Mohon tunggu...
Bayu Samudra
Bayu Samudra Mohon Tunggu... Freelancer - Penikmat Semesta

Secuil kisah dari pedesaan

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Yitna Yuwana Mati Lena, Pedoman Hidup yang Membawa pada Kebahagiaan

15 Juni 2021   13:33 Diperbarui: 15 Juni 2021   13:45 771
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Salah satu bentuk, yitna yuwana mati lena, kehati-hatian dalam menyiapkan diri menghadapi guyuran hujan biar tidak demam/kedinginan (foto dari pixabay.com)

Kehati-hatian adalah kunci selamat dan kecerobohan adalah kunci celaka.

Bagi kamu yang keturunan orang Jawa, tentu sudah akrab dengan paribasan ini, yitna yuwana mati lena. Sebuah peribahasa yang menjadi dasar bagi tingkah laku masyarakat Jawa. Sebuah perjalanan hidup yang penuh kehati-hatian supaya selamat atau bahagia, dan sebuah perjalanan hidup yang penuh kesembronoan akan mengantarkan kepada malapetaka atau celaka.

Di mana pun kamu tinggal, pasti memiliki pedoman hidup semacam ini. Mungkin berbeda bahasa, tapi satu makna. Sama halnya dengan bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tetap satu jua. Pasti ada contoh peribahasa dengan makna yang sama di tempat tinggal kamu. 

Kita hidup di dunia, di bumi mana pun, perlu mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam bertindak dan berkata agar terhindar dari marabahaya supaya selamat lahir dan batin.

Bila kita memegang peribahasa tersebut sebagai pedoman hidup, tentu senantiasa berperilaku sesuai dengan aturan dan penuh hati-hati agar selalu terselamatkan. Selamat dari ancaman sesama manusia, bahkan selamat dari bencana karena Tuhan.

Misal, kita bekerja pada seseorang. Kita diberi amanah untuk menyetorkan sejumlah uang tunai ke bank oleh majikan. Jika kita tidak berhati-hati, entah kehati-hatian berpikir dan berperilaku, mungkin uang yang ada dalam genggaman kita akan dikurangi. Tapi, kita sadar, bahwa hidup itu harus berhati-hati.

Apabila tidak, mungkin petaka terburuknya adalah kita dipecat dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pencurian. Bila kita berhati-hati untuk tidak tergiur oleh harta yang bukan milik diri kita meski sudah ada di depan mata, kita bakal mendapat kebahagiaan berupa masih dipekerjakan, terbebas dari ancaman dipenjara atau cibiran tetangga.

Intinya, bersikap hati-hati akan membawa kepada keselamatan. Sebab selamat di sini bukan hanya saja selamat dari maut, semisal selamat dari tabrakan mobil di jalan atau selamat dari sambaran petir. Melainkan juga keselamatan dalam hati, jiwa, dan pikiran.

Kita ambil contoh lagi. Pengelolaan keuangan keluarga. Ini penting sekali, maka harus dikelola dengan sebaik-baiknya dengan prinsip kehati-hatian agar tidak membuat celaka di masa mendatang.

Hati-hati dalam mengelola keuangan, seperti berbelanja sesuai dengan skala prioritas yang telah dibuat, tidak gampang ambil kredit, hingga berhati-hati dalam berinvestasi. Hal ini perlu disiapkan secara matang dan hati-hati agar masa mendatang dapat merasakan kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenangan.

Sejatinya, kita hidup di dunia ini harus membentengi diri dengan bersikap hati-hati. Sebab dengan memiliki kehati-hatian, diri kita terhindar dari kesengsaraan, keruwetan pikiran, bahkan kemelaratan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun