Sofyan Basri
Sofyan Basri Wartawan

Menilai dengan normatif

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight

Reshuffle dan Konsolidasi Kekuatan ala Jokowi

11 Agustus 2017   22:44 Diperbarui: 12 Agustus 2017   00:07 816 2 4
Reshuffle dan Konsolidasi Kekuatan ala Jokowi
reshuffle-kabinet-jokowi-598dd0ebc744dd4db1747672.jpg

Kabinet Kerja rezim pemerintahan Joko Widodo kembali dihembuskan akan melakukan reshuffle. Jika benar nantinya akan ada reshuffle kabinet, maka hal itu akan menjadi reshuffle ketiga bagi mantan Gubernur DKI Jakarta itu dalam kurung waktu tiga tahun terakhir.

Sejumlah nama, baik nama baru maupun nama lama mulai dikaitkan akan masuk dalam rencana Kabinet Kerja. Pertama, nama baru itu adalah salah satunya presenter cantik yang baru saja mengundurkan diri dari Metrotv, Najwa Shihab. Host Mata Najwa itu memang saat ini sedang gencar digosipkan akan masuk dalam rencana reshuffle kabinet kerja.

Dari informasi burung yang beredar, Nana akan diplot untuk menggantikan Khofifah Indar Parawansa sebagai Menteri Sosial. Apalagi, nama Khofifah sendiri saat ini sedang gencar-gencarnya diwacanakan akan maju pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim).

Apalagi, jurnalis kelahiran Makassar ini sangat dekat dengan pejabat mentereng. Sebab pengalamannya didalam dunia jurnalis membuatnya mampu melakukan komunikasi dengan pejabat penting di negeri ini. Bahkan, Nana--sapaan akrab Najwa Shihab pernah mendapat penghargaan sebagai Young Global Leader (YGL) tahun 2011 lalu.

Tak sampai disitu saja, berkat menjadi pemandu acara dalam Mata Najwa, Nana juga pernah melakukan wawancara langsung beberapa mantan orang nomor satu di Indonesia. Sebut saja diantaranya Bacharuddin Jusuf Habibie, Megawati Soekarnoputri, Mantan Wakil Presiden Boediono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Gubernur DKI Jakarta yang sekarang Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Nama kedua yang muncul adalah Sekretaris Jenderal (Sekjend) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Idrus Marham. Nama politisi asal Pinrang, Sulsel itu pun sangat gencar disuarakan akan masuk dalam rencana reshuffle Kabinet Kerja. Bahkan, nama Idrus sudah berhembus sejak lama akan masuk dalam area Istana.

Saya jadi teringat dengan pernyataan Puang (Sapaan penghormatan dalam suku Bugis) Idrus ketika bertemu dan melakukan diskusi kecil-kecilan di Makassar beberapa waktu lalu. Ketika itu, saya diminta untuk memberikan pandangan mengenai konstalasi Pilgub Sulsel, dimana salah satu bakal calon yang akan maju adalah kolega Puang Idrus di DPP Golkar yakni Nurdin Halid.

Puang Idrus sedikit kaget dengan pernyataan saya waktu itu. Pasalnya, saya mengatakan jika Nurdin Halid saat ini masih galau untuk maju pada Pilgub Sulsel mendatang. Alasannya, karena peluang Nurdin untuk menjadi pengganti Setya Novanto untuk mengendalikan Partai Golkar sangat memungkinkan terjadi.

Dan, itu bisa saja akan menjadi salah satu jalan bagi Nurdin untuk masuk dalam lingkaran kabinet kerja. Atau bahkan menjadi jalan untuk menjadikan Nurdin sebagai salah satu bakal calon Wakil Presiden representasi dari Indonesia Timur. Seketika itu, Puang Idrus menyanggahnya bahwa Nurdin sudah harga mati maju Pilgub Sulsel.

Olehnya itu, dengan kembali mencuatnya nama Puang Idrus menjadi salah satu calon menteri dari Kabinet Kerja membuat saya sadar jika sanggahan terhadap pandangan saya itu bisa jadi adalah indikasi jika Puang Idrus akan masuk Kabinet Kerja. Ini hanya sedikit cocologi saja, akan tetapi ini mungkin saja ada benarnya.

Dan nama ketiga, merupakan nama paling menarik yakni Agus Harimurti Yudhoyono. AHY--begitu yang sapaan akrabnya pun kian panas dihembuskan akan menjadi salah satu yang dipertimbangkan akan masuk dalam Kabinet Kerja. Kabar mengenai calon gubernur DKI Jakarta itu akan masuk rencana Kabinet Kerja ketika melakukan pertemuan dengan anak sulung Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

*******

Reshuffle kabinet memang menjadi sebuah hal yang lumrah dalam menjalankan roda pemerintahan bagi seorang Presiden. Akan tetapi, dengan melihat nama-nama baru yang muncul dipermukaan, tentu akan sangat menarik untuk disoroti. Sebab ketika nama baru itu tentu memiliki kiprah yang kuat dalam berbagai bidang pun peluang menjadi senjata andalan di Pilpres.

Sebut saja Nana, dari biografinya, perempuan kelahiran 1977 (49) itu merupakan presenter, host, dan jurnalis yang sangat handal. Nana merupakan salah satu tokoh perempuan yang mampu menyedot perhatian anak muda. Bukan hanya karena prestasinya saja, tapi Nana ini bisa jadi merupakan perwakilan generasi Z yang ada saat ini.

Olehnya itu, sebagai tokoh perempuan yang masih tergolong muda, Nana bisa jadi akan menjadi corong bagi generasi Z untuk terwakili di Kabinet Kerja. Efeknya, tentu bisa jadi bukan hari ini atau esok, akan tetapi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Sedangkan Puang Idrus, tentu saja merupakan bagian dari lobi politik untuk tetap mengamankan usungan dari partai berlambang pohon beringin di Pilpres mendatang. Meski memang selama ini, Partai Golkar telah mengumandangkan akan mengusung Jokowi pada Pilpres mendatang, akan tetapi kan jinak itu belum tentu tidak akan melakukan perlawanan.

Ketika Puang Idrus masuk kabinet, Nurdin Halid lolos menjadi gubernur Sulsel yang merupakan salah satu corong politik dikawasan Indonesia Timur, maka cenat cenut kepala yang berada dibalik jendela Istana di Jakarta sana akan sedikit hilang. Pasalnya, sekali mendayung, usungan di Pilpres aman, pun pundi suara di Sulsel pun demikian. Entahlah.

Khusus untuk AHY, tentu akan menjadi senjata utama. Dimana hal ini akan menjadi catatan bagi para pelaku pertemuan nasi goreng lalu. Wacana AHY masuk lingkaran istana tentu menjadi rakitan bom nuklir bagi mereka yang terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Meski memang saat ini masih sekedar wacana saja, akan tetapi kubu sebelah sudah pasti akan gelisah.

Olehnya itu, reshuffle jilid tiga merupakan konsolidasi kekuatan berupa tameng sekaligus todongan senjata bahwa Jokowi masih berada diatas angin dalam menatap Pilpres. Dan tentu saja akan menjadi titik temu bagi para pencari kepentingan untuk dijadikan sebagai jualan politik dalam meraih simpati rakyat dalam mengumpulkan pundi-pundi suara pada Pilpres mendatang.