karena sekali lagi itu adalah hak nya Allah untuk memilih seorang Nabi, bukan manusia.

Oleh karena itu nama anak menjadi Muqidi, bukan nabi Muqidi.

MUQIDI: **+?$%##

Kemudian pak Haji melanjutkan nasihatnya.

PAK HAJI:
Sesungguhnya seluruh perintah Allah adalah kepada umat manusia, bukan Kepada para Nabi, karena Nabi adalah pembawa berita, bukan obyek perintah. Namun Ia tidak akan berbicara langsung Kepada masing2 manusia, karena itulah Dia mengangkat seorang jurubicara pada tiap zamannya.


Umat manusia yang mengimani Nya mendapat petunjuk dan larangan Nya hanya melalui Satu Sumber. Dia lah para Nabi dan Rasul.
Dengan demikian, manusia yang mengimani Nya dapat memiliki keyakinan yang Satu, tidak berpecah2.

Untuk itulah Dia selanjutnya memerintahkan kepada orang2 yg beriman, agar selalu Shollu atau Shalawat dan meneladani  para Nabi.

Lihatlah bagaimana para Nabi tidak pernah meminta hukum Nya diakui dan diberlakukan oleh penguasa yang zalim. Namun mereka berjuang dimulai dari mengajak orang2 disekitarnya untuk menyadari Bahwa Allah masih Ada dan hukum Nya pasti terwujud. Dimulai dari mengajak mereka dengan Cara yang persuasif dan santun.

Tidak pernah ada seorang nabi yang memobilisasi masa untuk berdemonstrasi dan mengadakan gerakan politis agar hukum Nya diakui oleh penguasa zalim. Karena Dia Maha gagah dan tak pernah minta belas kasihan dari siapa pin.

Tidak pernah ada Satu Nabi pun yang diawal perjuangan nya langsung mengangkat senjata atau meneror penguasa. Itu bukan perilaku para Nabi. Itu tidak Shalawat Namanya. Tetapi terjebak oleh kesombongan sektarian sehingga tidak dapat mengetahui dimulai dari mana mengikuti perjuangan para Nabi.

MUQIDI:
Tapi Maaf pak Haji, Bukankah para Nabi juga berperang? Apakah Salah Kalau kita angkat senjata Jika Ada pihak yang menghina agama Kita? Bukankah hukum berperang itu wajib dan Ada perintahnya dalam Al Quran?

PAK HAJI:
Nak Muqidi, perintah berperang itu memang wajib. Bahkan Jika tidak dilaksanakan, maka Kita termasuk orang2 yang mendustakan hukum Nya, karena hanya bisa bicara tetapi tidak melakukannya. Tinggal nak Muqidi lihat dalam Al Quran, bahwa perintah wajib berperang adalah tatkala para Nabi sudah memiliki legitimasi untuk melaksanakan hukum Nya secara Merdeka, bebas, dan berdaulat dalam wilayah yang telah dikuasainya, bukan berperang membela agama di bawah kekuasaan hukum zalim.
Jika itu terjadi, maka label orang2 itu akan lekat dengan sebutan terrorist dan pengacau keamanan. Tidak Ada Nabi yang menyandang stigma seperti itu dalam perjuangan nya.
Itu Namanya tidak Shalawat, tidak nyambung dan tidak meneladani jurus para Nabi.

MUQIDI :
Oooh begitu ya pak Haji, Kalau begitu saya akan beritahu makna kata Shalawat Kepada orang2 yang bertanya Nanti, agar mereka tidak Salah nyambung Kepada perbuatan yang di benci Nya.
Terimakasih pak Haji, atas nasihat dan jawabannya. Semoga pak Haji selalu dalam lindungan Nya dan terus dapat mengajarkan saya.
Assalamualaikum...

Muqidi langsung bergegas Cium tangan pak Haji dan meninggalkan Masjid dengan segera.

Namun pak Haji berseru:
Hait... Hait... MUQIDI..! MUQIDI..! SENDAL SAYA JANGAN DIPAKAI..! INI SENDALMU..!

"MASYALLAH..! Maaf-Maaf pak Haji, saya Kira ini sendal saya" sahut Muqidi sambil bergegas kembali sambil tersipu Malu dan menukar sendal yang dipakai nya dengan sendalnya yang butut tapi "wangi".