Mohon tunggu...
Irham Bashori Hasba
Irham Bashori Hasba Mohon Tunggu... Sekilas Tentang Irham Bashori Hasba

Irham Bashori Hasba adalah peneliti, pengiat kegiatan sosial, dan pemberdayayaan masyarakat. saat ini selain mengajar ilmu hukum, sosial dan politik di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, juga merupakan penggagas dan pendiri Pesantren Kopi Malang, sebuah wadah bagi para pemuda untuk kegiatan-kegiatan sosial dan pengembangan sumber daya manusia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Semoga Kita Senantiasa Mampu Berbagi

24 April 2020   02:58 Diperbarui: 24 April 2020   02:51 13 0 1 Mohon Tunggu...

Namanya Siti Wulandari, saat ini usianya 9 tahun (Lahir pada 22 Mei 2011) dan telah berada di kelas 2 SD. Keseharian Wulan ditemani oleh neneknya Burani, seorang Janda yang sudah menjelang senja sebab ayah, ibu dan kakaknya telah meninggal dunia karena wabah TBC. 

Pada usia 6 bulan, Wulan ditinggal wafat ibundanya Maiseh, selang 6 tahun dari kepergian ibunya, kakaknya Hasim Fausi wafat, lalu beberapa bulan kemudian disusul wafat ayahnya Pak Man. Awal 2019 Wulan juga sempat terjangkit TBC namun Alhamdulillah berhasil sembuh, meski dengan berat hati kesembuhannya harus diiringi dengan harus mengorbankan membuang Kasur lapuk satu-satunya dan beberapa pakaian agar bersih dari sisa-sisa wabah TBC.

Awal Ramadhan ini, saya dan anak saya Ayatullah Mahda Al-Tamimi yang kebetulan seumuran dengan Wulan, diberi kesempatan oleh Allah untuk mengantarkan amanah berupa donasi yang dititipkan oleh Para Donatur Pesantren Kopi Berbagi ke rumah Wulan yang terletak di Dusun Tegal Gusi Suda Timur Desa Mayang Kecamatan Mayang Kabupaten Jember Jawa Timur. Kami sengaja mengantarkan donasi dalam bentuk sembako dan uang tunai agar dapat dimanfaatkan sebagai bekal oleh Wulan dan Neneknya selama bulan Ramadhan ini.

Mengunjungi Wulan benar-benar terasa sangat berbeda dengan kunjungan kami kepada anak-anak yatim binaan kami yang lain selama satu tahun terakhir (Alhamdulillah kegiatan Pesantren Kopi Berbagi telah sampai satu tahun berjalan yang dimulai sejak awal Ramadhan tahun lalu).

Kami sengaja mengunjungi Wulan dan neneknya setelah Shalat Tarawih, karena kami fikir mereka akan sibuk di siang dan sore hari menjelang Ramadhan karena persiapan-persiapan menyambut awal Ramadhan. Ketika sampai dirumahnya, kondisinya begitu gelap sebab rumah Wulan hanya terdapat satu lampu saja. 

Kata neneknya memang sengaja dipasang satu lampu agar membayarnya tidak berat, disamping rumahnya memang kecil (rumah berdinding Gedhek/anyaman bambu) yang sudah mulai lapuk, ruangannya hanya dua kamar yakni 1 ruang tamu, 1 ruang tidur yang menjadi satu dengan dapur dengan tungku kayu sebab mereka tidak memiliki kompor gas, dengan lantai rumahnya masih berlantai tanah.

Ketika tiba di rumah Wulan, kami menunggunya dalam gelap sebab dia dan neneknya belum pulang dari mushalla sebab habis tarawih mereka langsung tadarrus (memang kami mendengar suara Wulan melalui pengeras suara sedang mengaji). 

Ketika tiba di rumah, neneknya menyuguhi kami makanan yang berbungkus plastik kresek (kami menyebutnya berkat) dan segelas air mineral, seraya berkata "mohon maaf ya nak, suguhannya hanya berkat dan air putih sebab kami tidak membuat masakan banyak untuk menyambut Ramadhan dan kalo sampeyan mau menunggu saya mau menghidupkan tungku untuk membuat kopi, alhamdulillah tadi diberi dua berkat, yang satunya buat sahur Wulan nanti" tentu dengan sopan kami menolak dibuatkan kopi.

Ketika kami menyampaikan maksud untuk menjadikan Wulan sebagai anak asuh kami di Pesantren Kopi Berbagi sekaligus menyerahkan donasinya, mereka berbinar dan terlihat sangat senang (entah senang atas donasi atau kabar akan kami masukkan sebagai anak asuh kami).

Obrolan terakhir sebelum pamit pulang, saya bertanya pada Wulan "Ramadhan tahun ini doa Wulan apa?" Dengan senyum polosnya dia berkata "Ada Dua. Satu ingin mendoakan ibuk, bapak, kakak, dan kakek agar bisa tersenyum menemui Allah. Dua, semoga tahun ini Wulan dapat rejeki dari Allah untuk memperbaiki rumah agar nenek tidak kedinginan ketika tidur dan dapurnya bisa diperbaiki agar tidak batuk-batuk karena asap tidak masuk kamar". Kami pun mengamininya dengan segenap hati kami.

Kami pun pamit pulang. Dari awal pertemuan, saya berusaha membendung dan selalu berusaha tersenyum dan tertawa sebab kami tidak ingin membawa warna kesedihan dan ratapan pada mereka, namun dalam perjalanan pulang, saya benar-benar sudah tidak dapat membendungnya lagi, air mata kami tak mampu tertahan lagi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x