Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... Dosen - PENULIS

Dosen Tamu, pengampu Mata Kuliah Filsafat di Program Pasca-sarjana Interdisiplin Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Rindu dari Sudut Filsafat

15 Agustus 2020   09:05 Diperbarui: 15 Agustus 2020   08:52 1338
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Rindu orang tua. Rindu kekasih. Rindu kampung halaman. Rindu itu tertuju kepada orang yang dikasihi. Rindu bertemu. Rindu berada dalam suasana indah yang pernah dialami. Manusia hidup dari rindu ke rindu.

Setiap saat dalam diri manusia itu bergejolak rasa rindu akan orang, tempat, keadaan indah, yang baik, yang menyenangkan. Sesudah kerinduan itu terpenuhi, berlanjut lagi dengan kerinduan baru.

Siang hampir selesai, manusia rindu malam lalu rindu tibanya pagi dan siang yang baru. Dalam rindu ada harapan untuk alami yang baru dan baru lagi. 

NAFSU manusia secara otomatis puas dengan terpenuhinya rindu  yang sedang berlangsung dan harap tibanya  rindu yang baru. Segalanya sedang berlalu dan menjadi lama dan yang baru muncul membuat kita manusia jadi baru terus-menerus dengan terpenuhinya rasa rindu untuk tibanya rindu  yang baru itu.

NALAR manusia menoleh ke belakang lihat yang lalu dan sedang menikmati yang tengah berlangsung sambil terus rindu akan yang baru.

NALURI manusia terheran-heran dengan datangnya sapaan  dari anggota keluarga yang sudah lama terpisah lewat telepon genggam dan rasa rindu terobati sehingga hati melonjak kegirangan. 

NURANI menenangkan manusia dalam keadaan sangat sejuk dengan elusan halus untuk beranjak ke rindu yang baru. Inilah gambaran faktual tentang keadaan rindu yang setiap kita manusia alami dan mau terus alami tibanya rindu  dari hari ke hari. (4N, Kwadran Bele 2011).

Manusia sadar bahwa rindu itu terwujud sering sesuai dengan yang dirindukan dan sering pula rindu itu tak terpenuhi padahal rindu yang tidak dirindukan tiba tanpa direncanakan.

Rindu itu ibarat belantara tak berujung. Kita manusia jelajahi saja dengan dorongan NAFSU yang terbatas. Sering tanpa terasa NALAR kita membawa kita pada hal baru yang seolah di luar pengalaman dan pemikiran kita.

Hidup kita menjadi baru dan bergairah lagi karena NALURI mempertemukan kita dengan orang ini, orang itu, baik yang dekat maupun yang jauh dan kita langsung rasa tidak sendirian karena ternyata ada sesama manusia yang juga mempunyai rasa rindu yang sering bertemu dua rindu yang sama-sama rindu.

Keajaiban terjadi saat NURANI kita memeluk kita dan katakan, inilah rindu yang benar dan dipenuhi oleh rindu di atas segala rindu, yaitu: MAHA-RINDU. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun