Sofyan Basri
Sofyan Basri Wartawan

Menilai dengan normatif

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Gerindra, Prabowo, dan Pilpres (1)

17 April 2018   03:39 Diperbarui: 17 April 2018   04:21 1935 1 3
Gerindra, Prabowo, dan Pilpres (1)
Sumber Gambar: tempo.co

Nama Prabowo Subianto dalam kancah politik nasional cukup berliku. Bahkan diawal membuat karir politiknya, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu tidaklah mudah. Dimulai ketika masuk pada Partai Golkar yang kemudian mengantarkannya sebagai calon presiden dengan metode konvensi pada tahun 2004 lalu.

Akan tetapi, sebagai politisi yang berkecimpun pada partai yang sangat besar semacam Golkar tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Prabowo mesti gigit jari. Meski masuk pada putaran terakhir, Prabowo mesti merelakan ambisinya karena dikalahkan oleh Wiranto.

Sebagai politisi yang mengawali karir dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), tentu Prabowo tidak akan mudah menyerah. Sebab kupikir pantang menyerah bagi seorang yang lahir dari ABRI itu tidak akan pernah bisa dibenarkan dalam hal dan situasi apapun.

Oleh karena itu, wajar ketika Prabowo mulai berinisiatif untuk membentuk partai politik untuk mencapai ambisi dan cita-citanya untuk mengabdi kepada negara ini. Sehingga, pada Mei 2008 Prabowo gencar tampil di televisi dalam bentuk iklan layanan masyarakat yang disponsori Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Pada tahun yang sama, muncullah nama Gerindra dipermukaan politik nasional, yang hingga kini tetap eksis. Setahun kemudian, untuk pertama kalinya Gerindra ambil bagian dalam kontestasi politik yakni Pemilihan Legislatif (Pileg) yang berlangsung tahun 2009 lalu.

Hasilnya pun cukup memuaskan, perolehan suara Gerindra mencapai 4.646.406 atau sekitar 4,46 persen dengan 26 kursi pada DPR RI. Sebagai partai baru, tentu perolehan itu adalah hal yang cukup positif. Sebab mampu bersaing dengan partai yang sudah lama seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan partai lainnya.

Setelah meraih suara yang positif di Pileg, Gerindra kemudian berinisiatif untuk mengusung Prabowo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Kupikir, misi tersebut cukuplah sulit untuk diwujudkan. Akan tetapi, lagi-lagi politik kadang tidak realistis sebab kerealistisan politik itu adalah ketidakrealistisannya.

Bahwa betul misi tersebut tidak realisitis, akan tetapi ketika Gerindra mendorong Prabowo maju pada Pilpres maka itu secara tidak langsung meng-endors Gerindra. Ini terbukti dengan naiknya popularitas Gerindra dari Sabang sampai Merauke.

Prabowo yang berpasangan dengan Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Umum Megawati Soekarno Putri hanya mampu berada pada posisi kedua denga mendulang suara sebaganyak 32.548.105 atau berada sekitar 26,79% suara sah. Prabowo pun gagal untuk pertama kalinya di Pilpres.

Namun demikian, kegagalan Prabowo bukan menjadi hal yang mesti dipersoalkan oleh Gerindra. Sebab dengan majunya Prabowo dalam kontestasi politik terakbar tersebut membuat partai berlambang kepala burung Garuda itu semakin dikenal oleh rakyat. Kupikiri ini keuntungan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Pasalnya, dengan elektabilitas Gerindra yang kian meroket membuatnya semakin pede dan menjajal politik secara nasional dan daerah. Saya mengambil sampel pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2013 lalu. Ketika itu, Gerindra mengusung Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Sulsel, Rudiyanto Asapa yang semua orang tahu tidak akan mampu bersaing dengan calon incumbent Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang.

Dan pada akhirnya, keberanian Gerindra untuk mengusung mantan bupati Sinjai dua periode itu yang berpasangan dengan mantan bupati Pinrang dua periode, Andi Nawir Pasinringi di Pilgub Sulsel harus dikenang sebagai sebuah kekalahan. Namun demikian, Gerindra mampu tampil garang pada Pileg 2014 dengan mengamankan 11 kursi di DPRD Sulsel.

Manuver-manuver politik pemberani Gerindra di Pilkada itu yang membuatnya mampu menembus posisi ketiga Pileg 2014 secara nasional dengan sebesar 14.760.371 suara atau 11,81 persen dengan 73 kursi di DPR RI. Perolehan suara itu pun mampu menggusur posisi Partai Demokrat yang pada Pileg 2009 lalu merupakan partai pemenang.

Disisi lain, konsolidasi partai politik pada Pilpres 2014 sangat menguntungkan Partai Gerindra dan Prabowo. Kenapa? karena nama Prabowo lebih mentereng dari berbagai tokoh politik nasional lainnya yang diwacanakan maju Pilpres waktu itu selain Joko Widodo.

Bahkan, figuritas Prabowo mampu menyaingi nama-nama tenar seperti Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB). Bahkan, ARB seperti tidak bisa berbuat banyak meski telah mengantongi rekomendasi dari Partai Golkar. Hal lain yang membuatnya tidak bersaing adalah politisi senior Jusuf Kalla lebih memilih berpasangan dengan Joko Widodo.

Apalagi dominasi mantan Gubernur DKI Jakarta itu, sangat kental dengan blusukannya semakin menenggelamkan nama ARB. Hal itu pun memaksa Partai Golkar yang selalu mengikutsertakan kader dalam kontestasi Pilpres sejak tahun 2004, kemudian bergabung dengan Koalisi Merah Putih untuk mengusung Prabowo.

Namun, takdir berkata lain. Meski Prabowo telah diusung oleh partai politik yang dominan yakni Partai Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP, PBB, dan Partai Demokrat, rupanya belum menjadi jaminan untuk memenangkan Pilpres. Kekuatan partai KMP kalah dengan figuritas seorang Joko Widodo yang sangat dielu-elukkan kesederhanaanya.

Usai penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terhadap pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai pasangan presiden periode 2014-2019, Prabowo tak lantas bersedih secara mendalam. Kepribadiannya yang lahir dari ABRI yang mengakui kekalahan membuatnya melakukan kunjungan kepada Presiden Jokowi di Istana untuk memberi ucapan selamat.

Sikap ini tentu sangat berbeda jauh dengan Pilpres sebelumnya, dimana Megawati yang kalah dua kali dari Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan untuk saling bombe' (tidak tegur sapa) dan seperti bermusuhan. Ini bukan pujian yang saya berikan kepada Prabowo, tapi saya hanya ingin sedikit menyampaikan realitas Pilpres. hehehe

#akumencintaimu