Mohon tunggu...
Ben Ibratama
Ben Ibratama Mohon Tunggu... Tenaga Ahli

Tenaga Ahli DPR RI

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Politik Bipolar dan Matinya Nalar Publik

22 Mei 2019   21:36 Diperbarui: 22 Mei 2019   21:49 272 2 0 Mohon Tunggu...

Kita baru saja selesai melakukan hajat pesta demokrasi akbar lima tahunan. Pemilihan calon Presiden dan Wakil Presiden, serta pemilihan wakil rakyat secara serentak. Namun masa kampanye yang cukup lama nampaknya membuat publik larut dengan berbagai narasi yang dihembuskan oleh para kandidat. Narasi yang dihembuskan oleh kandidat tidak jarang membuat kegaduhan dan kebisingan di ruang publik, memekakkan telinga dan menyesakkan dada. Saling klaim akan kebenaran  atau truth claim, merasa paling benar, dan mudah mendeskreditkan individu atau kelompok yang berbeda pilihan.  

Pertanyaan yang paling dasar adalah itu fenomena apa dan mengapa itu bisa terjadi ? 

Jawabanya ada pada era post truth, era dimana matinya nalar dan matinya objektifiktas. Hari ini objektifitas merupakan barang langka yang sudah terdistorsi dengan maraknya emotional truth. Kepercayaan merupakan basis utama yang dijadikan pijakan untuk menilai dan menyimpulkan sesuatu. Bahkan, kita tidak jarang menemukan berbagai hal yang menabrak rasionalitas, tapi sebagian dari kita dengan gagap gempita meyakini itu sebagai sebuah kebenaran tunggal. Ini yang menjadi masalah, kebenaran tunggal yang dilahirkan dari emotional truth sehingga menipu kesadaran publik dan melahirkan kesadaran palsu atau false conciusness.

Di Indonesia fenomena ini tumbuh subur seiring dengan maraknya berbagai kontestasi politik baik tingkat daerah maupun tingkat nasional. Para komprador politik sangat cekatan dalam memanfaatkan momentum. 

Alih-alih untuk mengedukasi atau memberi pelajaran politik tapi justru para elit memancing di air yang keruh untuk mengeruk keuntungan secara politis. 

Menkonstruksi kebencian dengan melabeli lawan politik, seperti narasi anti Islam, Pro Asing, Pro Cina, anak PKI, dll. Tentu hal ini dikonversi menjadi elektabilitas untuk kandidat tertentu. Narasi kebencian, provokasi, dan sentimen SARA dijadikan sebagai bom waktu yang meluluhlantakan nalar publik. Momentum flooding disinformation atau banjirnya disinformasi yang menyesatkan diframing sedemikian rupa sehingga layak menjadi sebuah kebenaran.

Politik Bipolar

Sejak Pilpres 2014 dan Pilpres 2019 fakta politik menyuguhkan kita pada dua kandidat. Mau tidak mau, suka tidak suka harus diterima sebagai keputusan politik para elit. Sehingga para pendukung menjadi dua kutub. Inilah yang menyebabkan konstruksi politik bipolar. Berbeda pilihan akan menjadi hal yang serius, penegasan in group dan out group mengkristal pada bagian ini.

Isu yang dilemparkan elit politik tertentu merupakan kebenaran hakiki yang harus dipercayai para simpatisan dan tak layak untuk dikritisi. Bahkan menyebarkan sarkasme  terhadap kandidat tertentu, kita akan disimpulkan sebagai orang yang bersebrangan. Inilah yang menyebabkan friksi di ruang publik sehingga segregasi sosial tak bisa dihindarkan.

Fakta politik ini didukung dengan banjiranya hoaks, dengan metode spin doctor dan labelling dengan pemelintiran fakta atau menyampaikan fakta secara tidak utuh dengan tujuan memberi kesan dan stigma negatif sehingga muncul perspesi yang tidak baik.

Maraknya gelombang disinformasi dalam bentuk hoaks diikuti dengan konstruksi politik yang bipolar menyebabkan banyak masyarakat kita yang kehilangan kendali akibat dari kebisingan dan kebingungan ruang publik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN