Mohon tunggu...
Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Mohon Tunggu... Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Markas Demit Ini Akan Difungsikan jadi Rumah Singgah

28 Februari 2016   14:29 Diperbarui: 28 Februari 2016   14:36 1195 32 27 Mohon Tunggu...

[caption caption="Begini penampakan Pondok Boro sekarang (foto: bamset)"][/caption]Setelah 11 tahun mangkrak, bangunan Pondok Boro dan hanya jadi sarang demit, akhirnya akan difungsikan menjadi rumah singgah bagi orang- orang yang mengalami masalah sosial. Kendati begitu, realisasinya harus menunggu cukup lama karena pihak pemerintah kota (Pemkot) Salatiga bakal merenovasinya terlebih dulu.

Bangunan Pondok Boro yang terletak di Jalan Hasanudin, Ngawen, Sidomukti, Kota Salatiga atau berada di jalur menuju obyek wisata Kopeng, kondisinya sangat memperihatinkan. Minggu (28/2) siang, saat saya bertandang, terlihat tingkat kerusakan yang sangat parah. Selain genting- gentingnya banyak yang bocor, iternit remuk, kusen keropos dan aroma pesing juga menyebar ke segenap penjuru. Sementara tumbuhan liar sangat subur tanpa perlu pupuk. Sepertinya lokasi ini  telah menjadi markas besar kaum demit, karena nuansa angker berkolaborasi mistis  sangat terasa.

[caption caption="Sudah jadi markas besar kaum lelembut (foto: bamset)"]

[/caption]Padahal, Pondok Boro yang dibangun tahun 2005 ini, sejak awal belum pernah dimanfaatkan. Pasalnya, lokasinya yang jauh dari pusat kota, membuat para pedagang kecil enggan menginap. “ Kalau tarifnya murah, tapi ongkos transportnya tak cukup Rp 10 ribu, jatuhnya ya tetap mahal mas,” kata Sumiyati (45) pedagang di Pasar Raya I Salatiga yang berasal dari Klaten.

Sumiyati yang statusnya merupakan pedagang perantau, seminggu sekali pulang ke kampung halamannya. Sehari-hari, ia lebih suka kos di kawasan Ngentak, Kutowinangun, Tingkir, kota Salatiga yang tarifnya hanya Rp 200 ribu/ bulan. Agar semakin ngirit, kamar berukuran 3 X 3 Meter ditempatinya dengan temannya yang berasal dari delanggu, Klaten. “ Karena hanya untuk tidur dan mandi saja, maka kita nyari kos yang paling murah,” jelasnya.

Berkaitan dengan rencana menjadikan Pondok Boro sebagai rumah singgah ini, dibenarkan oleh Kepala Dinsosnaker Kota salatiga Joko Nur. Menurutnya, rumah singgah akan sangat bermanfaat bagi pengemis, gelandangan mau pun  anak jalanan. Untuk itu, pihaknya sudah membahasnya dalam Musrebang tahun 2015 lalu, tinggal menunggu persetujuan dewan untuk anggarannya.

[caption caption="Bangunan belakang sudah sangat angker (foto: bamset)"]

[/caption]Pondok Boro Tempo Dulu

Konsep Pondok Boro yang digagas Pemkot Salatiga di tahun 2005, sebenarnya mengadopsi penginapan murah bagi pedagang perantau mau pun rakyat kecil yang membutuhkan sarana menginap yang tarifnya sangat terjangkau. Semisal Pondok Boro ini mampu beroperasi, paling banter tarifnya hanya Rp 10 ribu permalam. Sayang, posisinya yang jauh dari pusat kota membuat orang malas bermalam.

Di tahun 1970-an, Pondok Boro merupakan lokasi penginapan favorit bagi pedagang dari luar kota. Dengan tarif menginap hanya Rp 10,00, (sepuluh rupiah) para pedagang perantauan sudah bisa melepas penatnya. Tentunya jangan berharap fasilitas yang tersedia cukup memadai. Sebab, yang namanya kamar tidur sangat diharamkan di tempat ini. Pedagang tidur beramai-ramai di atas bale kayu besar, begitu pun saat akan membersihkan tubuh, mereka harus mandi berjamaah atau menunggu kamar mandi kosong.

[caption caption="Kondisi kios- kiosnya sudah sangat menyedihkan (foto: bamset)"]

[/caption]Pondok Boro, sepanjang yang saya ketahui adalah rumah bagi perantau (boro).  Tempo dulu, penginapan murah meriah ini biasanya berada di dekat pusat perekonomian. Di Salatiga, Pondok Boro berada di kampung Pancuran atau di belakang Pasar Raya II. Di kelola oleh pemiliknya sendiri, saban malam sedikitnya terdapat 50 orang yang menginap. Hingga memasuki tahun 2000 an, hotel rakyat tersebut tutup karena pemiliknya meninggal dunia. Terakhir ditutup, tarifnya sebesar Rp 2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah).

Mendengar Pondok Boro sudah tidak ada lagi, Walikota Salatiga alm H. Totok Mintarto (waktu itu) berkeinginan mewujutkan kembali adanya penginapan murah bagi kaum marjinal. Untuk itu, dengan anggaran sekitar Rp 500 juta, dibangunlah Pondok Boro yang menempati lahan negara. Sayang, konsep yang bagus tersebut, kurang diminati para pedagang. Mereka lebih memilih kos di dekat pasar, sehingga tak membutuhkan ongkos transport.

[caption caption="Bagian atapnya sudah remuk tak berbentuk (foto: bamset)"]

[/caption]Hingga tahun 2007 lalu, Dinas Pasar dan PKL Kota Salatiga mengambil alih pengelolaan Pondok Boro. Dengan dana APBD yang cukup lumayan besar, bangunan yang terdiri atas puluhan kamar dipugar menjadi kios-kios berukuran 3 x 2,5 m. Selain dilengkapi pintu rolling door, listrik dan air (PDAM), lokasi ini difungsikan menjadi pusat tanaman hias. Hasilnya ? Sepi pembeli, sehingga satu persatu pedagang tanaman meninggalkan kiosnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN