Politik

"Check-Up"

13 September 2017   10:00 Diperbarui: 13 September 2017   10:19 572 0 0

Banyak orang yang merasa tubuhnya sehat bugar, tidak mempunyai penyakit. Apalagi seringkali mendapat pujian; makin mudo se apak mah!, tambah tuo tambah baminyak, sehat bana bantuaknyo. Pujian itu kadang membuat lupa diri. Lepas kontrol terhadap hal-hal yang menimbulkan penyakit. Karena merasa sehat semua disikat. Rasa percaya diri sehat itu pula membuat orang tidak mau melakukan ceck kesehatan secara berkala apalagi melakukan general medical check up. Ketidakmauan itu dikarenakan sudah merasa sehat. Hampir tiap hari ada orang yang memuji perfomancenya. Tetapi ketidakmauan itu karena takut jika diperiksa nanti ketahuan banyak penyakit sesungguhnya. Sakit Jantung, Tekanan Darah Tinggi, bahkan mungkin saja mengidap Kanker stadium 3.

Padahal tujuan pemeriksaan kesehatan itu adalah agar seseorang itu benar-benar sehat lahir dan bathin. Tidak sebatas penampilan yang bugar tetapi sesungguhnya mengidap penyakit berbahaya. Ada standar orang itu dinyatakan benar-benar sehat, dan ketika tidak mencapai standar itu maka orang itu akan diberi pengobatan atau disuruh mengikuti terapi. Dan obat itu biasanya pahit, suntik itu perih dan terapi itu membosankan. Tetapi dengan semua itu akankah kita tetap tidak mau melakukan pemeriksaan kesehatan.

Apakah kita akan membenci profesi orang kesehatan? Jawabannya terserah anda lah, mau terlihat sehat atau sehat benaran. Saya mengibaratkan para pejabat negara atau pejabat publik juga seperti itu. Ada yang sangat suka melakukan pemeriksaan kesehatan, setiap melihat petugas kesehatan selalu minta diceck tekanan dan gula darahnya. Adapula yang alergi dan malas diperiksa tekanan dan gula darahnya. Ada pejabat yang hanya ingin semua berita itu yang baik-baik saja. Puja puji setinggi langit walau faktanya biasa saja. Bagi mereka dunia ini bagai disurga yang berhias keindahan dan kesempurnaan. Dan inilah yang disebut pencitraan.

Ketika satu saja berita yang mengabarkan tentang sebuah kekurangan maka dunia seperti mengalami SOB atau state of emergency. Warga diperingatkan untuk tidak melakukan aktifitas tertentu, tidak boleh memberikan sembarangan informasi kepada media. Seakan negeri ini dalam keadaan darurat (staat van oorlog en beleg). Mereka mencari-cari siapa yang membocorkan informasi itu kepada wartawan. Padahal "badnews" itu adalah ibarat penyakit yang terdeteksi yang disampaikan untuk diobati.

Kecil atau besar penyakit yang terdeteksi itu harus segera diobati. Agar badan itu benar-benar sehat. Kalau pun tidak mau berterimakasih telah diberitahu, obatilah yang sakit itu, perbaikilah yang salah itu, penuhilah yang kurang itu. Bayangkan jika kita tidak tahu ada penyakit yang diderita atau penyakit itu sengaja ditutup-tutupi, selalu dilapisi bedak dan parfum maka ketika badan tak sanggup lagi memikul penyakit-penyakit itu maka disanalah titik akhirnya. #sarapanpagi

Lubuk Basung, 28 agustus 2017