Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Wanita Artikel Utama

Triyaningsih, Pejuang dari Salatiga Menantang Dunia

17 Agustus 2015   01:09 Diperbarui: 17 Agustus 2015   11:01 1805 43 41

Triyaningsih Dengan Merah putih Di Tubuhnya (Foto: dok.kompas.com)

Triyaningsih, gadis berumur 28 tahun yang bertubuh mungil, berkulit sawo matang dan besar di kota Salatiga ini, rupanya memiliki nyali sekaligus daya juang melebihi berat tubuhnya. Terbukti, prestasinya di bidang atletik , khususnya di nomor lari jarak menengah / jauh mampu melibas pelari lainnya di Asia Tenggara.

Berkat sosok Triyaningsih ini, lagu Indonesia Raya kerap berkumandang di berbagai event internasional. Ia memang pejuang di masa damai, lewat dua kakinya yang kokoh, dirinya mampu meredam kemampuan pelari- pelari manca negara. Lewat dua kakinya pula, dia menorehkan prestasi yang menggiurkan.

Siapa sebenarnya Triyaningsih ? Ia sebenarnya hanyalah seorang anak kecil biasa, lahir di dusun Batok, Cangkiran, Mijen, Kota Semarang tanggal 15 Mei 1987. Kebetulan dirinya adalah adik kandung Ruwiyati, pelari marathon yang pernah memecahkan rekor SEA Games di Chiang Mai Thailand tahun 1995. Ruwiyatilah yang menjadi inspirasinya untuk menjadi pejuang bangsa di olahraga.

Adalah Alwi Mugiyanto orang pertama yang menemukan Triyaningsih, sekaligus memolesnya menjadi atlet internasional. Alwi yang merupakan pelatih Klub Atletik Locomotive Kota Salatiga. Alwi (biasa disapa begitu) adalah orang “gila “ yang menghabiskan nyaris sepanjang hidupnya untuk menggeluti atletik. Dari lomba- lomba lari tingkat kelurahan di tahun 1990 an, menjelang tahun 2000 an atlet- atletnya sudah Berjaya di level nasional.

Alwi yang meninggal tahun  2012, kebetulan menjadi pelatih Ruwiyati saat usia Triyaningsih masih balita. Hingga usia Triyaningsih memasuki 12 tahun, gadis dengan tinggi 147 cm itu diboyongnya ke Salatiga. Kendati nalurinya sebagai pelatih mengatakan Triyaningsih memiliki potensi sebagai pelari jarak menengah dan jauh (marathon), tetapi awal berlatih, Alwi selama tiga bulan hanya dilatih di nomor jalan cepat. Bukan tanpa sebab hal itu dilakukan, permasalahannya, Alwi ingin bibit unggulnya bisa menyerasikan gerakan tangannya terlebih dulu.

“Saya tak mau sembarangan memolesnya. Agar otot- otot kakinya tidak kaget, saya selama tiga bulan harus melatihnya berjalan cepat,” kata Alwi semasa hidupnya yang kebetulan saya kenal sejak tahun 1985 ini.

Mulai Berprestasi

Menjalani rutinitas latihan yang menjemukan, rupanya tak membuat Triyani yang saat itu masih kelas I SMP merasa bosan. Hingga tiga bulan berlalu, ia mulai diarahkan ke nomor 10 kilo meter (10 K). Selama tiga bulan berlatih di nomor jarak menengah, ternyata prestasi Triyani membuat pelatihnya terkesima. Ketika diturunkan di lomba lari 10 K di Bukittinggi mau pun 10 K di Riau, ia berhasil mengalahkan atlet- atlet pelatnas SEA Games dan menyabet juara 1.

Usai memenangkan berbagai lomba 10 K, Alwi mulai berani menurunkan Triyaningsih di event nasional. Bisa dikatakan, nyaris semua event nasional sudah dilahapnya. Untuk nomor 5.000 dan 10.000 meter, praktis dirinya tak mempunyai lawan. Untuk itulah, Alwi mulai berfikir mengirim Triyaningsih ke hajatan olahraga internasional. Sayang, faktor usia yang masih terlalu muda, belakangan membuat Alwi berfikir dua kali. “ Saya khawatir ia cedera,” ungkapnya singkat.

Hingga usianya menginjak 16 tahun, Alwi nekad memasukkan Triyaningsih ke dalam barisan atlet SEA Games di Vietnam yang berlangsung tahun 2003. Kendati berada di urutan keempat, namun ia berhasil memecahkan rekornas di nomor 5.000 meter dengan catatan waktu 16 menit 21 detik. Maklum, saat itu mental dan nyalinya belum siap bertarung melawan pelari- pelari Asia Tenggara. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, ia sebenarnya masuk kembali ke Pelatnas SEA Games, sayang karena dianggap kurang disiplin, namanya dicoret PB PASI.

Gagal mengikuti SEA Games tahun 2005,tak membuat Triyaningsih patah semangat. Di bawah asuhan Alwi Mugiyanto, ia terus berlatih di komplek makam Ngebong, Sidorejo, Kota Salatiga. Baik pagi mau pun sore hari, tubuhnya selalu bermandi peluh. Di lokasi latihan, bagi Triyaningsih tidak ada kosa kata menyerah. Meski kaos dan celananya selalu basah kuyup akibat keringat, dirinya tetap menempuh porsi latihan yang diberikan pelatihnya.

Hingga tahun 2007, Triyaningsih kembali dipanggil untuk memperkuat pasukan Indonesia di SEA Games yang berlangsung di  Thailand. Terkait hal tersebut, ia berlatih keras melebihi atlet normal lainnya. Hasilnya, dirinya mampu memecahkan rekornas nomor 5.000 meter dengan catatan waktu 15 menit 54 detik. Tahun 2009, di event yang sama, Triyaningsih turun di nomor 5.000 meter dan 10.000 meter. Prestasinya lumayan, dua medali emas disabetnya.

Menanjaknya prestasi Triyaningsih, akhirnya membuat KONI mau pun PB PASI “kesengsem”. Ia menjadi salah satu langganan atlet yang bertarung di ajang SEA Games. Bahkan, di SEA Games tahun 2011 yang berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan, dirinya diturunkan di tiga nomor , yakni 5.000 meter, 10.000 meter dan Marathon (42.195 kilo meter). Jika ditotal, selama berlangsungnya SEA Games, dia berlari sejauh 57.185 kilo meter !.

Dilatih Ruwiyati

2012, Triyaningsih sempat mengikuti Olimpiade di London. Turun di nomor Marathon, ia memasuki finish di urutan 84.  Nampaknya, meski Berjaya di level Asia Tenggara, dirinya masih merasa minder bertarung dengan atlet- atlet dunia. Maklum, jangkauan langkah kakinya sangat jauh berbeda dibanding atlet- atlet bule. Ketika pelari bule satu langkah, Triyaningsih harus mengayun kaki dua langkah.

Semenjak Alwi, sang pelatih meninggal akibat terkena kanker getah bening, praktis Triyaningsih dilatih oleh kakak kandungnya sendiri, yakni Ruwiyati. Tahun 2013, di SEA Games yang berlangsung di Myanmar, ia menyabet medali emas di nomor 10.000 meter. Selain kalungan medali, lagu Indonesia Raya juga berkumandang diiringi bendera merah putih yang berkibar- kibar.

Harusnya, Triyaningsih tahun 2014 mengikuti Asian Games di Korea Selatan, celakanya, berdasarkan diagnose dokter, ia mengalami cedera hingga harus menjalani perawatan medis secara intensif dan diawasi dua orang ahli dari Australia serta Inggris. Untuk itu, dirinya menunda kesempatan berlaga di pesta olahraga tingkat Asia.

Hingga memasuki Juni 2015, Triyaningsih kembali memperkuat tim Indonesia di SEA Games yang berlangsung di Singapura. Turun di nomor 5.000 meter dan 10.000 meter, ia mampu memaksa lagu Indonesia Raya berkumandang saat penyerahan medali emas. Dengan perolehan medali ini, berarti Triyani sudah mengoleksi 10 emas di ajang SEA Games.

Di bawah asuhan Ruwiyati, Triyaningsih mematok target medali emas di SEA Games 2017 yang bakal berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia dan Asian Games tahun 2018 yang bila tak berubah bakal digelar di Indonesia. Untuk itu, ia dirinya terus berlatih keras demi nama Indonesia.

Diakui atau tidak, prestasi Triyaningsih telah menginspirasi banyak wanita di Republik ini. Ukuran yang tubuh mungil, namun tak menghalanginya berjuang untuk nama besar sebuah bangsa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Dengan kaki- kakinya yang relatif kecil, dirinya menjadi “pejuang” yang pantang menyerah. Demi satu, yakni merah putih ! (*)