Asep Wijaya
Asep Wijaya pengelola cum penulis di komenfilm.co

penikmat buku dan film - pengelola cum penulis di komenfilm.co, @wijayasep

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

"Bumi Manusia" dan Upayanya Merumuskan Konsep Pribadi Unggul

11 Juli 2018   00:58 Diperbarui: 12 Juli 2018   00:40 1897 1 0
"Bumi Manusia" dan Upayanya Merumuskan Konsep Pribadi Unggul
koleksi pribadi

Di tengah percakapannya dengan seorang gundik kaya, Minke tetiba teringat sebuah tulisan: 

Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, peradabanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput (halaman 165) 

Ya, pemahaman kita akan manusia dan setumpuk persoalannya tidak akan pernah paripurna. Itu juga yang menjadi inti cerita mendiang Pramoedya Ananta Toer dalam romannya yang terkenal: Bumi Manusia. 

Lewat tokoh utamanya, Minke, dan pertemuannya dengan para tokoh lainnya beserta karakternya masing-masing, Bumi Manusia mengajak kita mendalami pengetahuan mengenai manusia. 

Namun pergumulan kita dengan manusia dan aneka permasalahannya itu tidak sebatas celoteh atau ocehan yang tidak keruan. Bumi Manusia menawarkan konsep pribadi unggul yang semestinya melekat pada diri setiap orang, terutama mereka yang mengaku terpelajar. 

Adalah Minke, remaja kelahiran 31 Agustus 1880, yang menjadi petualang pencari konsep pribadi unggul itu. Siswa Hogere Burgerschool (H.B.S) Surabaya itu tidak pernah menyangka, pertemuannya dengan seorang gundik kaya sangat memengaruhi kelanjutan hidupnya. 

Berawal dari ajakan teman sekelasnya Robert Suurhof ke kediaman teman Belandanya di Wonokromo, Surabaya, cara pandang Minke lambat laun berkembang. Remaja 18 tahun itu tidak pernah menyangka akan mendapati pengalaman istimewa berkunjung ke sebuah rumah megah. 

Itulah kediaman Nyai Ontosoroh, seorang selir (dari pria Belanda) yang banyak dikagumi orang, berwajah rupawan, berusia tiga-puluhan, dan pengendali utama Boerderij Buitenzorg, sebuah perusahaan pertanian seluas 180 hektare. 

Memang kehadiran Minke di sana hanya mengantarkan Robert Suurhof yang mau bertemu anak sulung nyai, Robert Mellema. Tetapi tanpa diduga, anak kedua nyai, Annelies Mellema lebih suka berbincang dengan Minke ketimbang dengan Robert Suurhof yang sebenarnya menyukai Annelies. 

Dan rupanya, pertemuan dengan Annelies menjadi berkah tersendiri buat Minke. Impiannya bertemu dengan Ratu Belanda mulai tergantikan setelah menatap wajah Annelies yang memenuhi standar kecantikan Minke. 

Rumusannya cantiknya adalah letak dan bentuk tulang yang tepat, diikat oleh lapisan daging yang tepat pula, kulit yang halus-lembut, mata yang bersinar, dan bibir yang pandai berbisik. Itu semua ada pada diri Noni Belanda itu.

Apalagi diketahui kemudian, Annelies yang kelakuannya kebocah-bocahan di hadapan mamanya itu bisa mengatur pekerjaan pertanian yang begitu banyak, menunggang kuda, dan memerah susu sapi. Ditambah lagi ia mendaku dirinya sebagai seorang Pribumi meskipun ia adalah Noni Belanda Peranakan. 

Perempuan yang usianya empat tahun lebih muda dari kakaknya Robert Mellema itu kian memesona Minke setelah ia mengeluarkan kalimat penunjuk pribadi unggul: 

Kau harus berterimakasih pada segala yang memberimu kehidupan, sekali pun dia hanya seekor kuda (50)  

Barangkali keistimewaan itu juga yang memberanikan Minke mencium Annelies di pertemuannya yang pertama tersebut. Dan Annelies tampak tidak keberatan dengan laku lancang itu lantaran ia sendiri juga diam-diam mencintai Minke. 

Namun yang membuat Minke terkagum-kagum bukan cuma penampilan Annelies yang gemilang, melainkan kehadiran sosok mamanya, Nyai Ontosoroh. 

Wanita bernama asli Sanikem itu dandanannya rapi, wajahnya jernih, senyumnya keibuan, riasnya sederhana, kelihatan manis dan muda, berkulit langsat, dan bahasa Belandanya baik. 

Padahal ia cuma seorang gundik, seorang nyai dari hartawan Belanda yang tidak mengenal perkawinan syah, melahirkan anak-anak tidak syah, sejenis manusia dengan kadar kesusilaan rendah, menjual kehormatan untuk kehidupan senang dan mewah. 

Tetapi bagaimana mungkin ia menuturkan bahasa Belanda yang fasih, baik, dan beradab, sikapnya pada anaknya halus dan bijaksana, serta terbuka? Kategori yang sangat jauh dari wanita Pribumi kebanyakan pada zaman itu.  

Pantas kiranya jika Minke merasa dirinya berada dalam genggamannya. Seorang gundik yang biasanya bertingkat susila rendah, jorok, tanpa kebudayaan, dan perhatiannya hanya pada berahi semata ternyata tampak terpelajar, cerdas, dan dapat melayani beberapa orang sekaligus dengan sikap yang berbeda-beda, 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3