Mohon tunggu...
Bernard T. Wahyu Wiryanta
Bernard T. Wahyu Wiryanta Mohon Tunggu... Wildlife & Travel Photo Journalist

Wildlife & Travel Photo Journalist www.wildlifeindonesia.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Peran Saya dalam Islamisasi, Sebuah Potret Masyarakat Kita

6 Oktober 2013   16:31 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:55 826 7 7 Mohon Tunggu...

Tahun-tahun setelah selesai kerusuhan di Jakarta dan era Reformasi berjalan, saya pernah berperan dalam Islamisasi, lebih tepatnya meng-Islamkan kembali beberapa kafir yang ada di sebuah desa di Cikampek. Nama kampungya lupa saya, tapi seteah dari Jomin ke arah Jawa Tengah kira-kira masuknya dari pool bis PO Warga Baru.

Waktu itu ada seorang teman yang mepunyai kebun pisang seluas 10 hektar di sebuah pelosok Cikampek. Tanamannya terserang bakteri Pseudomonas sp. Dan ternyata bakteri ini berasal dari tanaman cabai yang ditanam di sela-sela tanaman pisang. Setelah saya selidiki, ternyata ada sekelompok orang yang menduduki dan menanam cabai disitu, dan dipimpin oleh seorang tua yang tinggal di makam tidak jauh dari kebun pisang itu.

Beberapa minggu kemudian saya dipanggil oleh orang tua tadi ke rumahnya. Saya menghadap dengan membawa ubo rampe berupa gula, kopi, teh, tembakau, da rokok. Singkat cerita dia memperkenalkan diri sebagai juru kunci makam tersebut, dan disitu ada sebuah makam keramat yang merupakan salah satu cucu dan pengikut Prabu Siliwangi. Bapak ini juga mengaku keturunan raja entah siapa dan darimana. Saya dipanggil lagi dan harus datang nanti malam jum’at kliwon ke makam tersebut untuk selamatan. Sebelumnya, saya diperlihatkan beberapa keris, uang brasil, emas batangan dengan gambar Soekarno, beberapa kitab, dan jimat. Salah satu atraksinya adalah mendirikan keris dan tongkat keramat.

Amak juga mengatakan bahwa dia bisa melipatgandakan uang, punya aji pengasihan, pelet, dll dan banyak pejabat negara datang kepada dia minta restu. Bahkan Pak Harto pernah juga datang kepada dia minta keselamatan. Saya tidak tahu Pak Harto yang mana? Amak juga mengatakan bahwa kebun pisang saya ditungguin oleh jin dan segala dedemit makanya pisangnya rusak, dan dia sudah tanam penangkalnya di empat penjuru mata angin. Dia minta jatah lahan untuk bertanam cabai sebagai imbalannya.

Esoknya saya pulang ke Jakarta.

Tepat pada malam Jum’at Kliwon saya datang lagi, dan saya sedikit kaget ternyata di makam itu sudah berkumpul ratusan orang, beberapa bermobil dengan nomer luar kota, puluhan motor juga terparkir di kebun pisang yang saya urus. Saya diperkenalkan (dengan lancang) oleh orang tua ini yang kemudian meminta untuk dipanggil dengan sebutan “Amak” sebagai salah satu muridnya yang baru. Malamnya kami makan di kuburan keramat tersebut, doa-doa aneh dibaca, juga pertunjukan usang berupa keris yang berdiri dan tongkat yang melayang. Sekilas saya melihat ada senar sangat kecil tergantung ke atas dan mengikat tongkat sakti tersebut.

Beberapa hari kemudian ketika berkeliling kebun saya mengajak masyarakat yang bekerja untuk berbicara. Mereka agamanya Islam (tadinya), dan sekarang menjadi pengikutnya Amak. Menurut mereka, ketika waktunya Shalat Jum’at mereka disuruh tidur, tidak boleh shalat ke Masjid. Buat pemalas, tentu ini kabar menggembirakan. Juga tidak perlu puasa, tapi puasanya tiap malam jum’at. Semua pendapatan mereka harus disetor ke Amak, dan nanti Amak yang akan memberi mereka sembako tiap bulan. Ini tidak bisa dibiarkan pikir saya.

Esok harinya saya mengajak beberapa anak buah Amak untuk menghadap. Saya bicara sama beliau bahwa saya sebenarnya adalah cucu buyut dari Kyai Gunomerto, salah satu mantri dalem Keraton Yogyakarta. Dan saya diwarisi Keris Kyai Tunggulwulung dan Tombak Kyai Derpo. Jika Amak salah satu keturunan Raja Jawa, tentunya mengenal Kyai Gunomerto dan dua senjatanya ini. Amak kemudian menyalami saya dan mengelus kepala saya “Berarti kamu cucu saya juga, saya kenal dengan Kyai Gunomerto dan dua senjatanya”.

Saya menang perang! Kyai Gunomerto, Keris Tunggulwulung, dan Tombak Mbah Derpo hanya khayalan saya saja.

Kemudian saya keluarkan keris Kyai Tunggulwulung, saya keluarkan dari sarungnya dan saya perlihatkan ke Amak. Amak memegang keris tersebut, terperanjat dan tangannya melepuh. Saya pura-pura kaget, kemudian ujung keris saya celupkan ke gelas berisi air, terdengar suara mendesis. “Edan, keris ini masih segini saktinya! Masukkan kembali Kyai Tunggulwulung ke sarungnya!” perintah Amak. Saya pura-pura ketakutan dan saya masukkan lagi Kyai Tunggulwulung yang sakti ini.

Beberapa hari kemudian ketika saya berjalan-jalan di Kampung, setiap berpapasan dengan orang, mereka minggir di tepi jalan, membiarkan saya lewat sambil menunduk. Berita bahwa saya mempunyai keris sakti menyebar.

Beberapa hari kemudian ada seorang warga kena sakit malaria. Amak datang memberi jimat dan obat. Seminggu masih sakit dan tidak sembuh. Saya datang, saya usap seluruh tubuhnya dengan telor ayam. Setelah selesai, kemudian istrinya saya suruh memecahkan telor tersebut diatas piring. Kemudian dari dalam piring muncul jarum, potongan silet dan darah. Mereka semua kaget, dan pasien saya suruh makan bunga melati dan mawar. Malamnya pasien bisa tidur, dan 3 hari kemudian sembuh. Saya tambah sakti.

Esoknya ada orang datang ke saya minta tolong, anaknya sakit. Saya datang, ritualnya kali ini, anaknya yang kena typus saya mandikan di baskom besar. Sebelumnya saya membawa satu ikat batang padi, saya bakar diatas baskom sampai menjadi abu, saya suruh tuang air hangat dan beberapa bunga. Setelah selesai mandi saya perintahkan untuk menyaring airnya. Kemudian ditemukan sisa bunga dan jarum sebanyak 100 buah. Saya berikan beberapa bunga untuk dimakan, juga kopi (yang saya buat dari cacing tanah yang dibakar). Sehari tiga kali pasien saya suruh kasih makan telor ayam dan rumah dibersihkan. Pasien sembuh, dan saya tambah sakti.

Pada malam jum’at kliwon bulan berikutnya ketika banyak pengunjung ke makam, saya ajak Amak untuk atraksi lagi menunjukkan kesaktiannya. Amak seperti biasa mendirikan kerisnya, juga tongkatnya melayang-layang. Saya ajak Amak keluar ke depan kebun pisang. Saya keluarkan keris Kyai Gunomerto, saya dirikan diatas sarungnya, dan semua pengunjung melihat. Kemudian saya meminjam tongkat saktinya saya melangkah kedepan, bersemedi, dan saya lemparkan tongkat sakti ini. Tongkat pun melayang hilang dalam gelap, kemudian tampak tongkat sudah di udara dan menyala, terbang menjauh, dan dikejauhan terdengar suara ledakan dan bunga api menerangi kebun pisang. Saya masih duduk bersila kira-kira 10 menit. Kemudian saya berdiri, tangan saya angkat ke atas, kemudian dari tangan saya muncul tongkat yang tadi saya lempar ke udara, menyala, dan meledak. Saya serahkan tongkat tadike anak buahnya Amak. Mereka gemeteran dan ketakutan, tongkatnya sudah sedikit lembab dan berbau wangi sekali.

Beberapa hari sebelumnya, saya sudah sebarkan isu di kampung bahwa saya menantang Amak pada malam jum’at kliwon untuk adu kesaktian. Dan tontonan inilah yang mereka nikmati malam ini.

Selanjutnya saya ajak Amak masuk kedalam makam. Tanpa satu orang pun boleh ikut. Amak memandang curiga, dan saya bisikkan ke dia, ada sesuatu hal penting. Masyarakat menunggu di luar dalam diam. Beberapa lama kemudian Amak keluar dari makam, diam, dengan wajah kecewa, dan langsung menuju gubuknya. Saya menyusul keluar, dengan wajah sumringah, sambil menghisap cerutu. Saya persilahkan warga yang ada untuk menghabiskan tumpeng, ingkung ayam dan segala jenis jajanan dalam tampah. Selanjutnya saya suruh mereka pulang.

Esoknya Amak mengemasi semua hartanya dan diikuti dua orang pengikutnya pergi meninggalkan makam dan kampung ini. Isu yang berkembang, Amak kalah ketika duel dengan saya dan pergi. Saya tambah sakti.

Masyarakat kemudian saya kumpulkan, dan otomatis karena pemimpinnya kalah dan pergi kemudian mereka menjadi pengikut saya. Maklumat pertama saya adalah: mereka boleh tetap kerja di kebun saya dengan catatan “harus menjadi Islam yang taat dan mejalankan syariat Islam, juga melaksanakan semua kewajibannya sebagai Muslim”. Mereka wajib shalat 5 waktu, jika tidak gaji saya potong. Yang tidak shalat jum’at saya pecat. Sebelumnya saya pernah belajar Al Qur'an selama beberapa tahun, maka saya kutip juga beberapa ayat suci Al Qur'an dan saya terjemahkan. Salah satunya bahwa menyekutukan Allah itu dosa, kita hanya wajib menyembah kepada Allah dan meminta pertolongan hanya sama Allah. Puasa juga wajib, sebagai awal permulaan mereka wajib puasa senin-kamis. Dan saya panggilkan guru ngaji untuk mereka. Merekapun kembali ke jalan yang benar.

Sebulan kemudian sesudah mereka pulang dari jum’atan di Masjid saya bertanya dimana Gereja di dekat sini, mereka bilang di Cikampek ada dan menanyakan mau apa saya bertanya Gereja. “Saya bilang, saya Katolik, dan besok minggu tentu saja saya mau ibadah ke Gereja”. Mereka semua diam dan memandang kalung taring babi hutan saya yang saya gantung jadi satu dengan salib besar.

Lalu darimana saya mendapat kesaktian saya?

Sepanjang jalan sebelumnya, keris pusaka nan sakti Kyai Tunggulwulung made in Malioboro saya sambung kabel yang saya sambungkan ke lighter/korek di mobil. Tentu saja kemudian besi ini panas, dan ujungnya yang pas kabel menjadi membara. Maka keris ini menjadi dahsyat, mengeluarkan kekuatan panasnya. dijamin melepuh yang berani memegang keris warisan Kyai Gunomerto fiktif ini.

Ketika menyembuhkan malaria, saya sebelumnya merendam telor ayam dalam asam cuka. Kulit telur akan menjadi lembek, kemudian saya masukkan 13 jarum jahit, potongan silet, dan darah ayam. Setelah cukanya dibuang maka kulit telur akan keras kembali. Kelopak bunga mawar yang saya suruh kunyah pasien sudah saya isi dengan tumbukan obat anti malaria.

Ketika menyembuhkan orang kena types, saya masukkan 100 batang jarum kedalam 100 batang padi, Maka ketika batang padi dibakar akan menyisakan jarumnya saja. Dan kopi cacing tanah merupakan obat types yang mujarab.

Bagaimana tongkat bsa terbang? Dalam gelap ketika bersemedi sebenarnya saya mengikat tongkat dengan senar yang sudah saya siapkan. Kemudian teman yang bersembunyi menarik senar yang sudah digantung di beberapa pohon. Saya juga menempelkan senter laser di tongkat tersebut. Teman saya menyalakan kembang api dan petasan, setelah menerima tongkat kemudian menyiramnya dengan minyak japaron, dan saya kembali menarik tali berisi tongkat tadi.

Apa yang terjadi di dalam makam ketika saya duel satu lawan satu dan Amak keluar dengan lemas? Ini benar-benar kuasa Tuhan. Seminggu sebelum malam jum’at kliwon ketika ke Cirebon saya membaca koran lokal dan tanpa sengaja menemukan berita penipuan oleh dukun yang menggandakan uang. Ternyata tersangkanya adalah Amak. Kemudian saya bawa koran tersebut dan merencanakan strategi, membuat isu duel, dan merekayasa senar, laser dan petasan. Didalam makam, saya hanya bilang ke Amak, setengah jam lagi keluar dari sini, langsung ke rumah dan kemasi barang, besok pagi pergi dari kampung ini atau saya panggil Polisi. Sudah saya kontak polisi untuk kesini dan mereka ada diluar. Kemudian saya tunjukkan koran yang berisi berita tentang dia. Maka lemaslah dukun sakti tadi.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x