Bayu Bondan
Bayu Bondan Penulis Pemula

Biarkan saja pena menari dan lihat saja hasilnya nanti

Selanjutnya

Tutup

Media

"Man Jadda Wajada"

14 November 2017   09:47 Diperbarui: 16 November 2017   17:41 227 5 2
"Man Jadda Wajada"
Dokumentasi Pribadi

 "Melintas Batas Dengan Menulis..."

  Perkataan tersebut masih terngiang di kepala. A. Fuadi itulah nama  orangnya. Bukan... Bukan aktor Anwar Fuadi, tetapi beliau adalah Ahmad  Fuadi pemilik Negeri 5 Menara. Novelis muda yang tampan, muda, dan  berwibawa. Alhamdulillah saya menjadi satu dari ratusan orang yang  beruntung bisa mendengar motivasi langsung darinya. Beliau berkenan  meluangkan waktu untuk membagi ilmu menulis kepada kami saat workshop menulis Badan Pusat Statistik (BPS) di hari pertama (09/11/2017).

 Mas Ahmad Fuadi berbagi ilmu tentang  bagaimana cara menulis fiksi, atau beliau menyebutnya dengan "Menulis  Kreatif". Secara kondef, menulis kreatif merupakan proses menulis yang  tidak selalu semua bagian berisi fakta di mana ada bagian tertentu yang  boleh didramatisir dan dibumbui dengan cerita. Sebagai bukti, Anak  Rantau menjadi bukti fisik menulis kreatif teranyar miliknya. Beliau  berkata, "Saya tidak memiliki latar belakang kuliah sastra atau  jurnalistik, tetapi bisa jadi penulis." Awal perjalanan karir dalam  dunia menulis justru di jalur non fiksi yaitu menjadi wartawan dan  penulis opini saat berkesempatan menuntut ilmu di Kota Kembang selepas  lulus dari pesantren.  

 Dalam kesempatan ini Mas Ahmad Fuadi  menyampaikan beberapa quote tentang tulisan. Pertama, tulisan merupakan  medan perang di alam bawah sadar. Dengan tulisan, kita bisa memainkan  peran layaknya komandan di medan perang. Memainkan pedang berupa pena  dan memainkan imajinasi dalam merangkai kata. Kedua, tulisan adalah  karpet terbang. Dengan tulisan, kita bisa menerbangkan imajinasi yang  bermula dari huruf pertama. Dengan hitungan Matematika sederhana, maka  terciptalah rumus yang luar angkasa, eh luar biasa.

 Huruf + Huruf = Kata
Kata + Kata = Kalimat

 Mas Ahmad Fuadi bertutur dengan semangat 45 yang membara, "Menulislah  minimal satu buku seumur hidup!" Buku Negeri 5 Menara tentu saja  merupakan pembuktian dari perkataannya barusan. Buku yang diganjar  dengan predikat "National Best Seller" ini memiliki beberapa fakta  menarik yang patut kita simak, antara lain: 

 1. Buku ini masuk kategori 5 besar kategori Buku Best Seller Indonesia yang dibaca di laman goodreads.com.
 2. Tulisan yang menceritakan tentang kisah hidup manusia, apalagi  terinspirasi dari kisah nyata, bisa melintas batas dan menarik bagi  orang lain di manapun mereka berada. MAs Ahmad Fuadi keliling dunia  untuk berbagi cerita mulai dari SMP di Singapura, SMA di Australia,  sampai dengan kampus di Jepang. Bahkan ada universitas di Negeri Paman  Sam yang menjadikan buku Negeri 5 Menara menjadi salah satu mata kuliah  di sana.  
3. Buku ini diangkat ke layar lebar pada tahun 2012  dengan judul film yang sama, Negeri 5 Menara. Hal ini membuktikan bahwa  tulisan bisa berpindah medium. Dari buku bisa menjadi film. Dari buku  pula bisa berubah menjadi musik, bahkan game dan komik.

 

Film Negeri 5 Menara (goodreads.com)
Film Negeri 5 Menara (goodreads.com)

Mas Ahmad  Fuadi menyampaikan bahwa sebenarnya banyak orang yang mempunyai kisah  hidup yang menarik bahkan bisa jadi lebih sensasional dibandingkan kisah  hidupnya. Namun, ada satu hal yang membedakan itu semua. "Saya menulis,  yang lain tidak," ujarnya singkat. Dengan harapan banyak orang yang  termotivasi untuk menulis juga, beliau dengan senang hati membeberkan  resep dalam meracik huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi  kalimat sampai akhirnya menjadi karya ciamik, salah satunya tentu Negeri  5 Menara. 

 1. WHY
Luruskan niat kita dalam menulis. Cari  alasan mengapa kita menulis. Sedangkan alasan Mas Fuadi sendiri karena  beliau termotivasi dengan salah satu Hadits Rasulullah SAW, "Sebaik-baik  manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR.  Thabrani)

 2. WHAT
Tulislah sesuatu yang dekat dengan hati  kita. Bisa tulisan tentang semangat, perasaaan gembira, yang bikin  gregetan, dan sebagainya.

 3. HOW
Butuh referensi dan riset.  Karya kreatif juga perlu riset. Dalam perjalanan terciptanya Negeri 5  Menara ada beberapa riset yang dilakukan Mas Ahmad Fuadi. Sumber  risetnya seperti diary lama yang telah ditulisnya sejak berumur 15  tahun, jasa Amak yang mengumpulkan semua surat yang dikirimkannya  sewaktu masih di pesantren, buku catatan tua semasa belajar di  pesantren, membaca buku, kamus, dan thesaurus (kamus padanan kata).

 4. WHEN
 Mas Ahmad Fuadi merangkai kata dalam proses pembuatan Negeri 5 Menara  saat bekerja full time. Beliau mencicil tulisan setiap hari dengan  memanfaatkan waktu sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja.  Beliau berpesan, "Cicil saja setiap hari. Sedikit-sedikit, lama-lama  jadi buku." 

 Mas Ahmad Fuadi memberikan dua buah closing  statement. Pertama, "Menulislah selalu dengan hati karena tulisan dari  hati masuk ke hati." Kedua, "Menulis bukan bakat, tetapi pilihan apakah  mau belajar atau tidak."

 Dan semua perjalanan menulis dari Mas  Ahmad Fuadi bermula dari sebuah kalimat ampuh yang diterimanya saat  pertama kali menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor.

 "Man Jadda Wajada !"

 

Tulisan Man Jadda Wajada (hellomotion.com)
Tulisan Man Jadda Wajada (hellomotion.com)

                                                                                                                                                              ***

Perkataan yang lemah lembut
Hadirkan asa secerah mentari
Kalau gayung sudah bersambut
Biarkan saja pena menari

 Selasa Bisa, 14112017