Mohon tunggu...
Rm. B.A. Rukiyanto SJ
Rm. B.A. Rukiyanto SJ Mohon Tunggu... Dosen Universitas Sanata Dharma

Imam Jesuit | Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta | Email: ruky@usd.ac.id | rukysj@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kenaikan Tuhan dan Covid-19

23 Mei 2020   08:56 Diperbarui: 23 Mei 2020   09:16 723 28 31 Mohon Tunggu...

Pada 21 Mei 2020 umat Kristiani merayakan Kenaikan Tuhan Yesus ke surga, empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya dari mati. Sebelum naik ke surga, Yesus masih menjumpai para murid-Nya untuk meneguhkan mereka sekaligus mengutus mereka untuk mewartakan Kabar Gembira.

Ketika Yesus wafat disalib pada hari Jumat Agung, para murid tersebar ke mana-mana, mengalami ketakutan yang mendalam, jangan-jangan mereka juga akan disalibkan oleh para pemimpin agama seperti gurunya. Maka setelah bangkit pada hari Minggu Paskah, Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus sungguh bangkit dari mati, menghibur sekaligus meneguhkan mereka agar mereka tidak perlu takut lagi terhadap para pemimpin agama pada waktu itu. Keempat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) menceritakan peristiwa penampakan Yesus kepada para murid-Nya beberapa kali. Setelah empat puluh hari, pada penampakan yang terakhir, Yesus memberi pesan kepada para murid-Nya untuk mewartakan karya keselamatan Allah kepada seluruh bangsa, warta bahwa Allah selalu mengasihi umat-Nya dan menghendaki seluruh umat manusia mengalami sukacita dan keselamatan.

Setelah itu Yesus naik ke surga dan berjanji akan mengutus Roh Kudus kepada para murid-Nya yang akan menuntun dan menerangi mereka dalam menjalankan tugas perutusan itu. Turunnya Roh Kudus kepada para murid-Nya terjadi pada hari raya Pentakosta, sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga.

Makna Kenaikan Tuhan

Peristiwa kenaikan Yesus ke surga itu merupakan peristiwa harapan bagi para murid-Nya bahwa kelak mereka juga akan naik ke surga, sekaligus peneguhan mereka untuk melanjutkan apa yang sudah diteladankan oleh Yesus semasa hidup-Nya, yaitu menjalankan cinta kasih kepada Allah dan sesama. Yesus telah memberi teladan memperhatikan kaum pendosa, kaum miskin, mereka yang sakit, dan mereka yang tersingkirkan di dalam masyarakat. Yesus menunjukkan kasih yang begitu besar kepada semua orang yang mengalami penindasan dan kesulitan.

Menjadi tugas para murid Yesus sekarang untuk melanjutkan karya cinta kasih yang telah diteladankan oleh Yesus itu.  Santo Ignatius Loyola (1491-1556), pendiri imam-imam Jesuit, menjelaskan di dalam buku Latihan Rohani bahwa para murid Yesus harus melaksanakan peran penghibur sebagaimana dilakukan oleh Yesus kepada para murid-Nya ketika mereka ketakutan dan mengalami ketidakpastian.

Solidaritas bersama

Pada masa pandemi Covid-19 ini, peran penghibur itu perlu dilakukan oleh para murid Yesus menghadapi situasi yang sulit, di mana ada banyak saudara kita yang berkekurangan, yang kehilangan pekerjaan, yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Umat Kristiani bersama dengan seluruh masyarakat Indonesia perlu bahu-membahu dan bergerak bersama untuk membantu mereka yang terkena dampak langsung dari Covid-19 ini. Solidaritas terhadap mereka yang kesulitan itu perlu diwujudkan bersama.

Pada 10 Mei 2020 yang lalu Mgr Robertus Rubiyatmoko telah membentuk Tim gugus tugas penanganan dampak Covid-19 Keuskupan Agung Semarang.  Tim ini dibentuk untuk membantu mereka yang terkena dampak Covid-19. Tim ini bertanggungjawab untuk melakukan koordinasi, sinergi, dan kolaborasi dengan Tim-tim Kevikepan dan Paroki, sehingga penanganan dampak wabah ini semakin terencana, efektif, dan efisien, bisa tepat sasaran, tepat waktu, tepat guna atau tepat manfaat. Tim ini bekerja sama dengan seluruh masyarakat di tingkat RT dan RW sehingga mereka yang terkena dampak langsung Covid-19 bisa segera dibantu.

Secara kebetulan pada tahun ini Hari Raya Kenaikan Tuhan berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah. Umat Islam merayakan kemenangan setelah menyelesaikan puasa selama bulan Ramadhan, kembali kepada keadaan suci, terbebas dari segala dosa dan kesalahan sehingga berada dalam kesucian (fitrah). Selama bulan Ramadhan Umat Islam diwajibkan untuk membayar zakat fitrah untuk membantu kaum fakir miskin.

Dengan demikian, saat ini adalah saat yang tepat bagi umat Kristiani, umat Islam dan seluruh lapisan masyarakat untuk bekerja sama membantu mereka yang berkekurangan akibat wabah Covid-19 ini. Hari Raya keagamaan Kenaikan Tuhan dan Idul Fitri dapat menjadi sarana untuk meningkatkan persaudaraan dan solidaritas kita terhadap mereka yang membutuhkan.

*) Dr. B. Agus Rukiyanto, Dosen Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 

VIDEO PILIHAN